Tak bisa dibantah, ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. Idealnya, bayi mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan. Namun, ada kalanya pemberian ASI tidak mencukupi kebutuhan bayi. Tanda bahwa ASI tidak lagi cukup, bayi akan mengalami failure to thrive (FTT) atau weight faltering. Dalam bahasa Indonesia, ini sering disebut sebagai gagal tumbuh. Namun istilah yang lebih tepat yakni kenaikan berat badan yang tidak sesuai dari yang seharusnya.

 

Untuk lebih memahami tentang gagal tumbuh, apa penyebab dan cara mencegahnya, berikut penjelasan Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik dari FKUI/RSCM, dalam diskusi yang diselenggarakan pada Senin (13/8) di Jakarta.

Baca juga: Jangan Anggap Sepele Jika Anak Bertubuh Pendek!
 

Tanda Awal Gagal Tumbuh

Mums sudah harus waspada ketika berat badan bayi turun atau tidak bertambah. Kejadian ini, menurut dr. Damayanti, paling sering terjadi di usia 3 bulan, saat bayi masih mendapat ASI. Secara kasat mata, anak yang mengalami weight faltering tidak tampak berbeda. Pun dengan anak stunting, ia tidak terlihat kurus atau peyot, hanya pendek saja. Ini cuma bisa diketahui dengan mengamati grafik pertumbuhan. Inilah pentingnya bayi ditimbang di Posyandu setiap bulan.

 

Dokter Damayanti pernah melakukan penelitian pada 100 ibu hamil, yang dipantau sejak trimester akhir kehamilan, dan dimotivasi untuk memberikan ASI eksklusif. “Ternyata saat bayi berusia 3 bulan, 33% bayi kenaikan berat badannya tidak cukup dan semakin lama jarak dengan kenaikan berat badan normal semakin jauh. Sedangkan yang mengalami kejadian tidak naik berat badan di usia 6 bulan angkanya mencapai 68%. Artinya, asupan dari ASI tidak cukup untuk tumbuh,” paparnya.

Baca juga: Waspada Mums, Cacingan Membuat si Kecil Tumbuh Stunting!

 

 

 

Apa Dampak Berat Badan Tidak Naik?

Bila weight faltering dibiarkan, lama-kelamaan keseimbangan hormon terganggu, sehingga anak menjadi pendek. Hal ini terjadi karena mekanisme ‘kompensasi’. Agar tubuh tidak terlihat kurus, akhirnya pertumbuhan tinggi badan ikut berhenti atau berjalan sangat lambat, sehingga anak menjadi pendek. Akhirnya pada usia 18 bulan, anak sudah mengalami stunting.

 

Dokter Damayanti menegaskan, tanda-tanda malnutrisi tahap awal harus dideteksi. Orang tua harus cermat memerhatikan bila ada penurunan atau kenaikan berat badan yang tidak sesuai. “Begitu berat badan tidak naik, jangan tunggu lama. Harus langsung ke dokter,” tandasnya. Ini harus diatasi sebelum masa perkembangan otak berakhir, yakni di usia 2 tahun. Untuk tinggi badan, masih ada kesempatan kedua saat growth spurt kedua, yaitu menjelang pubertas.

 

Makanan untuk Mencegah Gagal Tumbuh

Salah satu penyebab weight faltering maupun stunting adalah pemberian MPASI tidak tepat waktu atau tidak cukup. Pada anak di usia ASI eksklusif, pertama kali perlu dievaluasi cara ibu memberi ASI. “Perbaiki posisi menyusui dan pelekatan payudara, perhatikan selama dua minggu,” ucap dr. Damayanti. Bila berat badan berhasil naik, ASI tinggal dilanjutkan.

 

Ini yang penting Mums, bila berat badan tetap atau turun, ASI tetap dilanjutkan, tetapi dengan ditambah asupan lain. “Bila usia anak masih kurang dari 4 bulan, belum boleh mendapat makanan. Pilihannya adalah mendapatkan donor ASI yang aman atau susu formula dengan standar CODEX,” terangnya. 

 

Lantas, makanan apa yang harus diberikan untuk pemulihan? Prinsipnya, harus melengkapi zat gizi yang tidak cukup dari ASI. Komposisinya mengacu pada ASI dan kualitasnya harus sebaik ASI. Ini tidak bisa dicukupi hanya dengan tepung beras, bubur kacang hijau, atau puree sayur dan buah.

Baca juga: Tata Cara Pemberian MPASI untuk Bayi 6 Bulan

 

Komposisi ASI terdiri dari 55% lemak, 30% karbohidrat, dan lebih dari 5% protein. Komposisi zat gizi ini merupakan makronutrisi yang bermanfaat untuk pembentukan otak dan pertumbuhan tinggi badan. Makanan pemulihan harus mengandung protein hewani dan energi yang cukup. Sumber protein hewani terbaik yakni whey protein, telur, susu, ikan, ayam, dan terakhir daging merah.

 

"Bila tidak memungkinkan MPASI rumahan, WHO memperbolehkan MPASI yang sesuai dengan Codex. Produk dengan izin edar BPOM pasti sudah mengikuti Codex,” papar dr. Damayanti. Codex adalah aturan produk makanan yang sesuai dengan ketentuan WHO dan FAO.

 

Nah Mums, jangan sepelekan jika di usia 3 bulan berat badan bayi tidak naik. Jika dibiarkan, berat badan akan semakin tertinggal dengan anak-anak lainnya, dan terjadi gagal tumbuh. Jika memang ASI Mums tidak cukup, segera cari solusi dengan berkonsultasi kepada dokter anak. (AY/AS)

 

 

 7 Zat Gizi yang Membuat Anak Cerdas - Guesehat