Desainer kondang, Kate Spade (55) ditemukan oleh asisten rumah tangganya dalam kondisi gantung diri di apartemen Park Avenue, New York, Selasa (05/06/2018), pukul 10.20  waktu setempat. Pendiri perusahaan tas Kate Spade New York yang telah memiliki lebih dari 140 toko ritel dan outlet di seluruh Amerika Serikat serta lebih dari 175 cabang toko internasional ini, meninggalkan seorang suami, Andy Spade, dan seorang putri bernama Frances Beatrix Spade (13). Dugaan bahwa Kate memendam masalah psikologis pun merebak di kalangan masyarakat, hingga akhirnya pihak keluarga Kate turut mengonfirmasi. Lalu, benarkah perancang yang baru saja meluncurkan merek fesyen terbaru Frances Valentine ini diam-diam bergelut dengan kendala psikologis? Simak penjelasan selengkapnya!

Baca juga: Pengakuan Mariah Carey Melawan Gangguan Bipolar

 

Kate Spade Didiagnosis Penyakit Bipolar

Dilansir dari kansascity.com, saudara perempuan mendiang Kate, Reta Brosnahan Saffo mengkonfirmasi bahwa Kate memang menderita gangguan bipolar selama 3-4 tahun terakhir. Namun, jalan pintas yang dipilih Kate sangatlah tidak diduga oleh Reta. Seluruh anggota keluarga telah berupaya maksimal untuk menyembuhkan kakak ipar dari aktor Hollywood David Spade ini. “Sayangnya, kami bahkan tidak dapat menyelamatkan Kate dari dirinya sendiri,” ungkap Reta, dalam kondisi sangat berduka.

 

Reta yang berdomisili di Napa, California, mengaku sangat sering bolak-balik ke New York untuk mendampingi Kate demi menjalani rawat inap di rumah sakit. Tidak ada yang menduga, di balik sosoknya yang periang, seluruh tekanan bisnis dari merk ternama yang Kate besarkan, justru berbalik menjadi serangan depresi manik yang menderanya selama bertahun-tahun.

Reta bahkan ikut mendaftarkan Kate ke klinik rehabilitasi ternama dengan program pengobatan bipolar yang sudah sukses mengobati selebritis sekaliber Catherine Zeta-Jones. Tentunya seluruh perawatan ini dirahasiakan oleh pihak keluarga, atas permintaan Kate. “Ia mengkhawatirkan dampak dari profil penyakitnya terhadap citra ‘Kate Spade’ yang sarat akan kesan bahagia,” imbuh Reta.

 

Pihak media pun menanyakan, apakah Kate sebelumnya pernah menunjukkan tanda-tanda bunuh diri. Menanggapi hal ini, Reta pun teringat kembali bagaimana Kate sempat terdiam lama saat mengetahui berita bunuh diri aktor Robin Williams, Agustus 2014 silam. “Sepertinya rencana bunuh diri ini menjadi opsi yang telah ia pilih, jika tidak sanggup menangani penyakitnya lagi,” papar Reta. Menurutnya, bipolar yang diidap oleh Kate sangat memengaruhinya. Tak jarang, Kate beralih pada minuman alkohol demi mengurangi dampak dari serangan depresi yang ia alami.

Baca juga: 5 Tanda Anda Mengalami Depresi

 

Bunuh diri dan depresi

Menurut American Foundation for Suicide Prevention (AFSP), bunuh diri akibat depresi  menjadi penyebab kematian ke-10 di Amerika Serikat. Setiap tahun, sekitar 44.965 jiwa meregang nyawa akibat bunuh diri di negara tetangga Kanada ini. Pasca menyampaikan rasa belasungkawa pada keluarga Kate Spade, perwakilan AFSP pun mengeluarkan pernyataan, “Bunuh diri adalah hasil dari sekian banyak faktor psikologis seperti kondisi kesehatan mental yang kurang stabil, tekanan hidup, hingga kemudahan akses untuk melakukan bunuh diri. Setiap orang semestinya berkontribusi lebih maksimal demi mencegah terulanginya kematian tragis seperti ini di kemudian hari. Milikilah kesadaran yang besar tentang kesehatan mental. Pahamilah risiko dan gejala umum dari depresi. Serta berikanlah dukungan dalam bentuk intervensi positif dan perawatan profesional yang efektif.”

 

Cegah bunuh diri, dampingi penderita depresi sejak dini 

Psikolog Dian Ibung, Psi. selaku editor expert GueSehat ikut menanggapi, "Persentase penderita depresi bipolar yang melakukan bunuh diri, memang cenderung lebih tinggi, dibandingkan dengan penderita masalah psikologis lainnya. Karena itu, orang-orang yang memiliki hubungan atau kontak dengan penderita, sebaiknya cepat tanggap dan lebih peka terhadap situasi mereka," saran Dian. Kenapa pihak keluarga atau sahabat harus lebih sigap menyikapi hal ini? Karena, menurut Dian, biasanya pelaku bunuh diri sudah memberikan tanda-tanda yang menunjukkan bahwa ia tertarik untuk melakukan tindakan tersebut melalui indikasi situasional, emosi, perkataan, maupun tingkah laku.

 

Kasus bunuh diri tinggi di kalangan penderita gangguan mental dibandingkan dengan penderita penyakit fisik karena keluhan dan penanganan terhadap penyakit fisik memiliki harapan hidup yang lebih besar. "Berbeda dengan permasalahan yang dialami oleh penderita masalah psikologis. Apa yang dialami oleh satu penderita gangguan psikis, bisa jauh berbeda dengan masalah yang dihadapi pasien lainnya," imbuh Dian. Sehingga metode pengobatannya pun sulit untuk diseragamkan.

 

Sayangnya, hal ini terkadang justru diterjemahkan sebagai ketidakpastian bagi penderita terhadap penyelesaian masalahnya. Tak jarang, keluhan mereka pun semakin bertambah. "Kondisi-kondisi inilah yang pada akhirnya menciptakan situasi tidak menyenangkan dan mengarahkan penderita untuk mengambil solusi tercepat yang mereka anggap lebih nyata, yaitu bunuh diri," pungkas Dian.

 

Kepergian Kate Spade seolah membuka mata seluruh dunia, bahwa masalah psikologis bisa menimpa siapa saja. Mulai dari masyarakat umum hingga kalangan pesohor. Masalah yang mengancam kondisi mental manusia ini, memang sama sekali tidak boleh dianggap sepele. Sudah saatnya semua orang lebih peduli pada gangguan mental seperti depresi, dan segera memberikan bantuan pengobatan pada anggota keluarga yang mengalaminya, bukan justru mengucilkannya karena stigma. (TA/AY)

Baca juga: Penyebab Depresi dan Dorongan Bunuh Diri pada Orang Sukses

Kebiasaan yang Merusak Mental - Guesehat