Halo, Geng Sehat! Kali ini saya akan cerita tentang pengalaman menggunakan kawat gigi dan beberapa saat setelah melepas kawat gigi. Saya juga sudah pernah menulis tentang saat-saat membuat keputusan untuk memakai kawat gigi. Jangan lupa dibaca di sini, ya! Artikel itu dibuat sekitar satu tahun yang lalu. Setelah menggunakannya selama satu tahun, sekarang saya sudah tidak menggunakan kawat gigi lagi! 

 

Saya menggunakan kawat gigi dengan jenis damon sejak bulan Agustus 2017. Kala itu, terdapat dua jenis kawat gigi yang ditawarkan oleh dokter gigi, yaitu jenis kawat biasa (yang menggunakan karet) dan jenis kawat damon. Saya memutuskan untuk menggunakan kawat damon, karena dikatakan bisa lebih meredam nyeri dan masa pakainya bisa lebih cepat. Ditambah lagi dengan struktur gigi saya yang akan lebih diuntungkan jika menggunakan kawat gigi jenis damon.

 

Untuk hal ini, konsultasikan jenis kawat yang Kamu perlukan dengan dokter gigimu, ya! Selain itu, jenis kawat damon juga memerlukan kita untuk merogoh kocek lebih dalam daripada jenis kawat biasa. Kontrol per bulan juga memerlukan biaya sekitar 300-500 ribu rupiah, tergantung tarif dokter yang menangani Geng Sehat.

 

Baca juga: Berapa Sih Usia Ideal untuk Memasang Kawat Gigi?

 

Selama menggunakan kawat, saya tidak menemukan kesulitan makan yang berarti dalam keseharian saya. Nyeri yang sangat mengganggu hanya dirasakan saat seminggu pertama pemasangan kawat. Namun, selanjutnya saya sudah bisa makan makanan dengan beragam tekstur tanpa rasa nyeri.

 

Kalau kata orang dengan menggunakan kawat gigi bisa bikin kurus, dalam aspek ini tidak berpengaruh terhadap diri saya! Malah sepertinya mulut saya cukup sensitif dengan adanya benda asing ini di dalam mulut, sehingga saya sering sekali mengalami seriawan.

 

Seriawan bisa terjadi di banyak tempat, sangat dalam sehingga sudah bisa disebut ulkus, dan sangat nyeri. Kalau sudah seperti ini, saya hanya bisa minum susu dan sereal saja, deh. Sakit sekali! Oleh karena itu, saya tidak sabar untuk melepasnya cepat-cepat.

 

Beberapa minggu sebelum melepas kawat gigi, ada beberapa perbaikan minor yang dilakukan. Saya semakin rutin menggunakan karet, yang lagi-lagi rasanya cukup sakit. Sampai akhirnya saya diberi info untuk pemesanan retainer dan memilih jenis retainer yang diinginkan.

 

Jenis yang ditawarkan antara lain berupa segaris kawat yang dipasang di bagian depan gigi dan yang jenisnya transparan seperti plastik keras, sesuai dengan cetakan gigi. Kedua jenis ini merupakan jenis yang bisa dilepas saat makan.

 

Baca juga: Habis Bleaching, Gigi Kok Jadi Lebih Sensitif?

 

Namun, ada beberapa teman yang menggunkan retainer permanen berupa segaris kawat yang dipasang di belakang gigi, sehingga tidak terlihat. Namun, ternyata tidak semua gigi cocok dengan jenis ini. Saya juga bukan kandidat yang cocok, karena gigi saya rentan berantakan.

 

Fakta lain lagi untuk saya, ternyata retainer juga tidak murah, lho! Cetak retainer di laboratorium dikenakan harga 1,6-2 juta rupiah per rahangnya. Jadi untuk mencetak rahang atas dan bawah, silahkan dihitung sendiri. Dokter gigi saya pun hanya tersenyum. Beliau mengatakan, kalau pemasangan kawat gigi memang cukup merogoh kocek di awal dan di akhir perawatannya!

 

Sekarang, saya sudah menggunakan retainer. Retainer yang digunakan berjenis transparan, sehingga tidak ada orang yang sadar kalau saya menggunakannya. Namun, saya memang harus melepasnya setiap kali makan. Kadang saya jadi malas makan karenanya. Dokter gigi saya menganjurkan untuk selalu memakai retainer setiap hari, kecuali saat makan, selama dua tahun. Setelah itu, baru boleh digunakan di malam hari saja. Perjalanan yang panjang, bukan?

 

Tipsnya, carilah dokter gigi yang mau menjelaskan dan enak untuk diajak berdiskusi. Sebagai pasien, saya memiliki keinginan tersendiri. Namun jika tidak sesuai dengan indikasi medis, dokter gigi pun akan menyarankan solusi yang lebih baik. Semoga sharing saya berguna untuk Geng Sehat!

 

Baca juga: Bau Mulut Tidak Selalu Karena Malas Sikat Gigi!

 

Kebiasaan yang Memperparah Gigi Sensitif - GueSehat.com