Pentingnya Me Time untuk Ibu? rasanya sudah tidak terfikir lagi, kira-kira sudah berapa lama ya tidak me-time sejak melahirkan anak? 3 bulan, 6 bulan, atau bahkan setahun? Ya! Jika Anda adalah ibu rumah tangga yang mengurus anak sendiri tanpa pengasuh, mungkin memiliki waktu untuk diri sendiri sudah hampir tidak ada lagi sejak anak Anda lahir ke dunia. Inilah yang pernah saya alami. Sudah hampir setahun rasanya belum bisa punya waktu untuk me-time betulan.Padahal banyak langkah mudah untuk melakukan relaksasi dirumah. Sejak Elika lahir, jangankan me-time, ke luar rumah pun kadang masih tetap diisi untuk mengurusi pekerjaan atau meeting (kebetulan saya adalah ibu rumah tangga yang memiliki pekerjaan freelance yang dapat dikerjakan dari rumah). Padahal rasanya ingin bisa pergi ke salon, spa, atau bahkan tidur siang tanpa diganggu rengekan bayi meminta diajak main atau disusui.

Jangan abaikan pentingnya me time untuk Ibu rumah Tangga

Jenuh, menjadi mudah lelah, mudah marah, mudah sakit, bahkan sampai merasa stress mungkin sudah pernah saya rasakan semuanya. Ditambah lagi, kebetulan sampai sudah hampir setahun ini, Elika masih terus terbangun beberapa jam sekali saat tidur malam sehingga ketika saya bangun pagi pun, rasanya masih capeeek sekali. Belum lagi siangnya dia aktif sekali karena sudah mau belajar jalan. Ketika hanya berdua saja di rumah, sampai kadang sudah bingung mau mengajak main bagaimana lagi karena kadang-kadang bosan juga. Biasanya nanti suami yang menjadi pelampiasan kebosanan saya. Teringat waktu dulu, seorang sahabat yang juga full-time mom, namun memiliki pengasuh untuk anaknya berkata, "Sebenernya sih anak semua aku yang urusin, cuma kalau lagi capek banget, punya baby sitter ini penting banget buat gantian ngajak main biar kita tetep waras." Dan ketimbang ibu bekerja, yang masih bisa keluar rumah, bertemu teman-teman, berjalan-jalan, dan melakukan pekerjaan yang disenangi, ibu penuh waktu atau full-time mom atau stay-at-home mom, lebih membutuhkan me time. Kami, bisa dikatakan, 24 jam sehari, 7 hari seminggu, menghadapi anak-anak lengkap dengan segala problematikanya. Saat ini memang saya merasa belum butuh baby sitter, cuma rasa-rasanya ingin sesekali menitipkan anak ke orang tua sebentar untuk me-time, relaksasi, dan aktualisasi diri lagi. Pentingnya Me time untuk ibu rumah tangga bukan berarti mengesampingkan kodrat sebagai seorang ibu. Ini hanya sebentuk penyeimbang agar ibu juga terpenuhi kebutuhannya, kebutuhan untuk beristirahat dan menyegarkan diri agar kembali bersemangat menjalani rutinitas. Orang kerja saja butuh liburan. Kenapa ibu rumah tangga tidak? Untung suami saya juga tidak full-time worker yang harus ke kantor dari Senin sampai Jumat dari pukul 8 pagi sampai 5 sore, sehingga sesekali saya memintanya untuk gantian menjaga Elika, sementara saya sesekali nonton drama seri favorit saya tanpa diganggu. Meskipun akhirnya tetap saja, pikiran tertuju ke Elika karena masih mendengar suaranya merengek di ruang tamu ketika bersama Ayahnya membuat rencana me-time saya gagal terus. Mungkin lain kali harus mencoba me time di luar rumah agar lebih khusuk dan relax. Haha. Seperti katakan  Anna Surti Ariani, psikolog dari Medicare Clinic, “Me time adalah sarana untuk membebaskan diri dari rutinitas sehari-hari guna mendapatkan energi baru untuk menghadapi rutinitas itu lagi."  Manfaat positif dari me time tidak hanya dirasakan oleh istri, tapi juga suami, dan anggota keluarga lain. Misalnya ketika istri menyadari pentingnya me time bagi Ibu dan menghilang untuk beberapa saat, suami berkesempatan untuk lebih dekat dengan anak dan mengetahui keadaan rumah tangga. Jika selama itu anak-anak lebih lengket dengan ibunya, inilah saat para suami untuk mengambil hati anak. Sepulang me time, istri tentu lebih segar dan relaks. Sehingga hubungan dengan suami dan anak yang terkadang menguras emosi akan lebih 'cair'.