Area kewanitaan merupakan bagian yang sensitif sekaligus vital bagi setiap wanita. Karenanya, penting untuk memerhatikan kebersihan di area intim ini. Pasalnya, kebersihan area kewanitaan yang buruk, akan memicu berbagai masalah di antaranya infeksi.

 

Organ intim wanita itu tidak hanya yang tampak di permukaan, melainkan hingga ke bagian dalam, yakni liang vagina. Dalam kondisi normal, organ intim wanita memiliki tingkat keasaman yang berbeda dengan organ tubuh lainnya. Menurut dr. Mery Sulastri, spesialis urologi, idealnya, kandungan pH yang sehat di sekitar organ intim berada di angka 3,8–4,2. Keseimbangan pH alami ini perlu dijaga, agar bakteri baik tetap mendominasi.

 

Seluruh bakteri baik ini berfungsi untuk mencegah area kewanitaan dari berbagai risiko infeksi. Mums perlu mengajarkan cara  menjaga kebersihan area kewanitaan, kepada si Kecil sejak dini. Kebiasaan menjaga kebersihan organ kewanitaan sejak dini, ini akan berpengaruh besar pada kondisi kesehatan seksual anak perempuan saat ia beranjak dewasa kelak.

 

Sayangnya, tidak semua orang tua mengajarkan isu yang cukup sensitif ini pada anak perempuannya. Mungkin masih ada rasa sungkan atau tabu. Bahkan di negara maju sekalipun. Menurut hasil riset Burnet Institute, Australia, pada  tahun 2015, 3 dari 10 anak perempuan di kota serta 6 dari 10 anak perempuan di desa, umumnya mengganti pembalut kurang dari 2 kali sehari.

 

Sementara penelitian UNICEF di Indonesia pada tahun yang sama melaporkan, hanya sekitar 60% remaja wanita di perkotaan yang mendapat sumber informasi dari ibu mereka mengenai kebersihan organ intim di masa menstruasi.  Sedangkan di desa, hanya 58% remaja putri yang mendapatkan pengarahan serupa. Inilah sebabnya, para dokter menganjurkan setiap ibu untuk mengajarkan kebersihan organ kewanitaan pada anak perempuan sejak usia dini. 

Baca juga: Perlukah Merawat Organ Intim dengan Pembersih Khusus?

 

 

Baca juga: 8 Tips Mendidik Anak-anak Perempuan 

 

Ada banyak faktor yang dapat mengganggu keseimbangan bakteri di dalam liang vagina. Misalnya penggunaan sabun yang tidak tepat. Sabun yang biasa digunakan untuk mandi, umumnya memiliki kandungan pH 9–10. Pada kondisi tertentu, misalnya karena aktif berolahraga atau tengah menstruasi, kadar Ph juga dapat berubah. Saat menstruasi pH meningkat menjadi 7,4. Hal-hal lain, seperti gaya hidup tidak sehat, personal hygiene yang buruk, gangguan hormonal, penggunaan antibiotik, serta penyakit kronik seperti diabetes juga memengaruhi kondisi keasaman organ intim.

 

Tips Mengajarkan Personal Hygiene pada Anak Perempuan

dr. Mery membagikan tips bagaimana mengajarkan menjaga kebersihan organ intim pada anak perempuan. Dimulai saat mengenalkan toilet training pada si Kecil. Biasakan si Kecil untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah membersihkan organ intim dan ajarkan untuk selalu membersihkan area kewanitaan, baik selepas ia berkemih ataupun buang air besar.

 

Cara membersihkan yang benar adalah dari arah depan ke belakang. Hal ini bertujuan kuman di anus tidak terbawa ke vagina. Setelah itu, keringkan organ intim menggunakan handuk atau tisu lembut sekali pakai. Membersihkan organ intim dengan air bersih saja sudah cukup, Mums. Jangan biasakan menggunakan sabun. Gunakanlah cairan antiseptik khusus pembersih kewanitaan, saat anak sudah menstruasi.

 

Pilihkan pakaian dalam untuk anak wanita yang dapat menyerap keringat, agar tidak menambah kelembaban di area kewanitaan. Sebaiknya, hindarilah pakaian dalam yang terlalu ketat atau yang berbahan dasar nylon. 

 

Ketika anak mulai memasuki periode menstruasi pertamanya, ajarkan untuk mengganti pembalut setiap 3 jam sekali, terlepas dari deras atau tidaknya darah haid yang ditampung oleh pembalut. Pembalut yang digunakan lebih dari 3 jam, merupakan ladang subur bagi bakteri dan kuman untuk berkembang biak. 

 

Mejaga kebersihan organ intim merupakan kemampuan  yang harus dimiliki seorang anak, perempuan maupun laki-laki. Banyak gangguan kesehatan seksual yang terjadi pada perempuan dewasa, dipicu oleh pola higienitas area kewanitaan yang buruk di masa kecil. Bekali si Kecil dengan pengetahuan kesehatan seksual yang tepat, dan sesuai dengan usianya untuk meminimalisasi risiko yang dapat terjadi. (TA/AY)

Baca juga: Sering Gatal saat Menggunakan Pembalut? Bisa Jadi Alergi!