Minggu lalu, hakim pengadilan Los Angeles memberikan peringatan keras bahwa semua gerai kopi di wilayah tersebut, termasuk Starbucks, harus mencantumkan label bahaya kanker di kemasan kopi yang dijual. Pasalnya, kopi dinilai mengandung zat karsinogen acrylamide (akrilamida), yang berpotensi menyebabkan kanker. Namun, perusahaan kopi membantah. Mereka menegaskan, meski kopi memiliki kemungkinan mengandung akrilamida, kandungannya tidak cukup tinggi untuk bisa meningkatkan risiko kanker.

 

Gugatan ini awalnya diberikan oleh Dewan Pendidikan dan Penelitian tentang Racun kepada 91 perusahaan kopi, karena tidak mencantumkan pemberitahuan kepada konsumen tentang munculnya zat akrilamida dalam proses pemanggangan biji kopi.

 

Namun, menurut American Cancer Society, meski zat akrilamida terbukti menimbulkan risiko kanker pada tikus jika terpapar dengan kandungan yang tinggi, tidak ada penelitian yang menunjukkan hal serupa terhadap manusia. Sayangnya, pengadilan Los Angeles mengatakan bahwa perusahaan kopi tidak pernah membuktikan jika kadar akrilamida di dalam kopi yang mereka jual berada pada kandungan yang aman.

 

Kasus ini cukup membingungkan dan merisaukan para pencinta kopi. Apa iya mulai sekarang Geng Sehat harus berhenti minum kopi? Apa benar kopi berbahaya bagi kesehatan? Jangan panik dulu ya, Gengs! Seperti dilansir dari Live Science, berikut penjelasan lengkap dari sisi sains tentang zat akrilamida pada kopi, yang disebut-sebut bisa meningkatkan risiko kanker.

Baca juga: Kalori dan Nutrisi pada Kopi

 

 

Apa Itu Akrilamida?

Meskipun gugatan dan peringatan yang diberikan oleh hakim pengadilan Los Angeles hanya berfokus pada biji kopi, zat azrylamide sebenarnya juga terdapat pada beberapa jenis makanan yang dimasak dan asap rokok. Zat tersebut terbentuk ketika makanan, terutama yang mengandung tepung, seperti kentang goreng, keripik kentang, sereal sarapan, dan lainnya, dipanaskan dengan temperatur yang tinggi.

 

Akrilamida juga digunakan pada beberapa industri untuk membuat polyacrylamide dan acrylamide copolymers, yaitu zat-zat yang digunakan untuk memproduksi kertas, cat pewarna, dan plastik. Menurut National Cancer Institue (NCI), akrilamida memang banyak digunakan pada berbagai macam industri, tetapi manusia lebih sering terekspos zat tersebut lewat asap rokok dan makanan.

 

Menurut penelitian pada 20014 dan 2008, orang bisa menurunkan kadar akrilamida dengan mengurangi konsumsi makanan bertepung yang dijadikan keripik dan dipanggang. Berhenti merokok juga harus dilakukan, karena berdasarkan ulasan dalam jurnal Nutrition and Cancer, dalam darah seorang perokok terkandung akrilamida 3–5 kali lipat lebih tinggi ketimbang orang yang tidak merokok.

Baca juga: Aturan Konsumsi Protein Saat Puasa

 

Apakah Akrilamida Meningkatkan Risiko Kanker? 

Menurut NCI, setelah masuk ke tubuh, akrilamida diubah menjadi glycidamide, senyawa yang bisa menyebabkan mutasi dan kerusakan DNA. Namun meski paparan akrilamida disebut-sebut bisa meningkatkan risiko kanker pada hewan, belum ada yang bisa memastikan dampaknya terhadap manusia.

 

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa akrilamida bisa meningkatkan risiko kanker pada manusia. Namun, penelitian lain juga mengklaim bahwa zat tersebut tidak memiliki dampak yang signifikan terhadap tubuh. Menurut ahli, peneliti sulit menemukan jawabannya karena tidak mudah untuk menentukan jumlah kandungan akrilamida yang masuk ke dalam sistem tubuh seseorang. Selain itu, manusia dan hewan juga menyerap dan memetabolisme akrilamida dengan cara yang berbeda.

 

Karena terbukti memiliki risiko kanker pada hewan, akrilamida dimasukkan ke dalam daftar zat karsinogen berbahaya oleh International Agency for Research on Cancer (IARC), agensi kesehatan di bawah naungan World Health Organization (WHO). Namun, kopi sendiri tidak termasuk ke dalam daftar karsinogen WHO.

 

Bahkan, WHO memaparkan bahwa konsumsi kopi secara rutin bisa menurunkan risiko kanker hati dan beberapa penyakit kronis lainnya. Selain itu, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa minum kopi bisa menurunkan risiko kanker usus besar, kanker endometrial, dan kanker kulit.

Baca juga: Suka Kopi, Apa Saja yang Harus Diperhatikan?

 

Jadi, seperti yang sudah dijelaskan di atas, zat akrilamida memang dianggap dapat meningkatkan risiko kanker. Namun, kopi sendiri sudah terbukti bukanlah minuman yang berbahaya. Menurut John Ioannidis, seorang profesor dan peneliti kesehatan dari Stanford University, orang-orang tidak perlu mengkhawatirkan hal ini. Ia mengatakan, jumlah akrilamida di dalam kopi sangatlah rendah, sehingga sulit untuk mengklaim bahwa minuman tersebut bisa meningkatkan risiko kanker.

 

Lagipula, tambah John, masih banyak hal lain yang dapat meningkatkan risiko kanker, misalnya merokok. Kopi termasuk dalam asupan yang aman jika kita berbicara tentang risiko kanker. Oleh sebab itu, Kamu tidak perlu khawatir. Minumlah kopi seperti biasa! (UH/AS)

 

Kanker Paling Langka di Dunia - guesehat.com