PMS (pre-menstruasi syndrome) sulit untuk dipisahkan dari siklus biologis wanita. Menurut Mayo Clinic, PMS muncul lewat beragam gejala, mulai dari perubahan suasana hati, napsu makan yang meningkat, kelelahan, sakit kepala, kram perut, timbulnya jerawat, hingga adanya gejala kecemasan, depresi, dan insomnia.

 

Sejumlah sindrom yang terjadi jelang masa menstruasi ini, dapat sangat memengaruhi kondisi fisik, emosional, dan psikologis wanita. Termasuk pengaruhnya terhadap kenaikan tekanan darah. Sebuah studi menemukan bahwa wanita PMS lebih rentan mengalami hipertensi

 

Peneliti dari Universitas Massachusetts Amherst,  Amerika Serikat bekerja sama dengan Harvard School of Public Health mengamati lebih dari 1000 wanita usia 25- 42 tahun, untuk dilihat kaitan antara PMD dengan kenaikan tekanan darah. Hasil penelitian menunjukkan wanita yang sering mengalami gejala PMS secara intens berisiko 40% lebih tinggi terkena hipertensi selama 20 tahun ke depan dibandingkan wanita yang tidak mengalami gejala PMS yang signifikan.

 

Wanita yang berisiko lebih tinggi terkena hipertensi ini juga harus mewaspadai risiko gangguan jantung dan stroke, karena hipertensi adalah salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular.

 

Baca juga: 7 Cara Hadapi Wanita PMS

Diketahui pula melalui penelitian yang berlangsung selama 20 tahun ini bahwa risiko hipertensi paling besar terjadi pada wanita PMS yang berusia di bawah 40 tahun. Risiko hipertensi pada wanita PMS tetap lebih tinggi meski para peneliti telah membandingkannya dengan sejumlah faktor lain. Contohnya seperti faktor obesitas, kebiasaan merokok, mengonsumsi minuman beralkohol, jarang berolahraga, penggunaan pil KB, terapi hormon pasca menopause, dan riwayat penyakit hipertensi dalam keluarga.

 

“Penemuan ini mengindikasikan bahwa pentingnya melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh pada wanita untuk memantau risiko hipertensi dari waktu ke waktu,“ saran Elizabeth Bertone-Johnson, seorang ahli epidemiologi di Universitas Massachusetts Amherst selaku pimpinan riset. Hasil studi ini telah dipublikasikan di American Journal of Epidemiology.

Baca juga: Ketahui Siklus Menstruasi Wanita Sesuai Umur


Menurunkan Risiko Hipertensi pada Wanita PMS


Ada beberapa cara meringankan gejala PMS, sekaligus menurunkan risiko hipertensi di kemudian hari. Mengonsumsi makanan dengan kandungan zat besi tinggi adalah salah satunya. Vitamin B kompleks juga dapat menurunkan risiko terjadinya PMS sekitar 25-35%. 

 

Wanita juga disarankan memiliki waktu tidur berkualitas minimal 8 jam sehari serta  rajin berolahraga untuk menjaga kesehatan fisik dan mental selama masa menstruasi. PMS yang disertai rasa tidak nyaman di perut bisa diredakan dengan melakukan pijat relaksasi atau obat pereda sakit seperti aspirin, ibuprofen, atau paracetamol.

 

Gejala PMS sebenarnya merupakan hal yang lazim dialami oleh wanita pada umumnya di masa menstruasi. PMS bukan gejala klinis yang mengindikasikan adanya penyakit atau kelainan di tubuh. Tercatat hanya ada sekitar 2-10% kasus PMS yang cukup parah. Namun, dengan adanya hasil penelitian ini, tidak ada salahnya jika wanita mulai lebih memperhatikan makanan dan minuman dikonsumsi pada masa menstruasi, agar gejala PMS dan risiko hipertensi dapat dikurangi. (TA/AY)

Baca juga: Pria Juga Bisa PMS, Lho!