Penyakit

Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK / COPD)

Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) merupakan istilah yang digunakan untuk penyakit yang menyerang paru-paru dalam jangka panjang. Penyakit ini menghalangi aliran udara dari dalam paru-paru sehingga pengidap akan mengalami kesulitan dalam bernapas.

PPOK umumnya merupakan kombinasi dari dua penyakit pernapasan, yaitu bronkitis kronis dan emfisema. Bronkitis adalah infeksi pada saluran udara menuju paru-paru yang menyebabkan pembengkakan dinding bronkus dan produksi cairan di saluran udara berlebihan. Sedangkan emfisema adalah kondisi rusaknya kantung-kantung udara pada paru-paru yang terjadi secara bertahap. Kantung udara tersebut akan menggelembung dan mengempis seiring kita menarik dan mengembuskan napas. Kelenturan kantung udara akan menurun jika seseorang mengidap emfisema, akibatnya jumlah udara yang masuk akan menurun.

Ada beberapa langkah sederhana yang bisa kita lakukan untuk menghambat bertambahnya kerusakan pada paru-paru. Beberapa di antaranya adalah:
- Menggunakan obat-obatan sesuai anjuran dokter. Jangan berhenti tanpa berdiskusi dengan dokter meski kondisi Anda terasa membaik.
- Memeriksakan diri secara berkala ke dokter agar kondisi kesehatan Anda bisa dipantau.
- Menerapkan gaya hidup yang sehat, seperti menjaga pola makan yang sehat dan rutin berolahraga.
- Menghindari polusi udara, misalnya asap rokok serta asap kendaraan bermotor.
- Menjalani vaksinasi secara rutin, contohnya vaksin flu dan vaksin pneumokokus.

Terdapat sejumlah gejala PPOK yang bisa terjadi dan sebaiknya diwaspadai, yaitu:
- Batuk berdahak yang tidak kunjung sembuh.
- Makin sering tersengal-sengal, bahkan saat melakukan aktivitas fisik yang ringan seperti memasak atau mengenakan pakaian.
- Mengi atau napas sesak dan berbunyi.
- Lemas.
- Sering mengalami infeksi paru.
- Penurunan berat badan.

PPOK bisa disebabkan oleh berbagai hal. Sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengidap PPOK meliputi:

  • Rokok. Paparan asap rokok pada perokok aktif maupun pasif merupakan faktor utama penyebab PPOK serta sejumlah penyakit pernapasan lainnya. Diperkirakan, sekitar satu dari empat orang perokok aktif mengidap PPOK.
  • Paparan polusi udara, misalnya asap kendaraan bermotor, debu, atau bahan kimia.
  • Usia. PPOK akan berkembang secara perlahan selama bertahun-tahun. Gejala penyakit umumnya muncul pada pengidap yang berusia 35 hingga 40 tahun.
  • Faktor keturunan. Jika memiliki anggota keluarga yang mengidap PPOK, maka orang tersebut memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena penyakit yang sama.

Dokter umumnya mendiagnosis PPOK dengan menanyakan gejala-gejala, memeriksa kondisi fisik pasien, dan tes pernapasan. Pemeriksaan fisik termasuk pemeriksaan bunyi tarikan napas melalui stetoskop dan indeks massa tubuh. Riwayat merokok juga akan ditanyakan.

Tes pernapasan akan dilakukan dengan spirometer (pemeriksaan spirometri), yaitu alat untuk mengukur fungsi paru melalui embusan napas pada mesin. Dua jenis embusan napas yang akan diukur, yaitu embusan napas cepat dalam satu detik dan jumlah total embusan napas panjang hingga habis dari paru-paru.

PPOK merupakan penyakit paru kronik progresif dan nonreversibel, sehingga penatalaksanaan PPOK terbagi atas penatalaksanaan pada keadaan stabil dan penatalaksanaan pada eksaserbasi akut. Tujuan umum penatalaksanaan PPOK adalah untuk mengurangi gejala, mencegah eksaserbasi berulang, memperbaiki dan mencegah penurunan fatal paru, serta meningkatkan kualitas hidup penderita. Penatalaksanaan meliputi edukasi, obat-obatan, terapi oksigen, ventilasi mekanik, nutrisi dan rehabilitasi.

Direktori

    Proses...