Penyakit

Asma Bronkhiale

Asma adalah suatu kondisi ketika saluran pernapasan mengalami penyempitan dan pembengkakan, serta menghasilkan lendir berlebih. Hal ini dapat menyebabkan kesulitan bernapas, memicu batuk, maupun mengi. Bagi sebagian orang, asma adalah gangguan kecil. Tetapi bagi yang lainnya, ini bisa menjadi masalah besar karena mengganggu aktivitas sehari-hari dan mengancam jiwa.

Asma tidak bisa disembuhkan, tetapi gejalanya dapat dikontrol. Karena gejalanya sering berubah-ubah dari waktu ke waktu, penderita harus berkonsultasi kepada dokter secara berkala, agar pengobatannya dapat disesuaikan serta mencegah masalah pernapasan lebih lanjut.

Asma dapat terjadi pada semua usia, meskipun cenderung lebih sering terjadi pada orang-orang dengan usia di bawah 40 tahun. Menurut Centers for Disease Control pada tahun 2013, sekitar 8,2% dari populasi orang dewasa memiliki asma. Dan, orang-orang yang memiliki riwayat keluarga menderita asma, umumnya berisiko terserang penyakit ini pula. Asma juga kerap terjadi bersamaan dengan alergi.

 

Meski tidak ada cara untuk mencegah penyakit asma, Kamu dapat bekerja sama dengan dokter untuk menyiapkan beberapa langkah, guna mengidentifikasi kondisi Kamu dan mencegah serangan asma terjadi. Langkah-langkah tersebut ialah:

  • Penyakit asma perlu dimonitor dan diberikan penanganan secara berkala. Karenanya, bersama dengan dokter, buatlah rancangan secara detail tentang pengobatan apa saja yang akan dilakukan dan bagaimana mengatasi serangan asma yang terjadi. Dengan begitu, Kamu pun dapat menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa.

  • Mendapatkan vaksin untuk mencegah penyakit influenza dan pneumonia, yang merupakan pemicu paling umum dari asma.

  • Ada beberapa alergen dan hal yang memicu asma, misalnya debu, polusi, cuaca panas atau dingin, dan lain-lain. Oleh sebab itu, identifikasi dan hindari penyebab atau hal-hal yang memperparah asma.

  • Kamu dapat belajar mengenali gejala-gejala awal asma, seperti batuk, bersin, atau bernapas pendek-pendek. Namun karena fungsi paru-paru biasanya akan menurun sebelum Kamu menyadari gejala-gejala tersebut, maka ukur dan rekam volume aliran udara pada saat bernapas menggunakan alat peak flow meter secara berkala.

  • Jika Kamu bertindak secara cepat saat serangan asma berlangsung, maka Kamu dapat meredam masalah-masalah yang lebih berat. Misalnya, ketika aliran udara berkurang dan menyadari asma Kamu akan kambuh, segera lakukan pengobatan sesuai instruksi, lalu berhentilah melakukan aktivitas yang dapat memicu serangan. Jika gejala-gejala asma tidak berkurang, Kamu bisa segera pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

  • Walaupun serangan asma yang dialami berangsur-angsur berkurang, bukan berarti Kamu bisa langsung berhenti melakukan pengobatan. Berkonsultasilah terlebih dahulu kepada dokter sebelum berhenti atau mengganti pengobatan.

  • Perhatikan penggunaan inhaler secara seksama. Apabila Kamu menggunakannya lebih sering dari biasanya, maka ada kemungkinan asma yang Kamu alami semakin parah. Segera konsultasikan kepada dokter jika mengalami hal tersebut.

 

Gejala asma berbeda pada tiap-tiap orang. Bisa jadi Kamu jarang mengalaminya, gejalanya hanya muncul pada waktu tertentu, atau malah timbul setiap waktu. Gejala asma yang umum terjadi yaitu:

  • Bernapas pendek-pendek.

  • Dada terasa sesak atau sakit.

  • Kesulitan tidur akibat sesak napas.

  • Ketika mengembuskan napas, berbunyi seperti siulan atau mengi.

  • Pilek, batuk, dan bersin-bersin.

Bagi sebagian orang, gejala asma dipicu oleh beberapa situasi, seperti:

  • Olahraga, dan akan semakin memburuk ketika udara sedang dingin dan kering.

  • Tempat bekerja, misalnya lokasinya terpapar oleh bahan kimia, gas, atau debu.

  • Muncul bersamaan dengan alergi, contohnya dipicu oleh polusi, jamur, bulu atau air liur hewan, dan lain-lain.

 

 

Hingga kini masih belum jelas mengapa sebagian orang mengalami asma, sedangkan yang lainnya tidak. Namun, kemungkinan ini terjadi akibat kombinasi faktor lingkungan dan genetik. Respons imun tubuh yang berlebihan dinilai mampu menyebabkan penyempitan saluran pernapasan akibat pembengkakan selaput lendir dan jaringan di bawahnya. Selain itu, terekspos beberapa hal dan pemicu alergi juga bisa menyebabkan asma, misalnya:

  1. Serbuk sari, jamur, serta bulu atau air liur hewan.

  2. Infeksi pernapasan, misalnya flu.

  3. Aktivitas fisik.

  4. Udara dingin.

  5. Polusi udara dan asap rokok.

  6. Obat-obatan tertentu, misalnya aspirin, ibuprofen, dan naproxen.

  7. Emosi yang kuat dan stres.

  8. Makanan berbahan pengawet dan jenis makanan atau minuman tertentu, seperti udang, bir, dan wine.

  9. Mengalami gastroesophageal reflux disease (GERD), yaitu kondisi ketika asam lambung naik ke tenggorokan.

 

 

Untuk melihat kemungkinan masalah kesehatan lain, misalnya infeksi pernapasan atau chronic obstructive pulmonary disease (COPD), dokter akan melakukan pemeriksaan fisik serta menanyakan gejala dan masalah kesehatan lain yang Kamu alami.

Kamu juga akan melakukan tes fungsi paru, yang meliputi tes sprirometri dan peak flow. Tes spirometri berfungsi untuk mengukur seberapa banyak udara yang dapat Kamu embuskan dalam satu detik dan berapa jumlah keseluruhan udara yang mampu diembuskan. Nantinya, data yang didapatkan akan dibandingkan dengan data dari orang-orang yang sehat dan seusia dengan Kamu. Tes menggunakan peak flow meter juga akan dilakukan untuk mengukur seberapa cepat udara keluar ketika Kamu mengembuskan napas.

Selain kedua tes tersebut, ada tes-tes lain yang akan direkomendasikan oleh dokter guna memastikan apakah Kamu mengalami asma atau tidak. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Pemeriksaan penanda alergi. Pemeriksaan ini dapat berupa tes kulit atau tes darah. Pemeriksaan ini dapat mengidentifikasi apakah asma disebabkan oleh alergi. Lalu, dokter juga bisa mengetahui alergen jenis apa yang memicu Kamu mengalami asma, apakah hewan, debu, jamur, atau serbuk sari.

  2. Tes peradangan pada saluran napas. Pada tes ini, dokter akan mengukur jumlah oksida nitrat dalam napas ketika Kamu bernapas. Dokter juga akan mengambil sampel dahak. Jika kadar oksida nitrat tinggi, itu merupakan salah satu tanda adanya peradangan pada saluran pernapasan.

  3. Tes responsif saluran napas. Tes ini berfungsi untuk melihat bagaimana saluran pernapasan bereaksi terhadap pemicu asma.

  4. CT Scan dan pemeriksaan rontgen. Apabila dicurigai gejala sesak napas bukanlah disebabkan oleh asma, maka dokter akan melakukan 2 pemeriksaan ini.

 

Pencegahan dan pengendalian jangka panjang adalah kunci dalam menghentikan serangan asma, sebelum gejala-gejalanya muncul. Pengobatan biasanya meliputi identifikasi pemicu asma, menentukan langkah-langkah untuk menghindarinya, serta mencatat pola serangan asma untuk menyesuaikan obat yang tepat untuk menjaga penyakit selalu terkontrol.

Dalam kasus asma kambuhan, biasanya diperlukan inhaler aksi cepat, seperti albuterol. Albuterol berfungsi membuka saluran pernapasan yang mengalami penyempitan. Pemilihan obat-obatan yang tepat juga mempertimbangkan pada sejumlah hal, seperti usia pasien, gejala, dan pemicu asma. Dalam beberapa kasus, pemberian obat alergi, misalnya kortikosteroid dan leukotriene-modifier, juga diperlukan.

 

 

Rekomendasi Artikel

Batuk Tidak Kunjung Sembuh? Mungkin Ini Penyebabnya!

Batuk Tidak Kunjung Sembuh? Mungkin Ini Penyebabnya!

Batuk merupakan gangguan kesehatan yang umum terjadi. Ada berbagai jenis batuk jika dilihat dari penyebabnya. Temukan jenis dan cara mengatasinya di sini!

Jessica Christy

13 April 2017

Direktori

    Proses...