Jangan pernah merendahkan kemampuan anak-anak. Faktanya, setiap anak memiliki potensi keceradasan yang spesial, termasuk tentang kemampuan mereka untuk menganalisa sejak bayi. Sebuah studi terkini menemukan bahwa bayi berusia 21 bulan sudah dapat membedakan ciri-ciri seorang pemimpin dengan karakter seorang pembully. Ini merupakan penemuan yang cukup luar biasa, karena umumnya orang dewasa bahkan masih sulit untuk membedakan seorang pembully dengan seorang pemimpin. Lalu, bagaimana sih caranya, bayi yang belum genap berusia 2 tahun bisa membedakan kedua karakter yang bersebrangan tersebut? Simak penjelasan selengkapnya!

Baca juga: Membentuk Karakter Jujur dalam Diri si Kecil

Dilansir dari laman resmi Proceeding National Academy of Sciences of United States of America, sejumlah peneliti dari Universitas Illinois berhasil menemukan perbedaan antara kekuatan rasa hormat yang ditegaskan oleh seorang pemimpin dengan kekuatan berbasis rasa takut yang dimiliki oleh seorang pembully. Uniknya, penelitian yang baru saja dipublikasikan pada 4 September 2018 ini, menganalisa dua basis kekuatan sosial yang berbeda melalui sudut pandang bayi berusia 21 bulan.

Untuk merealisasikannya, psikolog Renee Baillargeon, menggunakan metode "Pelanggaran dan Ekspektasi" serta memanfaatkan serangkaian tayangan animasi. Pada film kartun tersebut, ditampilkan sesi interaksi antara 3 karakter yang memiliki kepribadian berbeda. Masing-masing karakter digambarkan sebagai pembully, pemimpin, dan orang yang menyenangkan. Selain itu, ketiga karakter ini juga bertugas untuk memberi perintah pada tokoh protagonis.

Dari gerak-gerik dan tatapan mata bayi selama menonton tayangan ini, para peneliti berhasil menyimpulkan bahwa bayi dapat membedakan antara seseorang yang bertindak dengan baik dan seseorang yang bertindak tidak begitu baik.

Bayi dapat mendeteksi ketika salah satu karakter tidak menaati aturan dan bertindak mengganggu karakter lainnya. "Secara umum, ketika tayangan video menampilkan karakter pemimpin sedang tidak ada di tempat, para bayi mengharapkan tokoh protagonis untuk terus mematuhi pemimpin. Namun, ketika si karakter pembully pergi, bayi-bayi tersebut tidak menunjukkan harapan khusus. Kemungkinan besar perilaku tersebut muncul karena bayi menganggap bahwa para pembully tidak memegang kekuasaan penuh atas karakter lainnya, “ ungkap Profesor Baillargeon.

Temuan ini didasarkan pada prinsip bahwa anak-anak umumnya menatap lebih lama pada hal-hal yang bertentangan dengan harapan mereka. “Misalnya, bayi akan menatap lebih lama pada adegan saat tokoh kartun karakter yang karakternya lebih dominan, tunduk pada tokoh yang lebih kecil. Mereka juga memperhatikan ketika seorang karakter yang biasanya memenangkan konfrontasi dengan karakter lain, tiba-tiba tidak muncul di beberapa adegan,” kembali Renee Baillargeon memaparkan.

Baca juga: Waspadai 4 Tipe Bulying yang Kerap Terjadi!

“Hasil riset ini dapat membuktikan bahwa bayi di tahun kedua hidupnya, sudah bisa membedakan antara pemimpin dan penindas," lanjut Baillargeon. “Bayi mengerti bahwa setiap orang harus mematuhi pemimpin, bahkan ketika mereka tidak ada. Lain halnya dengan para pembully, yang cenderung dipatuhi oleh segelintir orang, hanya ketika mereka ada, “ pungkasnya.

Baillargeon pun menjelaskan,” Arti luas dari penelitian ini adalah ketika seseorang  sering mengganggumu, orang tersebut memiliki kekuasaan atas dirimu hanya karena sebatas rasa takut yang Kamu miliki terhadap mereka. Namun ketika para pembully ini tidak ada, Kamu pun cenderung leluasa untuk melakukan apapun yang Kamu inginkan.”

Melalui penemuan ini, kita dapat belajar bahwa bayi saja bisa mendeteksi perbedaan kekuatan antara individu yang berkarakter positif dengan yang karakter negatif. Nyatanya, pemimpin yang pandai membangun rasa hormat, dapat menciptakan koneksi yang lebih kuat terhadap orang-orang yang dipimpin, ketimbang menciptakan ketaatan lewat rasa takut dan kebiasaan mengintimidasi orang lain.

Ketaatan yang muncul dari rasa takut, tidak bisa berlangsung selamanya. Sementara kepemimpinan yang baik, biasanya dapat menumbuhkan kepatuhan perilaku yang berkelanjutan. (TA/AS)

Baca juga: Ini Penyebab Seseorang Melakukan Bullying