Penyakit

Rabun Dekat (Hipermetropia)

Unsplash.com

Hipermetropia (hyperopia, rabun dekat, atau farsightedness) adalah mata dengan kekuatan lensa positif yang kurang, sehingga sinar sejajar tanpa akomodasi difokuskan di belakang retina. Hipermetropia dapat diklasifikasikan berdasarkan struktur dan fungsinya. Secara klinis, hipermetropia dapat dibagi atas simple hyperopia, di mana berkaitan dengan variasi biologis; hipermetropia patologis yang berkaitan dengan abnormal anatomi okuler karena maldevelopment, penyakit okuler, atau trauma; dan hipermetropia fungsional karena paralisis akomodasi.

Unsplash.com

Rabun dekat tidak dapat dicegah, tetapi Anda dapat melindungi mata dan penglihatan dengan cara rutin memeriksakan mata dan kondisi kesehatan kronis lain, sebab beberapa penyakit kronis dapat memacu kerusakan pada mata; mengenali gejala terkait gangguan pada mata; melindungi mata dari sinar matahari langsung, khususnya ketika melakukan aktivitas di luar ruangan dalam waktu yang lama; mengonsumsi makanan yang sehat dan bernutrisi khususnya yang mampu menutrisi mata seperti wortel; serta menggunakan penerangan atau pencahayaan yang baik.

Unsplash.com

Gejala yang timbul pada hipermetropia beragam pada setiap orang. Gejala umum yang sering timbul antara lain sakit kepala, ketegangan pada mata, lebih sering memicingkan mata untuk memperjelas penglihatan, penglihatan kabur, terutama untuk benda-benda yang dekat, dan sensitif terhadap cahaya.

Unsplash.com

Hipermetropia dapat disebabkan karena banyak hal, di antaranya karena:

  1. Sumbu utama bola mata yang terlalu pendek.
  2. Daya pembiasan bola mata yang terlalu lemah.
  3. Kelengkungan kornea dan lensa yang tidak adekuat,
  4. Bisa juga dikarenakan perubahan posisi lensa.

Unsplash.com

Pemeriksaan kelainan refraksi dilakukan pada satu mata secara bergantian, biasanya dimulai dengan mata kanan kemudian mata kiri. Pemeriksaan ini dilakukan setelah melakukan pemeriksaan tajam penglihatan dan diketahui terdapat kelainan refraksi. Tenaga kesehatan juga ada yang menggunakan alat pemeriksaan tertentu untuk mempelajari apa yang menyebabkan hipermetropia.

Dengan menyinari sinar khusus ke mata, retinoskop akan digunakan untuk melihat bagaimana cahaya memantul dari retina. Saat cahaya dipantulkan kembali dari dalam mata, ia dapat menunjukkan apakah seseorang rabun jauh atau rabun dekat. Untuk melakukan pemeriksaan kelainan refraksi, pasien duduk dengan jarak 6 meter dari kartu Snellen.

Kartu Snellen adalah instumen uji mata yang berbentuk kartu bertuliskan beberapa huruf dengan ukuran yang berbeda. Untuk mengetahui jumlah hipermetropia yang Anda miliki, tenaga kesehatan akan menggunakan alat yang disebut phoropter untuk menempatkan serangkaian lensa di depan mata Anda sampai Anda melihat dengan jelas. Kombinasi hasil dari kedua mata tersebut ditulis sebagai resep yang akan mengoreksi penglihatan Anda untuk membuatnya senormal mungkin.

Unsplash.com

Hipermetropia bisa dikoreksi dengan kacamata, lensa kontak, atau pembedahan. Kacamata adalah cara termudah dan teraman untuk memperbaiki hipermetropia. Lensa kontak bekerja dengan menjadi permukaan refraksi pertama untuk sinar cahaya yang masuk ke mata, menyebabkan pembiasan atau fokus yang lebih tepat. Dalam banyak kasus, lensa kontak memberikan pandangan yang lebih jelas, bidang pandang yang lebih luas, dan kenyamanan yang lebih besar. Mereka adalah pilihan yang aman dan efektif jika dipasang dan digunakan dengan benar.

Namun, lensa kontak tidak selalu tepat untuk semua orang. Perlu konsultasikan dengan tenaga kesehatan agar sesuai dengan kondisi mata. Penanganan lainnya adalah dengan pembedahan. Bedah refraksi bertujuan untuk mengubah bentuk kornea secara permanen. Pembedahan bisa menurunkan atau menghilangkan ketergantungan pada pemakaian kacamata atau lensa kontak. Ada banyak jenis operasi refraksi dan pilihan bedah, dan harus didiskusikan dengan tenaga ahli profesional untuk mata.

Direktori

    Proses...