Tujuan utama dalam penatalaksanaan diabetes melitus (DM) adalah untuk menjaga kadar glukosa darah agar tidak berlebihan, sehingga risiko terjadinya komplikasi kronis juga dapat diturunkan dan kualitas hidup penderita dapat diperbaiki.

 

Selain diet dan olahraga, penderita DM juga dapat diterapi dengan insulin atau obat-obat antidiabetes oral. Salah satu obat antidiabetes oral adalah metformin, yang direkomendasikan sebagai terapi lini pertama pada pasien dengan diabetes melitus tipe 2. Ini dapat digunakan sebagai obat tunggal maupun dikombinasikan dengan obat antidiabetes oral lainnya oleh International Diabetes Federation (IDF, 2012) dan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI, 2011).

 

Diabetes melitus merupakan penyakit kronis, sehingga membutuhkan pengobatan jangka panjang dan tentunya kesadaran serta kepatuhan pasien untuk mengonsumsi obat setiap hari. Ini dilakukan agar gula darah dapat terkontrol dan mencegah komplikasi.

Baca juga: 7 Mitos yang Salah Kaprah Tentang Obat Diabetes

 

Penggunaan metformin secara rutin dapat memberikan manfaat klinis bagi para penderita diabetes melitus tipe 2, antara lain menurunkan kadar glukosa darah, menurunkan resistensi insulin, memperbaiki profil lipid (kolesterol), menurunkan berat badan, mempunyai efek protektif pada jantung, dan lain-lain.

 

Namun selain manfaat klinis tersebut, penggunaan metformin belakangan ini diketahui dapat menurunkan kadar vitamin B12 dalam darah. Risiko defisiensi vitamin B12 karena metformin sangat dipengaruhi oleh penambahan usia, dosis yang digunakan, dan lamanya pemakaian.

 

Suatu penelitian menunjukkan bahwa 20-30 persen pasien dengan diabetes melitus yang mendapatkan terapi metformin jangka panjang mengalami defisiensi vitamin B12. Penyebab pasti metformin menyebabkan defisiensi vitamin B12 belum diketahui, tetapi kemungkinan karena metformin dapat mengganggu proses penyerapan vitamin B12 dalam usus halus.

 

Namun, hal tersebut dapat diatasi dengan pemberian suplemen vitamin B12. Metformin juga dapat mengganggu metabolisme kalsium, yang dapat berefek langsung terhadap penurunan penyerapan vitamin B12. Pasalnya, penyerapan vitamin B12 memerlukan kalsium.

Baca juga: Penggunaan Metformin dan Akarbose sebagai Obat Diabetes

 

Vitamin B12, juga dikenal dengan nama sianokobalamin atau kobalamin, memiliki peran penting dalam tubuh untuk menjaga sel-sel darah dan saraf agar bekerja dengan baik. Vitamin B12 juga dapat mencegah penyakit jantung dan kemungkinan mencegah kepikunan.

 

Vitamin ini terutama ditemukan dalam makanan seperti daging, seafood, telur, dan produk susu. Gejala yang timbul karena defisiensi atau kekurangan vitamin B12 yang ringan antara lain anemia makrositik, yang ditandai dengan adanya sel merah yang lebih besar dari ukuran normal, kelelahan, rasa lemah, napas pendek, dan gangguan detak jantung.

 

Gejala dari defisiensi vitamin B12 yang lebih berat adalah terjadinya neuropati atau memperparah neuropati yang telah diderita sebelumnya, kerusakan saraf tepi, rasa kebas, kesemutan, ataksia (berkurangnya kontrol gerakan otot), berkurang daya ingat, demensia (pikun), serta depresi.

 

Perlu diingat bahwa jika Kamu mengonsumsi metformin dan mengalami salah satu atau lebih gejala-gejala di atas, belum tentu Kamu mengalami defisiensi vitamin B12. Oleh karena itu, sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter agar penyebab dari gejala yang timbul dapat segera diketahui.

 

Gejala defisiensi vitamin B12, seperti pikun dan gangguan sistem saraf, juga sering dikaitkan dengan proses penuaan. Dokter mungkin tidak langsung mengaitkannya dengan defisiensi nutrisi. Untuk memastikan, dokter akan melakukan pengukuran kadar vitamin B12 dalam darah. Selanjutnya, akan ditentukan terapi apa yang sesuai jika memang pasien mengalami defisiensi vitamin B12.

 

Defisiensi vitamin B12 jangka panjang yang tidak diterapi dapat menyebabkan gangguan kognitif (saraf) yang tidak dapat disembuhkan, sehingga sangat penting untuk segera memulai pemberian suplemen. Untuk defisiensi ringan, dokter biasanya akan melakukan tindakan berupa pemberian vitamin B12 secara injeksi intramuskular, dengan dosis 1000 mcg per hari selama seminggu. Kemudian, akan diikuti dengan dosis yang sama satu kali seminggu selama 4 minggu berikutnya.

 

Pada defisiensi berat, tindakan yang dilakukan adalah dengan pemberian injeksi ataupun secara oral, dengan dosis 1000 mcg per hari selama seminggu. Kemudian, akan diikuti dengan dosis yang sama selama satu bulan. Sangat disarankan untuk dilanjutkan kembali satu bulan berikutnya.

 

Karena metabolisme kalsium juga dipengaruhi oleh metformin, peneliti juga menganjurkan untuk menggunakan suplemen kalsium (1.200 mg per hari), untuk memperkecil efek metformin terhadap penyerapan vitamin B12.

Baca juga: Ketahui Gejala Diabetes Melitus agar Jangan Salah Langkah!

 

Penggunaan metformin memang menimbulkan risiko terjadi defisiensi vitamin B12, tetapi manfaat klinis penggunaan metformin juga lebih banyak pada pasien diabetes melitus. Oleh karena itu, sangat tidak disarankan untuk menghentikan penggunaan metformin tanpa konsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

 

Keputusan penghentian penggunaan suatu obat hanya boleh dilakukan atas pertimbangan medis dan praktisi kesehatan, dengan mempertimbangkan rasio manfaat dan risiko yang kemungkinan muncul. Untuk pasien yang mengonsumsi metformin secara rutin, sangat direkomendasikan untuk:

  • Tetap menjaga pola makan, melakukan aktivitas fisik sesuai anjuran, dan rutin memeriksakan kadar gula darah.
  • Konsumsi metformin secara teratur bersama atau setelah makan.
  • Jika mengonsumsi metformin dalam bentuk tablet lepas lambat, tablet diminum secara utuh (jangan dikunyah), karena lapisan tablet menjaga agar obat tidak rusak dan bekerja secara efektif.
  • Konsultasi dengan dokter untuk melakukan pengukuran kadar vitamin B12 setiap tahun atau 2 kali setahun.
  • Jika perlu, konsumsi suplemen vitamin B12 1.000 mcg setiap hari dan suplemen kalsium 1.000-1.200 mg setiap hari.

 

Beberapa jenis obat dapat menyebabkan defisiensi pada satu atau lebih nutrisi yang diperlukan tubuh. Penggunaan suplemen vitamin B12 dan kalsium dapat membantu pasien yang menggunakan metformin untuk menurunkan komplikasi diabetes akibat defisiensi vitamin B12. Tentunya hal ini perlu dikonsultasikan dengan dokter yang merawat, agar dapat dilakukan terapi dengan tepat. (Team Medical/AS)

 

Referensi:
  1. Ghefreh AA. Metformin & vitamin B12 deficiency. Drug Info 2012; 1(6).
  2. Devalia V, et al. Guidelines for the diagnosis and treatment of cobalamin and folates disorders. British Journal of Haematology 2014; 166:496-513.
  3. Kibirige D, et al. Vitamin B12 deficiency among patients with diabetes mellitus: is routine screening and supplementation justified? Journal of Diabetes & Metabolic Disorders 2013; 12:17.
  4. Yunir E. Perkembangan terkini metformin sebagai obat anti diabetik oral. Dexa Media 2008; 1(21):11-14.
  5. Ndraha S. Diabetes melitus tipe 2 dan tata laksana terkini. Medicinus 2014; 27(2):9-16.
  6. Scott GN. Should patients taking metformin also taking vitamin B12? Cited from: http://www.medscape.com/viewarticle/817601 at November 2, 2015.
  7. Bauman W.A, et al. Increase Intake of Calcium Reverses Vitamin B12 Malabsorbtion Induced by Metformin. 2000. Diabetes Care 23: 1227-1231.