Gaya hidup sehat, salah satunya dengan rutin berolahraga, semakin banyak diminati masyarakat urban saat ini. Hal ini tidak terlepas dari keinginan untuk menjaga kebugaran tubuh, seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan.

 

Meski terlihat umum dilakukan, berolahraga dapat menimbulkan risiko cedera, khususnya pada bahu, tangan, dan kaki, terlebih jika tidak dilakukan dengan benar. Cedera olahraga dapat terjadi pada siapa saja, termasuk pria, wanita, anak-anak, juga orang dewasa, baik itu atlet profesional ataupun orang awam (recreational athlete).

 

Untuk lebih mengetahui tentang cedera olahraga, dr. Iman Widya Aminata, Sp. OT, Dokter Spesialis Bedah Ortopedi dan dr. Dimas R. Boedijono, Sp. OT (K), Dokter Spesialis Bedah Ortopedi Konsultan Foot & Ankle memberikan penjelasannya dalam acara diskusi bertajuk “Cedera Bahu & Kaki Akibat Olahraga” yang dilaksanakan oleh RS Pondok Indah bertempat di Hotel Pullman, Jakarta, beberapa waktu lalu. Yuk disimak, Gengs!

Baca juga: Ini 9 Teknik Berlari Supaya Tidak Cedera
 

Cedera Bahu

Cedera bahu dapat terjadi baik pada tulang maupun otot, namun struktur tulang yang lebih keras menyebabkan cedera paling sering terjadi pada otot. Peradangan otot maupun sendi akibat salah posisi, otot yang robek, atau dislokasi otot, tulang, dan sendi adalah jenis-jenis cedera yang umum terjadi saat olahraga. Kesalahan posisi bagian tubuh saat berolahraga, benturan dengan sesama pemain, teknik bermain yang kurang tepat, dan penggunaan otot yang berlebihan dapat menimbulkan cedera pada tangan dan bahu. Beberapa jenis olahraga yang dapat memicu cedera tangan dan bahu adalah golf, tenis, badminton, dan voli.

 

Penanganan cedera bahu

Cedera bahu ringan dapat diatasi dengan melakukan peregangan dan memaksimalkan kerja bahu melalui fisioterapi, sedangkan cedera akibat peradangan otot dapat diatasi dengan istirahat, penggunaan kompres es untuk meredakan nyeri, pemberian analgesik, serta terapi untuk membantu proses pemulihan bahu.

 

Menurut dr. Iman Widya Aminata, Sp. OT, untuk cedera bahu dengan kondisi tertentu seperti robeknya otot atau dislokasi bahu, pasien memerlukan diagnosa dan penanganan yang lebih komprehensif. Diagnosa dengan teknologi seperti CT Scan dapat memberikan rekonstruksi tiga dimensi untuk memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai permasalahan yang dialami. Jika kondisinya sudah sangat serius, maka bisa jadi perlu dilakukan tindakan pembedahan.

 

Penanganan cedera akibat olahraga yang tepat dan cepat sangat penting untuk meminimalkan risiko jangka panjang yang ditimbulkan. Untuk itu, perlu dilakukan berbagai upaya diagnosa, salah satunya dengan pemanfaatan teknologi medis modern seperti CT Scan atau MRI,” ujarnya.

 

Masa pemulihan cedera bahu

Masa pemulihan pasca operasi membutuhkan waktu hingga lima bulan yang meliputi masa proteksi, fase mobility untuk mengembalikan fleksibilitas bahu, fase untuk meningkatkan kekuatan bahu, dan yang terakhir adalah fase di mana pasien dapat kembali melakukan aktivitas olahraga seperti semula, dimulai dari latihan untuk non-contact sport, baru dilanjutkan dengan latihan untuk contact sport.

 

 

Cedera Kaki

Tidak hanya tangan dan bahu, kaki juga rentan terhadap cedera olahraga, terutama bagi para pemain sepak bola dan basket. Cedera olahraga pada kaki dan pergelangan kaki yang umum terjadi di antaranya adalah robeknya ligamen pergelangan kaki, cedera tendon achilles, dislokasi tendon peroneal, dan keluhan nyeri yang berhubungan dengan kondisi flatfoot atau kaki datar.

 

Penanganan cedera kaki

Sama halnya dengan cedera tangan dan bahu, penegakan diagnosis dengan memanfaatkan CT Scan, MRI, dan teknologi mutakhir lainnya juga diperlukan untuk memastikan jenis cedera dan tingkat keparahannya.

Baca juga: Penyebab dan Cara Menyembuhkan Cedera Hamstring

 

  • Metode MRI dan CT Scan

Dokter Spesialis Bedah Ortopedi Konsultan Foot & Ankle, dr. Dimas R. Boedijono, Sp. OT (K), yang berpraktik di RS Pondok Indah menjelaskan bahwa pemeriksaan MRI dan CT Scan merupakan tindakan non-invasive untuk mengetahui kondisi ligamen pergelangan kaki pasien dan melihat apakah ada cedera lainnya yang tidak terlihat saat menggunakan modalitas radiologi konvensional seperti X-ray. “Pencitraan yang lebih baik akan dapat membantu untuk menentukan apakah memerlukan tindakan pembedahan atau cukup dengan tindakan konservatif seperti fisioterapi,” terangnya.

 

Ia menambahkan, pemeriksaan MRI dilakukan apabila dicurigai terjadi cedera pada sendi, otot, ligamen, ataupun tendon untuk mendapatkan pencitraan anatomi jaringan lunak dalam tubuh dengan lebih jelas. Pemeriksaan ini dapat memberikan informasi rinci dan membantu dokter dalam menilai kondisi yang berhubungan dengan gejala, kondisi, atau cedera tertentu. Sementara pemeriksaan CT Scan dilakukan apabila dicurigai adanya cedera pada tulang. Kemampuan CT Scan dalam mengambil gambar dari berbagai sudut, termasuk gambar kondisi patah tulang yang terjadi, membantu dokter untuk mendapatkan pencitraan dengan jelas sehingga penanganan dapat diberikan lebih cepat dan tepat.

 

  • Metode Arthroscopy

Tindakan arthroscopy merupakan salah satu metode diagnosa dan penanganan minimal invasif untuk cedera serius pada bagian sendi bahu dan kaki. Tindakan ini dilakukan dengan membuat sayatan kecil untuk memasukkan kamera dan alat yang akan bekerja ke bagian persendian yang mengalami cedera. Dengan arthroscopy, pembedahan dapat dilakukan tanpa membuat sayatan besar dengan waktu pengerjaan dan waktu pemulihan pasien yang relatif lebih cepat.

 

Pada beberapa kondisi seperti adanya robekan ligamen yang membuat pergelangan kaki menjadi relatif tidak stabil dan tidak bisa melakukan gerakan tertentu yang melibatkan ketangkasan, penanganan dengan metode rekonstruksi primer dapat menjadi pilihan. Setelah dilakukan tindakan tersebut, maka diperlukan penanganan terpadu dengan bagian fisioterapi untuk mengembalikan fungsi sendi dan kebugaran pasien tersebut.

 

Gimana penjelasannya, Gengs? Lengkap kan? Jangan lupa untuk selalu melakukan upaya pencegahan agar cedera lanjutan yang lebih parah pada tubuh Kamu dapat dihindari. Salah satunya dengan menghentikan aktivitas berolahraga bila Kamu mulai merasakan sakit pada bahu, tangan, atau kaki Kamu. Konsultasikan segera dengan dokter! (WK/AY)

Baca juga: Olahraga Tanpa Alas Kaki, Terapi Akupuntur yang Menyehatkan