Penyakit

Epilepsy (Epilepsi)

Epilepsi merupakan gangguan pada sistem hantaran listrik otak. Hantaran listrik yang tidak normal dapat menimbulkan perubahan pada pergerakan, perilaku, dan sensasi. Kelompok gangguan epilepsi ditandai dengan kejang berulang. Karena epilepsi disebabkan oleh aktivitas sel otak yang tidak normal, kejang dapat memengaruhi segala aktivitas yang dikendalikan oleh otak. Gejala yang terjadi bergantung pada tipe kejang. Kejang dapat dibedakan menjadi 2 tipe, berdasarkan di bagian otak mana kejang tersebut dimulai, yaitu:

  1. Kejang Fokal

    Kejang ini berasal dari aktivitas yang tidak normal pada 1 area otak. Kejang fokal bisa dibedakan menjadi kejang fokal tanpa kehilangan kesadaran, yang disebut kejang fokal sederhana, dan kejang fokal yang disertai kehilangan kesadaran, atau disebut kejang fokal kompleks.

  2. Kejang Umum

    Kejang umum adalah kejang yang melibatkan seluruh bagian otak. Kejang umum dibedakan menjadi 6 tipe, yaitu kejang absans, kejang tonik, kejang atonik, kejang klonik, kejang mioklonik, dan kejang tonik klonik.

 

Epilepsi pada dasarnya tidak bisa dicegah. Namun, menghindari hal-hal berikut diyakini dapat mengurangi angka risiko mengalami epilepsi.

  1. Menghindari cedera pada kepala.

  2. Menerapkan pola hidup sehat serta mendapatkan fasilitas kesehatan yang memadai selama kehamilan.

  3. Memberikan obat atau metode lain untuk menurunkan suhu tubuh pada anak ketika mengalami demam, supaya terhindar dari kejang demam.

  4. Menjaga kesehatan.

  5. Menjaga kebersihan diri dan kebersihan lingkungan.

Apabila Anda atau orang-orang terdekat Anda didiagnosis epilepsi, maka lakukan hal ini:

  1. Mengonsumsi obat-obatan secara tepat dan rutin.

  2. Beristirahat dengan cukup.

  3. Mengenakan gelang penanda kalau Anda penderita epilepsi.

  4. Berolahraga secara rutin.

 

Gejala epilepsi bisa bermacam-macam. Gejala dari kejang dapat berupa kebingungan sementara, gerakan tangan dan kaki yang tidak bisa dikendalikan, serta kehilangan kesadaran. Pada kejang fokal sederhana, gejala ditandai dengan perubahan emosi, perubahan indra (penglihatan, penciuman, peraba, perasa, dan pendengaran), kesemutan, maupun gerakan yang tidak disadari dari satu bagian tubuh. Sedangkan gejala kejang fokal kompleks ditandai dengan kehilangan kesadaran serta melakukan aktivitas repetitif, seperti menggosok-gosok tangan, mengunyah, atau berjalan dalam lingkaran tanpa menyadari lingkungan di sekelilingnya.

Sementara pada kejang umum tipe kejang absans, gejala ditandai dengan penderita memandang ke depan tanpa menyadari keadaan sekitar. Tipe kejang tonik ditandai dengan otot yang kaku. Kejang atonik ditandai dengan pengendalian otot yang hilang, sehingga dapat menyebabkan penderita tiba-tiba terjatuh. Kejang klonik ditandai dengan gerakan mengentak-entak tubuh dan kejang mioklonik ditandai dengan gerakan mengentak-entakkan tangan dan kaki secara singkat. Tipe terakhir, yaitu kejang tonik klonik, ditandai dengan tubuh yang tiba-tiba kaku dan mengentak-entak.

 

Hingga saat ini, penyebab epilepsi belum diketahui secara pasti. Namun, faktor keturunan disebut-sebut ikut berperan dalam proses terjadinya epilepsi. Sementara itu, penyebab lain yang dianggap berpengaruh ialah:

  • Trauma kepala

  • Kerusakan otak

  • Penyakit infeksi

  • Gangguan perkembangan

 

Diagnosis epilepsi dapat dilakukan dengan wawancara medis, pemeriksaan neurologis, pemeriksaan darah untuk mencari tahu penyebab, misalnya apakah terdapat tanda-tanda infeksi, pemeriksaan EEG untuk menilai aktivitas fisik pada otak, serta CT-Scan untuk melihat kelainan pada otak.

 

Dokter biasanya akan memulai penanganan terhadap penderita epilepsi dengan memberikan obat-obatan. Obat anti-kejang bisa berupa diazepam, fenitoin, karbamazepim, dan asam valproat. Jika tidak berhasil, maka dokter akan menyarankan untuk melakukan operasi atau terapi. Operasi paling sering dilakukan jika hasil tes menunjukkan area otak yang menyebabkan kejang tidak luas dan tidak mengganggu fungsi vital, misalnya kemampuan berbicara, kemampuan bahasa, fungsi motorik, penglihatan, atau pendengaran. Namun apabila area otak yang menyebabkan kejang berisiko tinggi mengganggu fungsi tubuh atau tidak bisa dihilangkan, maka dokter akan memberikan alternatif tipe operasi lain.

Stimulasi saraf juga dapat dilakukan, yaitu dokter akan menanamkan perangkat, yang disebut stimulator saraf vagus, di bawah kulit area dada. Sedangkan pada anak-anak dengan epilepsi, beberapa di antara mereka dapat mengurangi kejang dengan menerapkan diet ketat bernama ketogenic diet.

 

Direktori

    Proses...