Seminggu yang lalu, teman saya mengajak saya untuk makan bersama sembari bertukar cerita. Namun saya menolak ajakannya, karena pada saat itu saya sedang belajar. Ia pun berceletuk, “Belajar lagi? Apa enggak bosan?” Bahkan beberapa orang di rumah saya pun menanyakan kenapa saya masih belajar padahal sudah jadi dokter!

 

Yes, menjadi dokter adalah pembelajaran seumur hidup. Bukan cuma kalimat belaka, namun setiap tahun para dokter memang diwajibkan untuk mengikuti perkembangan ilmu dengan mengikuti seminar dan workshop yang diadakan di berbagai kota dan universitas di Indonesia.

 

Sebagai bukti, kami akan mendapatkan poin yang harus dikumpulkan setiap tahunnya. Seminar ini biasanya diadakan selama beberapa hari. Semakin banyak acara yang diikuti, semakin besar poin yang diperoleh, dan tentu saja semakin besar juga biaya untuk mengikuti seminar kedokteran ini.

Baca juga: Perjalanan Menjadi Dokter di Indonesia

 

Nah jika kita sudah selesai menjalani dokter internship Indonesia, sebagian besar tentu akan berpikiran untuk bekerja sebagai dokter umum. Untuk bekerja di rumah sakit, ada beberapa persyaratan yang cukup bervariasi. Dari beberapa persyaratan  tersebut, ada seminar-seminar kedokteran yang harus diikuti. Tidak semua seminar yang ditawarkan harus diambil, karena kita harus menyesuaikannya dengan kebutuhan kita. Lagipula, biaya yang dibutuhkan juga tidaklah kecil.

 

Jadi butuh seminar dan pelatihan apa saja, sih?

 

1. Advanced Cardiac Life Support (ACLS)

Pernah nonton Grey’s Anatomy? Ada adegan ketika para dokter menggunakan alat pacu jantung untuk menolong orang yang mengalami henti jantung. Yes, itu adalah kompetensi dokter umum. Dahulu saya pikir hanya dokter spesialis yang bisa melakukan itu. Namun, ternyata justru dokter umumlah yang menjadi lini terdepan untuk melakukan pertolongan ini.

 

Kursus ACLS ini memberikan pelatihan mengenai pertolongan pada pasien henti jantung dan menggunakan alat defibrillator. Kursus dilaksanakan selama 3 hari dengan biaya sejumlah Rp 2,5 juta. ACLS ini harus diikuti setiap 3 tahun sekali.

Baca juga: Tips Memilih Dokter Anak yang Tepat

 

2. Advanced Trauma Life Support (ATLS)

ATLS adalah kursus kegawatdaruratan di bidang bedah, yang diperlukan jika kamu berminat untuk praktik di Instalasi Gawat Darurat. Pada pelatihan ini, akan diajarkan cara untuk memberikan pernapasan bantuan yang invasif (seperti menusuk bagian leher atau trakea pada orang yang tersedak agar tetap bisa bernapas) dan memasang slang pada keadaan paru yang kempis atau terisi cairan.

 

Kursus ATLS juga dilaksanakan selama 3 hari dengan biaya sebesar Rp 5 juta. Kedua jenis kursus di atas adalah seminar yang wajib diikuti dan biasanya diminta saat melamar kerja di rumah sakit, khususnya di Jakarta.

 

3. Hiperkes

Pernah mendengar tentang dokter perusahaan? Dokter perusahaan tidak hanya praktik di klinik perusahaan saja, namun juga bertanggung jawab dalam hal kedokteran okupasi, seperti cara duduk yang benar, cara bekerja yang tidak mengganggu postur tubuh, memberikan pelatihan bantuan dasar untuk keadaan gawat darurat di perusahaan itu, dan sebagainya.

 

Pelatihan Hiperkes biasanya diperlukan jika Kamu memang memiliki minat di bidang okupasi dan ingin praktik di perusahaan tersebut. Pelatihan dilaksanakan selama 6 hari dan sertifikat yang didapat berlaku untuk seumur hidup.

Baca juga: Jangan Malu Bertemu Dokter Jika Menderita Ambeien

 

Ketiga hal di atas merupakan jenis seminar atau kursus yang sebaiknya diikuti oleh dokter umum. Beberapa seminar lainnya juga dapat diikuti untuk menunjang kemampuan kita, antara lain pelatihan membaca EKG (rekam jantung), pelatihan USG (jika berminat mengambil pendidikan Obs/Gyn), pelatihan resusitasi neonatus, dan sebagainya.

 

Yes, benar-benar belajar seumur hidup bukan? wink