Sebagai seorang apoteker, saya sering mendapat pertanyaan tentang keamanan penggunaan suatu obat tertentu pada ibu yang sedang menyusui. Pertanyaan ini datang baik dari dokter yang ingin meresepkan suatu obat pada pasiennya, maupun dari teman dan saudara yang sedang menyusui.

 

Yup, penggunaan obat selama masa menyusui memang harus mendapatkan perhatian khusus. Terkadang pasien yang saya temui berpendapat bahwa aturan penggunaan obat ini sama halnya dengan penggunaan obat saat hamil. Namun, sebenarnya tidak seperti itu. Obat yang aman digunakan saat hamil belum tentu aman digunakan selama masa menyusui, demikian pula sebaliknya.

 

Mengapa para ibu menyusui harus memperhatikan penggunaan obat-obatan? Apakah pengaruh obat yang dikonsumsi oleh ibu pada bayi yang disusui? Obat apa saja yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi oleh ibu menyusui? Yuk, simak artikel ini!

 

Obat dan ASI

Ketika Mums mengonsumsi obat, molekul obat akan terdistribusi alias ‘jalan-jalan’ ke seluruh tubuh. Salah satunya adalah menuju kelenjar penghasil ASI. Tidak semua obat memiliki fitur ini. Namun bagi obat yang terdistribusi ke ASI, maka saat dikeluarkan, ASI akan mengandung sejumlah molekul obat tersebut.

 

Inilah hal pertama yang harus diperhatikan dalam penggunaan obat selama masa menyusui. Jika ASI mengandung molekul obat, maka bayi yang disusui pun akan mengonsumsi obat tersebut. Efeknya pada bayi bermacam-macam. Ada obat yang tidak memberikan efek membahayakan apapun pada bayi, namun ada pula obat yang memberikan efek buruk pada bayi.

Baca juga: 5 Masalah Menyusui yang Umum Terjadi pada Ibu Baru

 

Jika molekul obat tersebut aman bagi bayi, maka ASI yang keluar mengandung obat tersebut dianggap tidak berbahaya bagi bayi. Contohnya adalah parasetamol yang biasa digunakan untuk demam dan nyeri. Obat ini aman digunakan pada bayi, sehingga ibu menyusui pun dapat menggunakan parasetamol pada dosis yang dianjurkan. Hal kedua yang patut diperhatikan selama masa menyusui adalah obat-obatan yang dapat menurunkan produksi ASI. Contohnya pseudoefedrin yang ada dalam obat flu.

 

Obat-obatan yang Aman Dikonsumsi oleh Ibu Menyusui

Seperti sudah saya sebutkan, tiap obat punya profil masing-masing mengenai distribusinya ke ASI dan efeknya pada bayi yang disusui. Sehingga untuk setiap obat yang Mums terima, pastikan mengecek satu persatu keamanan obat tersebut, ya! Berikut ini adalah beberapa obat yang sering digunakan dan aman untuk ibu menyusui.

 

Pertama adalah parasetamol yang sudah saya sebutkan tadi. Parasetamol atau asetaminofen adalah obat pilihan untuk meredakan demam dan nyeri ringan pada ibu menyusui. Obat ini adalah obat yang dijual bebas, sehingga bisa Mums dapatkan tanpa resep dokter. Aturan penggunaan yang dianjurkan adalah 500 mg hingga 1 gr setiap 6 jam, dengan dosis maksimal 4 gr sehari.

 

Selain parasetamol, ibuprofen adalah pereda nyeri yang dapat Mums konsumsi saat menyusui. Saya sempat mengalami peradangan gigi geraham bungsu yang menimbulkan nyeri yang luar biasa saat sedang menyusui. Dan ibuprofen inilah yang menjadi pilihan yang ‘direstui’ oleh dokter spesialis anak langganan saya. Ibuprofen bisa dibeli di apotek dengan pendampingan apoteker. Aturan pakai yang disarankan adalah 200-400 mg setiap 6 jam sekali.

 

Jika selama masa menyusui Mums mengalami suatu kondisi infeksi yang membutuhkan antibiotik, maka antibiotik golongan penisilin (amoksisilin) dan golongan cefalosporin (cefixime) adalah antibiotik yang aman dikonsumsi.

 

Untuk kondisi flu, seperti yang telah disebutkan di atas, pseudoefedrin sebagai pelega hidung tersumbat (dekongestan) tidak dianjurkan untuk digunakan oleh ibu menyusui. Beberapa penelitian menyebutkan adanya penurunan produksi ASI hingga 24 persen jika mengonsumsi obat ini.

Baca juga: Coba Cara Penyembuhan Sakit Flu ketika Menyusui Ini!

 

 

Padahal, pseudoefedrin adalah dekongestan yang paling umum terdapat di dalam obat-obat flu di pasaran. Untuk menyiasatinya, Mums bisa menggunakan spray hidung berisi NaCl fisiologis ataupun oxymetazoline untuk meredakan flu. Karena spray hidung bekerja lokal, diharapkan tidak terdistribusi ke ASI.

 

Yang Harus Dilakukan saat Konsumsi Obat selama Menyusui

Selama Mums masih dalam masa menyusui, selalu katakan hal ini kepada setiap dokter yang Mums kunjungi. Agar para dokter dapat mempertimbangkan faktor keamanan obat yang diberikan. Dan jika Mums mendapatkan terapi obat, konsultasikan pula hal ini dengan dokter spesialis anak yang menangani buah hati Mums.

 

Pada dasarnya, dokter akan memilih obat yang sifat kerjanya lokal dahulu. Misalnya dalam bentuk obat luar, seperti krim, salep, spray, dan inhalasi. Jika hal ini tidak memungkinkan, barulah dipilih obat yang kerjanya sistemik, salah satunya obat oral alias yang diminum.

 

Salah satu cara meminimalisasikan paparan obat kepada bayi yang disusui adalah mengonsumsi obat tersebut pada rentang waktu ketika bayi tidak meminta susu. Misalnya, bayi saya biasanya minta susu kurang lebih 2 jam sekali. Namun pada malam hari, ia akan tidur mulai sekitar jam 20.00 dan baru terbangun untuk minta susu sekitar jam 02.00.

 

Saat saya mengalami sakit gigi beberapa waktu lalu, saya mengonsumsi obat setelah jam 20.00, agar ada cukup waktu bagi obat untuk dieliminasi keluar dari tubuh. Sehingga saat bayi saya kembali menyusu pada jam 02.00, level obat dalam tubuh sudah cukup rendah.

 

Pada beberapa obat tertentu, ada pantangan untuk tidak menyusui dahulu selama beberapa jam setelah minum obat tersebut. Hal ini disebabkan level obat masih tinggi dalam tubuh ibu, sehingga dapat terpapar dan menimbulkan efek tidak diharapkan pada bayi yang disusui.

 

Mums, itulah hal-hal yang perlu diketahui tentang penggunaan obat selama menyusui. Ternyata keamanannya perlu diperhatikan, karena beberapa obat dapat memberikan efek tidak diharapkan pada bayi yang disusui serta dapat mengurangi produksi ASI. Jadi, selalu informasikan bahwa Mums sedang menyusui kepada tenaga kesehatan yang menangani Mums. Salam sehat!

Baca juga: Ternyata Menyusui Dapat Menurunkan Risiko Terkena Kanker!