Bulan suci Ramadan telah tiba, dan umat Muslim mulai menjalankan ibadah puasa. Bagi para pasien dengan diabetes melitus, menjalankan ibadah puasa membutuhkan beberapa perhatian khusus. Hal ini berkaitan dengan respons tubuh pasien diabetes melitus terhadap berkurangnya asupan makanan dan minuman selama berpuasa.

 

Berkurangnya asupan makanan selama puasa dapat berpengaruh terhadap patofisiologis tubuh yang berhubungan dengan pengaturan kadar gula darah dalam tubuh. Hal ini dapat membuat pasien diabetes melitus menjadi lebih rentan mengalami hipoglikemia atau kadar gula darah dalam tubuh di bawah normal, serta komplikasi lain dari diabetes melitus seperti diabetes ketoasidosis.

 

Namun, tentu saja hal ini bukan lantas membuat semua pasien dengan diabetes melitus sama sekali tidak dapat menjalankan ibadah puasa selama bulan Ramadhan ini. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar pasien dengan diabetes melitus tetap dapat menjalankan ibadah puasa namun tetap dapat menjaga kondisi diabetesnya.

 

 

Baca juga: Herbal dan Suplemen yang Aman untuk Diabetes
 

Tips Berpuasa Bagi Penderita Diabetes

Dilansir dari sebuah rekomendasi yang dikeluarkan oleh American Diabetes Association, berikut adalah beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan oleh pasien diabetes melitus selama menjalankan puasa di bulan Ramadan ini.

 

1. Konsultasikan kondisi kesehatan dengan dokter sebelum menjalani ibadah puasa

Setiap pasien adalah unik dan memiliki kebutuhan serta problem kesehatannya sendiri, tak terkecuali untuk pasien diabetes melitus. Oleh karena itu, dianjurkan untuk melakukan kontrol dahulu dengan dokter sebelum bulan Ramadan tiba.

 

Pada konsultasi tersebut, dokter biasanya akan melakukan penilaian terhadap kondisi terkini pasien dan kaitannya dengan menjalankan puasa. Hal yang akan dinilai antara lain kadar gula darah, kadar kolesterol dalam darah, serta tekanan darah.

 

2. Penyesuaian obat yang digunakan sesuai instruksi dokter

Menyambung dari poin nomor satu di atas, dokter mungkin akan melakukan penyesuaian pada obat-obatan anti diabetes yang digunakan oleh pasien selama bulan puasa. Hal ini untuk memastikan agar obat tetap dapat bekerja secara optimal, namun juga untuk menjaga agar tidak terjadi efek samping terutama hipoglikemia yang dapat membahayakan pasien.

 

Bagi pasien yang menggunakan insulin, biasanya regimen insulin yang dipilih adalah insulin kerja panjang, misalnya insulin glargine atau insulin detemir, yang digunakan satu kali sehari pada malam hari dengan tambahan dua dosis insulin kerja cepat seperti insulin aspart sesaat sebelum berbuka puasa dan sahur. 

 

Sedangkan bagi pasien yang biasa mengonsumsi obat anti diabetes oral, penyesuaian akan bergantung pada jenis obat yang biasa dikonsumsi. Bagi pasien yang mengonsumsi metformin, efek samping hipoglikemianya cukup rendah sehingga tidak terlalu dikhawatirkan menyebabkan efek samping selama jam berpuasa.

 

Penyesuaian lebih akan disesuaikan kepada waktu minum obat, jika biasanya mengonsumsi obat 3 kali sehari, maka dua pertiga total dosis harian akan diberikan sesaat sebelum berbuka dan sisanya pada saat sahur. Atau dapat juga beralih ke tablet metformin dengan pelepasan terkendali sehingga obat bisa hanya dikonsumsi sekali atau dua kali sehari saja.

 

Perhatian khusus biasanya diberikan kepada pasien dengan obat anti diabetes golongan sulfonilurea seperti glimepiride atau gliclazide sebab obat-obatan golongan ini memiliki potensi yang cukup besar untuk menyebabkan efek samping hipoglikemia.

 

Baca juga: Mencegah Hipoglikemia Selama Penderita Diabetes Berpuasa
 

3. Cek kadar gula darah secara rutin dan berkala

Pasien diabetes melitus dianjurkan untuk memiliki alat cek gula darah mandiri sehingga dapat dengan rutin dan berkala mengecek kadar gula darahnya. Hal ini terutama sangat dianjurkan bagi pasien diabetes melitus tipe 1 atau tipe 2 yang membutuhkan insulin untuk mengontrol kadar gula darah mereka.

 

4. Mengenali tanda hipoglikemia dan kapan harus membatalkan puasa

Sesuai dengan poin nomor 3, pengukuran gula darah secara rutin adalah untuk memantau jika terjadi kondisi hipoglikemia. Hipoglikemia adalah kondisi di mana kadar gula darah dalam tubuh kurang dari 60-70 mg/dL. Gejala hipoglikemia antara lain badan gemetar, berkeringat dingin, pusing, dan nyeri kepala.

 

Jika pasien dengan diabetes melitus mengalami gejala tersebut dan memang saat diukur kadar gula darahnya di bawah 60-70 mg/dL, puasa sebaiknya diakhiri dan segera minum atau makan sesuatu yang manis.

 

Selain pada kondisi hipoglikemia, jika terjadi kondisi hiperglikemia di mana kadar gula darah ada di atas 300 mg/dL, sebaiknya puasa juga diakhiri dan dilakukan penanganan agar kadar gula darah segera kembali ke batas normal.

 

Baca juga: Kenali Gejala dan Pengobatan Hipoglikemia Berikut Ini!
 

5. Menjaga asupan nutrisi dan berolahraga secara rutin

Diet selama berpuasa di bulan Ramadan bagi pasien diabetes melitus sebenarnya tidak jauh berbeda dengan hari-hari biasa. Yang perlu diperhatikan adalah anjuran untuk tidak mengonsumsi secara berlebihan makanan yang mengandung karbohidrat kompleks dan lemak pada saat berbuka puasa karena makanan-makanan ini akan lambat dicerna oleh tubuh sehingga dapat terjadi peningkatan kadar gula darah tidak terkendali sesudahnya.

 

Menambah asupan cairan juga sangat dianjurkan di jam-jam tidak berpuasa untuk mencegah terjadinya dehidrasi. Aktivitas fisik sendiri masih dapat dilakukan namun dengan intensitas yang tidak terlalu berat apalagi jika dapat berisiko menyebabkan hipoglikemia.

 

Diabestfriend, itu dia lima hal yang sebaiknya diperhatikan oleh para pasien dengan diabetes melitus selama menjalankan ibadah puasa. Tentunya kondisi diabetes melitus bukanlah serta merta menjadi penghalang untuk menjalankan ibadah ini.

 

Kontrol gula darah yang baik lewat obat, diet, olahraga, dan pemantauan rutin kadar gula darah menjadi hal yang dapat dilakukan agar puasa tetap berjalan dan kondisi diabetes melitus juga tetap terkendali. Jangan lupa konsultasikan kondisi kepada dokter agar dokter dapat memberikan edukasi dan penyesuaian obat ataupun gaya hidup yang sesuai. Salam sehat!

 

Baca juga: Tips Membatasi Gula, Garam, Lemak: Biasakan Baca Label Pangan!

 

 

Referensi:

Al-Arouj, M., Bouguerra, R., Buse, J., Hafez, S., Hassanein, M., Ibrahim, M., Ismail-Beigi, F., El-Kebbi, I., Khatib, O., Kishawi, S., Al-Madani, A., Mishal, A., Al-Maskari, M., Nakhi, A. and Al-Rubean, K., 2005. Recommendations for Management of Diabetes During Ramadan. Diabetes Care, 28(9), pp.2305-2311.