Penyakit

Sakit Kepala (Headache)

Sakit kepala (headache) merupakan nyeri atau rasa tidak nyaman di sekitar kepala, kulit kepala, dahi, sekitar mata, atau leher (terutama bagian belakang). Sakit kepala adalah salah satu gangguan kesehatan yang paling sering dirasakan oleh setiap orang. Sakit kepala bisa jadi sebuah tanda dari kondisi stres atau tekanan emosional. Sakit kepala juga terjadi akibat dari gangguan kesehatan, seperti migrain, tekanan darah tinggi, depresi, dan lain-lain

Terapkan pola hidup sehat, seperti istirahat yang cukup sekitar 7-8 jam per hari. Jangan mengganti kekurangan tidur pada hari kerja di hari libur karena itu tidak efektif. Usahakan tidur dan bangun di waktu yang sama setiap harinya. Makan secara teratur 3 kali sehari, bisa ditambahkan cemilan di antara waktu makan besar jika diperlukan. Lalu, pilihlah makanan dengan nutrisi yang tepat dan seimbang seperti tidak terlalu banyak mengandung garam dan lemak, yang bisa mengakibatkan peningkatan tekanan darah dan kolesterol.

Rutin berolahraga juga bisa membantu mengurangi stres dan meningkatkan fungsi fisiologis tubuh dan mencegah sakit kepala. Pilihlah olahraga yang digemari, dan mulai secara perlahan. Konsultasikan kepada dokter uterlebih dahulu untuk memastikan kondisi fisik. Sakit kepala bisa dicegah dengan menghindari pemicunya. Cari tahu dan kenali apa yang bisa menyebabkan sakit kepala. Karena sakit kepala juga merupakan manifestasi dari stres, maka luangkan waktu untuk bersantai dan menikmati waktu senggang dengan mendengarkan musik, berjalan-jalan, serta menekuni hobi.

Gejala sakit kepala bisa bermacam-macam, tergantung pada jenisnya. Sakit kepala primer, seperti sakit kepala tension, migrain dan cluster, bisa sangat menurunkan kualitas hidup penderita walaupun jarang mengancam jiwa. Sakit kepala jenis tension yang merupakan jenis sakit kepala paling umum, ditandai dengan kepala terasa tegang dan berat. Gejalanya meliputi sakit dimulai dari belakang kepala dan leher atas, sering digambarkan sebagai tekanan melingkari kepala dengan tekanan paling kuat di atas alis. Sakit kepala ini biasanya memiliki nyeri yang ringan sampai sedang dan berlangsung di kedua sisi kepala. Tidak diperberat dengan adanya cahaya dan suara, serta tidak disertai mual dan muntah. Kebanyakan pasien dengan sakit kepala jenis tension masih bisa melakukan kegiatan sehari-hari tanpa terlalu merasa terganggu.

Setelah sakit kepala tension, migrain adalah jenis sakit kepala yang juga kerap dialami. Migrain ditandai dengan sakit kepala berdenyut hebat atau sensasi berdenyut di satu area di kepala dan seringkali disertai mual, muntah, lalu diperberat dengan adanya cahaya dan suara yang berlebih. Penderitanya pun lebih merasa nyaman berada di tempat gelap dan tenang. Beberapa gejala awal migrain juga meliputi adanya aura pada penglihatan, seperti kilatan cahaya dan bintik-bintik buta.

Sakit kepala cluster lebih jarang terjadi dibandingkan dua jenis sebelumnya. Sakit kepala jenis ini merupakan sakit kepala yang terjadi berdasarkan waktu dan dipisahkan oleh periode bebas nyeri. Selama terjadi periode sakit terjadi, penderita bisa merasakan satu hingga dua kali nyeri kepala per hari dan setiap episode nyeri bisa berlangsung selama 30-90 menit. Sakit kepala seringkali terjadi di waktu yang sama setiap harinya dan tidak jarang mengganggu waktu tidur. Kategori nyeri termasuk berat dan berpusat di sekitar belakang mata, sehingga seperti ada rasa nyeri di mata.

Berbeda dengan sakit kepala primer, sakit kepala sekunder disebabkan karena masalah struktural di kepala atau leher. Penyebab sakit kepala ini cukup banyak meliputi perdarahan di otak, penyumbatan pembuluh darah di otak, tumor otak, stroke, pengaruh alkohol, dan efek samping penggunaan obat. Gejalanya bisa bervariasi, tergantung penyebabnya, mulai dari gejala sakit kepala primer sampai gejala khas yang menyertai penyakit penyebabnya. Sakit kepala sekunder seringkali lebih mengancam jiwa.

Sakit kepala tension (tegang) disebabkan karena adanya ketegangan otot kepala dan leher. Kontraksi ini dapat disebabkan karena makanan, aktivitas, dan lainnya. Menatap layar televisi atau komputer dalam waktu yang lama bisa memicu sakit kepala tension. Posisi tubuh yang monoton dan tidak berubah dalam waktu yang lama juga bisa menyebabkannya. Faktor-faktor penyebab sakit kepala tension ini sangat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, seperti kelelahan, ketegangan mata, pengaruh alkohol, merokok, flu, infeksi sinus, dan stres emosional.


Penyebab migrain belum sepenuhnya diketahui. Banyak literatur mengaitkan dengan adanya masalah pada pembuluh darah. Beberapa menyatakan karena adanya penyempitan pembuluh darah, dan beberapa lainnya menghubungkan dengan gangguan sistem saraf. Penelitian terus berlangsung untuk memastikan penyebabnya. Kadar serotonin yang rendah juga dihubungkan dengan penyebab migrain. Kekurangan magnesium dan peningkatan neuropeptida pemicu peradangan juga diyakini mempengaruhi kejadian migrain.

Serangan migrain bisa dipicu berbagai faktor, seperti stres emosional, makanan atau minuman tertentu, seperti alkohol, kacang-kacangan, penyedap rasa (MSG) dan lain-lain. Migrain juga diawali karena perubahan kondisi cuaca, terik sinar matahari, suara bising, aktivitas berat, dan sebagainya. Sakit kepala cluster disebabkan karena dilatasi pembuluh darah ke otak dan wajah. Beberapa literatur juga mengaitkan sakit kepala cluster karena adanya gangguan pada hipotalamus. Penyebab lainnya bisa berupa pelepasan histamin atau serotonin secara mendadak.

Untuk mendiagnosis sakit kepala dan menentukan jenisnya sangat bergantung pada gejala klinis masing-masing penderita. Berdasarkan berat dan penyebabnya, sakit kepala primer memiliki gejala yang cenderung ringan sampai sedang dan tidak terlalu mengancam jiwa. Walaupun sebagian diantaranya memerlukan penanganan karena bisa menurunkan kualitas hidup. Sedangkan sakit kepala sekunder seringkali dianggap lebih berat dan tergantung keparahan penyakit penyebabnya.

Evaluasi dan diagnosis sakit kepala yang paling awal adalah riwayat sakit kepala. Sampaikan kepada dokter sejak kapan dan sudah berapa lama mengalami keluhan tersebut, serta seberapa sering sakit kepala melanda. Jika diketahui, sampaikan penyebab sakit kepala secara spesifik. Lalu informasikan apakah ada dari keluarga yang juga mengalami sakit kepala serupa.

Untuk menentukan jenis sakit kepala yang sedang diderita, ada baiknya menyampaikan kepada dokter di mana tepatnya posisi sakit kepala terjadi, seperti apa rasa nyeri yang dialami, serta seberat apa nyeri yang dirasakan diukur menggunakan skala VAS (visual analog scale) dari skor 1-10. Apakah ada gejala lain, seperti mual, muntah, sensitif terhadap cahaya, dan suara bising.

Jika diduga sakit kepala sekunder yang terjadi, maka dokter akan mendiagnosis apakah ada gangguan terhadap sistem saraf atau penyebab lain seperti tumor, perdarahan di otak, penyumbatan pembuluh darah di otak, infeksi, trauma kepala, meningitis, dan lainnya. Serangkaian tes spesifik juga bisa dilakukan, seperti cek darah lengkap meliputi parameter glukosa, kolesterol, tiroid, dan parameter lainnya yang mungkin menyebabkan gejala sakit kepala.

CT scan (computed tomography) sekitar kepala bisa dilakukan pada penderita sakit kepala dengan frekuensi yang tinggi (sering terjadi) dan berat. Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas, seringkali dokter merekomendasikan untuk melakukan prosedur MRI (magnetic resonance imaging). MRI bisa memberikan informasi mengenai struktur dan biokimia otak dan kemungkinan-kemungkinan penyebab sakit kepala.

Saat terjadi sakit kepala tension, beberapa pilihan terapi bisa dilakukan. Mulai dari terapi relaksasi, terapi pijat, sampai terapi menggunakan obat-obatan. Obat sakit kepala mudah didapat dan relatif aman dikonsumsi, seperti golongan analgesik dan antiinflamasi paracetamol, ibuprofen, serta aspirin. Pilihan golongan obat antiinflamasi nonsteroid lain juga bisa digunakan sesuai petunjuk dokter dan tingkat keparahannya.


Sakit kepala migrain selalu terjadi karena pemicunya, sehingga menghindari pemicu ini akan membantu mencegah migrain. Jika sudah terlanjur migrain, istirahat di tempat yang tenang dan cenderung gelap akan sangat membantu meringankan nyerinya. Terapi pijat juga bisa dilakukan sebagai pelengkap. Penggunaan analgesik seperti paracetamol, ibuprofen, dan aspirin bisa saja diberikan. Namun, jika kurang efektif dokter akan meresepkan jenis obat lain, seperti golongan triptane (sumatriptan), golongan calcium antagonist (flunarizine), dan lainnya. Golongan triptane juga sering digunakan untuk tata laksana sakit kepala cluster secara injeksi atau spray.


Jika sakit kepala terjadi karena akibat aktivitas tertentu, seperti olahraga, berhubungan seks, atau setelah batuk, maka terapi awal bisa diberikan obat sakit kepala seperti pada umumnya. Untuk penanganan lanjutan, disesuaikan dengan diagnosis dokter terkait jenis dan penyebabnya. Begitu juga dengan penanganan sakit kepala sekunder, penanganannya harus disesuaikan dengan penyebab sakit kepala yang terjadi.

Ketika terjadi tanda-tanda kegawatan, seperti nyeri yang mendadak dan berat, sakit kepala setelah jatuh atau trauma kepala, sakit kepala yang disertai demam, leher kaku, ruam, kejang, penglihatan ganda, mati rasa, kesulitan bicara, atau tanda-tanda infeksi, segeralah berkonsultasi kepada dokter untuk mendapatkan penanganan yang sesuai dengan jenis dan keparahan sakit kepala yang dialami.

Rekomendasi Artikel

Keluhan-Keluhan Populer yang Menyerang Saat Bulan Puasa

Keluhan-Keluhan Populer yang Menyerang Saat Bulan Puasa

Banyak penyakit yang umum dikeluhkan saat bulan Ramadan tiba. Apa saja sih? Simak ulasan berikut ini.

Annisa Rahmah

02 June 2017

Hemiplegic Migraine, Jenis Migrain dengan Gejala seperti Stroke

Hemiplegic Migraine, Jenis Migrain dengan Gejala seperti Stroke

Hemiplegic Migraine adalah salah satu penyakit migraine yang jarang. Penyakit ini seringkali dikelirukan dengan penyakit Stroke karena gejalanya yang mirip.

ulya helmi

26 May 2017

Direktori

    Proses...