Setelah rutin berolahraga selama tiga bulan, bentuk badan saya mengalami penyusutan yang cukup menyenangkan. Dengan pola olahraga yang cukup padat, yaitu menghabiskan waktu satu jam setiap harinya untuk treadmill sampai mengikuti beberapa kelas di fitness center, membuat berat badan saya berkurang lebih dari 10 kg. Mungkin penurunan berat tersebut tidak signifikan, mengingat berat awal saya yang mencapai 126 kg. Namun beberapa teman yang lama tidak berjumpa dan suatu ketika kami berpapasan, mereka sering menyapa dengan respon, “Eh kurusan deh sekarang. Diet ya? Diet apa?” Mendengar sapaan seperti itu, saya pun mengambil kesimpulan bahwa masih banyak orang beranggapan bahwa penurunan berat badan seseorang terjadi karena orang tersebut melakukan diet. Anggapan tersebut memang ada benarnya, namun dari saya memutuskan untuk berolahraga rutin. Bahkan, hingga saat ini pun, saya belum pernah melakukan diet. Bukan karena tidak percaya tentang hal tersebut, namun saya punya pengalaman tidak menyenangkan saat masa kuliah dulu setelah melakukan hal itu karena ada hal penting yang harus diperhatikan dalam diet.

Naik Berat Badan Berlebihan akibat Diet Yoyo

Diet! Satu kata yang rasanya ingin saya hindari bahkan hingga detik ini. Konotasinya sudah negatif setiap kali saya mendengar dan membaca hal tersebut. Padahal kata ini diartikan sebagai 'aturan makanan khusus untuk kesehatan'. Namun di benak saya kata ini sangat erat kaitannya dengan 'menahan lapar' dan saya benci hal tersebut. Saya jadi teringat saat masa kuliah dulu saya kerap melakukan diet, dari mengganti nasi dengan kentang, mengonsumsi pisang, bahkan mencoba menjadi vegetarian. Namun, karena kurangnya pengetahuan saya tentang gizi seimbang, jalan paling pintas untuk melakukan diet adalah mengikuti pengalaman teman yang pernah melakukan hal tersebut. Beberapa teman yang sukses menurunkan berat badan dengan diet pun telah melakukan beberapa macam cara, seperti mengonsumsi sebotol yogurt dan sebuah apel untuk menu sarapan hingga tidak menyantap daging merah, karena dianggap tinggi akan lemak. Tanpa berpikir panjang, cara diet mereka saya ikuti dengan harapan dapat menurunkan berat badan. Memang hasilnya lumayan cepat, sebagai contoh, pernah dalam waktu seminggu saya bisa turun hingga 3 kg setelah mencoba ‘diet kentang’ (sebagai pengganti nasi), diet pisang (sarapan dan makan malam dengan pisang) dan hal paling ekstrim adalah belajar menjadi vegetarian. Namun yang terjadi sebulan berikutnya adalah kenaikan berat badan yang bisa dua kali lipat dari jumlah yang berkurang. Mengapa? Ternyata saya melakukan pola diet yang salah, atau kerap dikenal dengan diet yoyo.

Sadar Diet Setelah Rutin Berolahraga

Menyadari dan sangat kapok dengan diet yoyo, selanjutnya saya memutuskan untuk tidak akan melakukan diet lagi. Hal tersebut pun menjadi mindset yang saya jalani hingga Juni 2016. Namun tanpa saya sadari ternyata tubuh saya beradaptasi seturut dengan pengetahuan yang saya baca dan pahami. Di pertengahan bulan Juni 2016, ada sebuah artikel yang menuliskan bahwa kunci untuk menurunkan berat badan dengan maksimal, bukan cepat namun maksimal, adalah dengan melakukan kombinasi 80% clean eating dan 20% exercise. Well, kombinasi 80-20 tersebut tanpa saya sadari menjadi highlight di otak saya setiap berolahraga. Percaya atau tidak sejak saat itu hingga hari ini, tubuh saya seperti mampu melakukan kontrol terhadap nafsu makan yang berlebihan. Saya sempat melakukan konsultasi singkat dengan salah satu instruktur fitness mengenai hal tersebut. Dari konsultasi tersebut ada beberapa pengetahuan baru yang saya dapat; pertama, memang benar bahwa untuk menurunkan berat badan (agar tubuh proporsional) yang maksimal perlu kombinasi 80% clean eating dan 20% exercise. Kedua adalah, dia berpendapat bahwa tanpa disadari tubuh saya sedang beradaptasi terhadap ketatnya pola olah raga yang Saya lalui. Ketatnya pola tersebut mengakibatkan mengecilnya lambung sehingga daya tampung perut terhadap makanan mulai menyusut, hal itu berdampak membuat tubuh merasa lebih cepat kenyang dengan porsi makanan yang lebih sedikit dari kebiasaan yang dulu pernah saya konsumsi. Jika hal tersebut didukung dengan makan makanan bersih (gizi seimbang dan cukup air) maka berat badan pun lebih cepat turun. Uji coba pun menjadi hal selanjutnya yang saya lakukan, Juli 2016 saya mulai menerapkan pengetahuan tersebut, walau di awal cukup berat dan masih beradaptasi terutama untuk mengurangi waktu dan jumlah nge-meal time, setidaknya tekat untuk hidup sehat masih saya jalani sampai saat ini. Bagaimana dengan Anda, apakah masih ragu berpikir mana yang efektif untuk menurunkan berat badan agar lebih proporsional? Jika ingin bertanya atau berbagi pengalaman silakan mengirimkan surel ke christovelramot.aruan@gmail.com.