Penyakit

Mastitis (Radang jaringan payudara)

Mastitis adalah infeksi pada jaringan payudara, yang menyebabkan payudara terasa sakit, membengkak, serta kemerahan. Terkadang, disertai pula dengan demam dan menggigil. Mastitis banyak dialami oleh ibu menyusui (mastitis laktasi), namun kondisi ini juga bisa terjadi pada wanita yang tidak menyusui. Pada kebanyakan kasus, mastitis laktasi terjadi selama 6-12 minggu setelah melahirkan. Tetapi, ini bisa juga terjadi di kemudian hari selama periode menyusui.

Mastitis dapat mengganggu aktivitas menyusui. Pasalnya, karena rasa sakit yang kerap tidak tertahankan atau takut infeksi mengganggu kualitas ASI, sebagian ibu berhenti untuk menyusui bayinya. Meski begitu, fakta mengungkapkan bahwa ASI ibu yang menderita mastitis tetaplah aman dikonsumsi oleh bayi. Bahkan, meneruskan aktivitas menyusui mampu membantu penyembuhan infeksi.

 

Agar aktivitas menyusui bayi menjadi nyaman serta menghindari mastitis, Anda bisa berkonsultasi dengan konsultan laktasi. Mereka akan memberikan Anda tips dan trik seputar teknik-teknik menyusui yang tepat. Selain itu, yang dapat dilakukan untuk menghindari infeksi adalah:

  1. Sebisa mungkin berikan ASI eksklusif selama 6 bulan kepada bayi.

  2. Susui bayi sesering mungkin, terutama ketika payudara Anda terasa penuh ASI.

  3. Pastikan pelekatan mulut bayi saat menyusu sudah tepat.

  4. Kebanyakan bayi akan melepaskan mulutnya dari payudara jika ia sudah merasa kenyang. Jadi selama ia masih menyusu, jangan diganggu dan melepaskan pelekatan.

  5. Sebaiknya susui bayi dari satu payudara dulu hingga ASI benar-benar habis, baru pindah ke payudara yang satunya.

  6. Hindari tekanan pada payudara, misalnya menggunakan pakaian atau bra yang terlalu ketat.

 

Mastitis biasanya hanya menyerang salah satu payudara dan gejalanya bisa dilihat serta dirasakan secara cepat. Tanda-tandanya ialah:

Payudara terasa nyeri dan panas ketika ditekan atau saat sedang menyusui.

Merasa tidak enak badan.

Payudara keras dan bengkak.

Kulit payudara kemerahan.

Demam.

Keluar cairan putih, terkadang bercampur dengan darah, dari puting.

Meriang.

 

Banyak kasus mastitis yang terjadi pada ibu menyusui disebabkan oleh milk stasis. Kondisi ini terjadi karena ASI tidak dikeluarkan secara tepat dari payudara selama proses menyusui. Milk stasis dapat terjadi apabila:

  1. Pelekatan saat menyusui tidak tepat.

  2. Bayi mengalami masalah mengisap, misalnya karena tongue tie.

  3. Proses menyusui tidak rutin dilakukan.

  4. Hanya menyusui pada satu payudara saja.

  5. Payudara terkena benturan atau pukulan kencang, sehingga merusak saluran ASI atau jaringan payudara.

  6. Payudara mengalami tekanan, misalnya dari pemakaian baju dan bra yang terlalu ketat, atau tidur tengkurap.

Selain itu, mastitis juga bisa terjadi akibat infeksi. Bakteri yang berada di luar kulit bisa masuk melalui luka di bagian puting atau mulut dan tenggorokan bayi ketika proses menyusui berlangsung. Pada wanita yang tidak menyusui, bakteri bisa masuk melalui luka atau lubang tindikan di bagian puting.

 

Dokter akan mendiagnosis bahwa Anda mengalami mastitis berdasarkan gejala dan pemeriksaan pada payudara Anda. Jika Anda sedang menyusui, dokter akan meminta Anda menunjukkan bagaimana cara Anda menyusui bayi, untuk melihat apakah pelekatan yang dilakukan sudah tepat atau belum.

Dokter kemungkinan akan mengambil sampel dari ASI Anda jika:

  1. Gejala-gejala yang dialami cukup parah.

  2. Mastitis yang dialami berulang.

  3. Anda sudah diberikan antibiotik namun tidak kunjung membaik.

Bila Anda mengalami diduga mengalami mastitis dan tidak menyusui, maka dokter akan melakukan pemeriksaan khusus pada payudara, termasuk melakukan ultrasound scan atau mammogram.

 

Mastitis umumnya dapat ditangani dan sembuh total secara cepat. Anda bisa melakukan:

  1. Istirahat dengan cukup dan banyak minum air putih.

  2. Konsumsi obat penghilang sakit untuk meredakan nyeri dan demam.

  3. Hindari meggunakan pakaian dan bra yang ketat.

  4. Jika Anda menyusui, maka teruslah melakukannya dan pastikan pelekatan selama proses menyusui sudah tepat.

Jika tidak kunjung membaik, atau pada wanita yang sedang tidak menyusui namun terkena mastitis, dokter akan memberikan antibiotik untuk membunuh bakteri. Tetapi perlu Anda ketahui, mengonsumsi antibiotik akan memengaruhi ASI. Bayi menjadi lebih mudah rewel dan gelisah. Fesesnya pun lebih lunak dan sering buang air besar (BAB). Hubungi dokter jika gejala semakin parah atau tidak terlihat membaik dalam kurun waktu 48 jam setelah pengonsumsian antibiotik.

 

Rekomendasi Artikel

Atasi Puting Lecet dan Berdarah saat Menyusui

Atasi Puting Lecet dan Berdarah saat Menyusui

Puting lecet dan berdarah saat menyusui biasanya disebabkan oleh pelekatan yang salah. Atasi dan lakukan hal beberapa hal berikut.

GueSehat

03 April 2017

Direktori

    Proses...