Siapa yang pernah atau bahkan sering bermasalah dengan keputihan? Duh, rasanya menyebalkan sekali, ya! Keputihan hanyalah satu dari gejala infeksi vagina. Salah satunya akibat gangguan keseimbangan flora normal di organ intim. Di organ intim wanita, banyak didiami bakteri baik maupun bakteri jahat. Pada vagina normal, yakni tidak ada gangguan penyakit, komposisi jumlah bakteri baik di area kewanitaan sekitar 95%, sedangkan jumlah bakteri buruk hanya 5% saja. Komposisi ini harus dipertahankan. Bila ada sedikit perubahan, dapat meningkatkan risiko infeksi vagina, karena meningkatnya bakteri jahat. 

 

Gejala peradangan atau infeksi vagina beragam. Ada wanita yang mengalami bau tidak sedap di area genital, rasa gatal di sekitar vagina, nyeri ketika berhubungan seks, rasa sakit saat buang air kecil, keluarnya flek coklat yang disertai pendarahan, hingga keputihan.

 

Dalam siklus hidupnya, wanita pasti pernah mengalami salah satu dari infeksi vagina ini. Lalu, kira-kira apa saja ya, penyebab infeksi vagina itu? Simak yuk, penjelasan selengkapnya berdasarkan informasi kesehatan yang berhasil dirangkum oleh GueSehat dari pakar spesialis urologi, dr. Mery Sulastri.

Baca juga: Apa yang Harus Dilakukan Ketika Keputihan

 

Pencetus Infeksi Vaginitis

Ada 4 penyebab utama yang memicu terjadinya infeksi vagina atau vaginitis:

  1. Bakteri adalah penyebab nomor satu infeksi vagina.
  2. Jamur menduduki peringkat kedua sebagai penyebab infeksi vagina. Bakteri dan jamur menjadi dua penyebab utama keputihan, karena kelembaban udara di Indonesia cenderung tinggi.
  3. Infeksi vagina yang disebabkan oleh trikomonas biasanya berhubungan dengan penyakit yang terjadi saat berhubungan seksual.
  4. Kombinasi infeksi. Kondisi ini merupakan gabungan dari 2 atau 3 penyebab infeksi yang telah disebutkan sebelumnya.

 

Keputihan menjadi gejala utama yang paling mudah dikenali saat seseorang terkena infeksi infeksi vagina. Hal yang harus digarisbawahi adalah penting bagi wanita untuk mengetahui penyebab dari keputihan yang ia alami. Alasannya karena melakukan terapi terhadap keputihan yang disebabkan oleh bakteri, tentunya berbeda dengan menumpas infeksi yang dicetus oleh jamur.

Baca juga: 7 Fakta Keputihan yang Harus Wanita Tahu

Cara Membedakan Penyebab Keputihan

Bagaimana cara mengetahui keputihanmu disebabkan oleh bakterijamur, atau trikomonas? Berikut ini cara mudah untuk membedakannya.

Keputihan akibat bakteri

  • Tekstur cairannya berwarna putih, berair, dan berbau amis. Bau menyengat ini akan mudah tercium secara dominan saat Kamu mengganti pakaian dalam.
  • Jarang menimbulkan sensasi panas.
  • Tidak menimbulkan peradangan di area vagina.
  • Hampir sekitar 50% dari kasus keputihan yang disebabkan oleh bakteri, tidak menimbulkan rasa nyeri saat wanita berhubungan seks.

 

Keputihan akibat jamur

  • Tekstur cairan berwana putih susu kental (seperti keju) dan kadang tidak berbau.
  • Menyebabkan rasa sakit saat berhubungan intim, sensasi panas, dan nyeri saat berkemih.
  • Tanda yang paling dominan dari infeksi jamur ini adalah rasa gatal.
  • Menimbulkan peradangan serta lecet.
  • Rasa gatal di bibir vagina menjadi keluhan utamanya.

 

Keputihan akibat trikomonas

  • Cairannya berwarna kuning atau kehijauan, serta kadang berbusa.
  • Menimbulkan rasa sakit saat berkemih dan ketika berhubungan intim, yang disertai dengan sensasi panas.
  • Jarang menimbulkan rasa gatal.
  • Bila dilakukan pemeriksaan vaginal, maka area organ intim yang terinfeksi trikomonas ini akan tampak berbintik dan berwarna kemerahan, sehingga peradangan ini sering disebut strawberry serviks.
  • Timbulnya rasa gatal pada sekitar bibir vagina.
  • Ada kalanya, keputihan yang dipicu oleh trikomonas ini bersifat asimptomatik. Artinya, si penderita tidak akan menyadari bahwa ia mengalami keputihan karena tidak adanya gejala yang dirasakan.

 

Faktor-faktor yang Meningkatkan Risiko Infeksi Vaginitis

Selain bakteri, jamur, dan trikomonas ini, terdapat faktor-faktor lain yang juga dapat memicu terjadinya gangguan vaginitis.

Faktor Internal

  • Gaya hidup tidak sehat seperti merokok dan diet sembarangan.
  • Kebersihan organ intim (personal hygiene) yang kurang terjaga.

Faktor Eksternal

  • Penggunaan kontrasepsi yang kurang tepat.
  • Cara membersihkan vagina (douching) yang keliru serta berlebihan.
  • Konsumsi antibiotik yang berlebihan.
  • Sering mengenakan celana dalam berbahan nylon. Riset menunjukkan, bahan nylon sulit untuk menyerap keringat, sehingga meningkatkan risiko lembab pada area kewanitaan.

 

Faktor khusus seperti masalah hubungan seksual pun bisa memengaruhi area kewanitaan. Diantaranya, penetrasi yang terjadi terlalu cepat (early intercourse) atau memiliki pasangan intim lebih dari satu. Seluruh faktor ini, pada akhirnya tidak hanya dapat meningkatkan risiko keputihan dan infeksi vagina, melainkan juga dapat mengganggu ekosistem serta keseimbangan pH di sekitar area kewanitaan.

Baca juga: Perlukah Merawat Organ Intim dengan Pembersih Khusus?

 

Setelah memahami lebih jauh tentang penyebab infeksi vagina pastikan Kamu merawat area kewanitaan dengan dengan bersih untuk meminimalisasi risikonya, ya! Gunakan cairan pembersih antiseptik khusus yang komposisinya dirancang khusus untuk menjaga kesehatan vagina. Pilihlah produk pembersih area kewanitaan yang tidak mengandung sodium (SLS), bebas sabun, serta telah lulus uji dermatologi dan tes hieginitas agar Kamu yakin bahan-bahan yang digunakan aman bagi kulit. (TA/AY)

 

Dapatkan Vagina Kembali Normal Setelah Melahirkan? - Guesehat