Anda  pernah merasa tidak bergairah karena tidak ada kegiatan? Biasanya saat sedang tidak bergairah atau dalam keadaan tidak ada kegiatan, banyak orang akan terlihat melamun dengan tatapan kosong. Apalagi saat sedang bosan, ada masalah dengan pasangan, atau pusing karena tumpukan kerja di kantor. Bahkan banyak orang juga seringkali tidak menyadari kalau dirinya sedang hanyut dalam lamunan ketika mendengarkan musik, bermain, istirahat, atau sedang duduk di depan komputer. Menurut penelitian dari tim psikolog Universitas Harvard menunjukkan bahwa mayoritas orang menghabiskan 46,9 persen waktunya hanya untuk melamun. Sebenarnya tidak salah sih dengan melamun ini. Seperti yang dikatakan oleh Sigmund Freud yang dikenal sebagai Bapak Psikologi, melamun merupakan cara seseorang untuk meredakan konflik yang sedang dialami. Dengan melamun fantasi yang tercipta diidentikkan dengan pikiran yang mengembara. Tapi, Anda juga jangan terlalu sering melamun karena bisa menimbulkan gejala awal dari penyakit Maladaptive Daydreaming (MD). Berikut akibat orang sering melamun :

Apa itu Maladaptive Daydreaming (MD)?

Maladaptive Daydreaming merupakan kondisi melamun berlebihan hingga menggantikan interaksi dengan manusia di sekitarnya. Konsep ini diperkenalkan oleh Eli Somer Ph.D pada tahun 2002. Menurut Somer, pengalaman menyakitkan atau trauma bisa memicu terjadinya MD. Menurut Somer banyak orang dengan Maladaptive Daydreaming akan mudah berada pada kondisi melamun sehingga menyebabkan seseorang  menjadi tidak produktif dan mengalami gangguan ekstrim dalam kehidupannya sehari-hari. Orang yang melamun cenderung akan menyia-nyiakan waktu untuk melamunkan mimpi-mimpi yang luas dan akan terus berfantasi. Sementara fantasi tersebut hanya bersifat sementara dan justru tidak diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Bagaimana dengan Gejalanya?

Sebenarnya tidak ada gejala konklusif terkait Maladaptive Daydreaming karena tidak didiagnosis secara resmi. Namun dalam pandangan penelitian yang tersedia, ada beberapa gejala maladaptive daydreaming yang bisa dirasakan :
  1. Melamun berlebihan yang hampir bisa dikatakan sebagai kecanduan. Biasanya tanda ini akan terlihat jika seseorang sangat mudah melamun ketika melakukan sesuatu dan susah untuk disadarkan dari lamunannnya.
  2. Melamun berlebihan yang sudah mulai terlihat dari masa kanak-kanak. Tidak jauh berbeda dari tanda pertama, namun kebiasaan melamun sudah mulai terlihat dari kecil. Biasanya hal ini bisa dipengaruhi oleh lingkungan anak atau kebiasaannya menyendiri.
  3. Buku, film, musik, video game, dan media lainnya mungkin bisa menjadi pemicu melamun.
  4. Melamun dengan fantasi yang sudah rinci dan rumit, kadang-kadang lamunan tersebut bisa dibandingkan dengan fantasi pada film atau novel.
  5. Gerakan berulang  yang umum (tapi tidak selalu hadir pada penderita) seperti mondar-mandir, goyang, berputar, menggetarkan sesuatu di tangan mereka.
  6. Kadang-kadang berbicara, tertawa, menangis, gerakan, atau membuat ekspresi wajah yang dilakukan sambil melamun. Orang yang menderita ini tahu perbedaan antara melamun dan realitas. Kondisi ini yang membedakan penderita MD dengan  psikotik atau penderita skizofrenia dan bipolar.
  7. Beberapa orang akan berbaring di tempat tidur selama berjam-jam sambil melamun dan mungkin juga mengalami kesulitan akan tidur karena ini. Tak jarang juga mengalami kesulitan bangun dari tempat tidur setelah terjaga. Mereka mungkin juga mengabaikan aktivitas dasar seperti makan, mandi, dan kegiatan sehari-hari lainnya karena lebih memilih untuk tenggelam dalam lamunan.
Nah, ternyata ada bahaya yang bisa timbul karena terus melamun. Daripada Anda terus melamun, lebih baik sibukkan diri Anda dengan hal yang lebih penting dan jangan biarkan pikiran Anda kosong. Lebih baik manfaatkan waktu untuk melakukan hal-hal yang positif dan langsung bertindak mewujudkan mimpi Anda. So, jangan sering melamun lagi, ya! Ingatkan juga teman Anda yang suka melamun.