Apakah buah hati Mums mengalami gejala tertentu, seperti gatal-gatal, kemerahan, dan muntah setelah makan? Coba cek Mums, apakah ada kandungan telur dalam makanan si Kecil. Jika ada, bisa jadi si Kecil alergi telur lho, Mums. Dikutip dari kidshealth.orgBeberapa anak memiliki alergi terhadap jenis makanan tertentu, paling sering adalah seafood, telur dan kacang. Jika si Kecil alergi, ia akan merespon makanan tersebut sebagai zat berbahaya dan muncullah reaksi alergi yang bisa berbeda-beda pada masing-masing anak.  

 

Anak dengan alergi telur terjadi karena sistem kekebalan tubuhnya belum sempurna dan tidak mampu menerima protein yang terkandung pada telur. Sebagian anak biasanya alergi terhadap protein dalam putih telur, tapi tidak menutup kemungkinan alergi juga dapat disebabkan oleh protein kuning telur.

Baca juga: 4 Jenis Alergi yang Sering Dialami Bayi
 

Sistem kekebalan tubuh bertugas melindungi tubuh dari kuman dan ancaman zat berbahaya lainnya. Namun, bagi si Kecil yang alergi telur, tubuh menggunakan antibodi untuk melawan protein telur yang dianggap sebagai zat berbahaya, Mums. Bayi yang memiliki alergi telur mungkin akan merasa tidak enak badan, diikuti dengan munculnya ruam setelah mengonsumsi telur atau makanan yang mengandung telur. 

 

Gejala alergi telur yang ditunjukkan si Kecil dapat muncul segera setelah ia memasukkan makanan mengandung telur ke pencernaannya. Tanda paling sering adalah:

  • Di kulit muncul ruam dengan rasa gatal, eksim, kemerahan, atau bengkak
  • Di sistem pencernaan muncul gejala sakit perut, diare, mual, muntah, atau gatal di sekitar mulut
  • Gejala pada sistem pernapasan dapat berupa hidung berair, mengi, atau kesulitan bernapas
  • Sistem kardiovaskular menunjukkan denyut jantung lebih cepat, tekanan darah rendah, atau masalah jantung lainnya
  • Dalam kasus yang jarang terjadi, bayi menunjukkan reaksi alergi yang sangat serius (anafilaksis). Penanganan medis harus segera diberikan  karena si Kecil mungkin memiliki masalah pernapasan dan penurunan tekanan darah.

 

 


Cara Menangani Alergi Telur

Mums dan Dads harus peka setiap kali si Kecil jatuh sakit dan mengalami ruam saat atau setelah mengonsumsi telur. Biasanya, dokter meminta Mums menunggu sampai usia si Kecil cukup dan dokter akan memperbolehkan si Kecil untuk mencoba telur lagi. Jika si Kecil diduga memiliki alergi terhadap telur, hindarilah mengonsumsi telur maupun makanan yang mengandung telur sampai si Kecil diperiksa langsung oleh dokter. Dokter mungkin akan melakukan tes kulit untuk memeriksa alergen, baik terhadap telur maupun makanan dan zat lainnya, Mums.

Baca juga: Alergi Bisa Hilangkan Keceriaan Anak 

 

Si Kecil yang memiliki alergi telur harus siap terhadap kejadian yang tidak terduga, apalagi saat ia makan telur tanpa Mums ketahui. Diskusikan dengan dokter dan perawat untuk mengantisipasi kejadian tersebut. Setelah itu, anak Mums mungkin akan diberikan obat yang harus selalu dibawa, seperti antihistamin, atau pada kasus yang berat, epinefrin untuk menangani reaksi alerginya.

 

Jika sudah terbukti alergi, tentu saja cara paling efektif adalah menjauhkan bahan makanan berbahan telur dalam makanan si Kecil. Namun, Mums pastikan apakah si Kecil sangat sensitif terhadap telur, artinya ia tidak dapat mengonsumsi semua makanan yang mengandung telur termasuk kue dan cake, atau hanya telur utuh yang menimbulkan reaksi alergi.


Inilah berbagai bentuk telur yang tercantum pada label makanan:

  • Telur kering
  • Putih telur
  • Putih telur yang telah direbus
  • Kuning telur
  • Telur rebus
  • Telur bubuk
  • Telur utuh
Baca juga: Mengatasi Anak yang Terkena Alergi

Sebagai pengganti telur, Mums dapat menambahkan protein lain selain telur seperti daging merah, ayam, ikan, dan kacang-kacangan. Untuk kue, jika si Kecil menyukai makanan yang membutuhkan kue yang dipanggang, seperti cupcakes atau brownies, Mums dapat mengganti bahan telur dengan menggunakan 1,5 sendok makan (22,2 mililiter) minyak dan 1 sendok teh (5 mililiter) baking powder untuk setiap telur.  Kalau si Kecil memiliki lebih dari satu alergi makanan, Mums mungkin perlu berkonsultasi dengan dokter dan pakar gizi agar asupan gizi si Kecil terpenuhi. (TI/AY)