Penyakit

Autisme (Autism)

Secara harfiah autisme berasal dari kata auto yang berarti diri, dan isme yang berarti paham atau aliran. Autisme sendiri berasal dari bahasa Yunani yang berarti 'sendiri'. Anak autisme seolah-olah hidup di dunianya sendiri. Menurut WHO ICD 10 mendefinisikan autisme, khususnya childhood autism, sebagai adanya keabnormalan dan atau gangguan perkembangan yang muncul sebelum usia 3 tahun dengan tipe karakteristik tidak normalnya interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku yang diulang-ulang.

 

Anak autis merupakan salah satu anak berkebutuhan khusus, yang mengalami gangguan neurobiologis dengan adanya hambatan fungsi saraf otak yang berhubungan dengan fungsi komunikasi, motorik sosial, dan perhatian. Hambatan yang dialami anak autis merupakan kombinasi dari beberapa gangguan perkembangan saraf otak dan perilaku. Istilah autisme sering dikenal dengan gangguan pervasif atau Pervasif Development Disorder (PDD), yang kerap disebut Autism Spectrum Disorder.

Penyebab autisme pada anak masih belum diketahui secara pasti, sehingga tindakan pencegahan tidak bisa dilakukan secara optimal. Pada kasus autisme, definisi pencegahan lebih kepada mencegah keparahan perilaku penderita autisme. Namun demikian, upaya pencegahan agar anak lahir tidak mengalami autisme bisa dimulai dari awal kehamilan.

 

Hal-hal yang bisa dilakukan adalah dengan memastikan kecukupan nutrisi pada masa kehamilan serta menerapkan pola asuh yang benar, baik selama masih kandungan maupun pada saat bayi sudah lahir. Melakukan pemeriksaan kesehatan kehamilan secara berkala, mengurangi stres selama kehamilan, dan menghindari senyawa-senyawa yang dapat membahayakan kehamilan juga merupakan upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya autisme.

Menurut kriteria diagnostik dalam DSM IV (Autistic Disorder and Other Pervasive Development Disorder), gejala yang nampak pada penderita autisme meliputi:

  1. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial. Tidak mampu menjalin interaksi sosial yang memadai, misalnya melakukan kontak mata, ekspresi muka kurang hidup, dan gerak-gerik umumnya tidak bertujuan. Penderita autisme biasanya tidak bisa bermain dengan teman sebaya, tidak mampu berempati, dan kurang memiliki hubungan emosional yang timbal balik.
  2. Gangguan kualitatif dalam komunikasi, misalnya terlambat bicara atau keterampilan bicara tidak berkembang. Bila bisa bicara, sering menggunakan bahasa aneh yang diulang-ulang. Cara bermain pun kurang variatif, kurang imajinatif, dan kurang bisa meniru.
  3. Tindakan repetitif berdasarkan peminatan, misalnya mempertahankan 1 minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebih-lebihan, ada gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang, serta seringkali terpukau pada bagian-bagian tertentu pada benda.
  4. Selain dari 3 gejala tersebut, penderita autisme sekitar 75-80 persennya mengalami retardasi mental dengan derajat rata-rata sedang.

Secara pasti, penyebab autisme tidak diketahui. Namun, autisme dapat terjadi dari kombinasi berbagai faktor, termasuk faktor genetik yang dipicu faktor lingkungan. Ada beberapa teori penyebab autisme, yaitu:

  1. Teori Biologis, meliputi penyebab karena genetik dan herediter, kelainan pada fase prenatal, kehamilan hingga postnatal, gangguan neuroanatomi, maupun adanya perubahan struktur biokimiawi otak dan darah.
  2. Teori psikososial. Adanya hubungan emosional yang tidak harmonis dari orang-orang terdekat penderita autisme ternyata dapat memicu terjadinya autisme.
  3. Keracunan logam berat. 
  4. Gangguan pencernaan, pendengaran, dan penglihatan kondisi mengakibatkan perubahan pada biologis tubuh, sehingga bisa menjadi salah satu penyebab adanya kerusakan pada sel saraf.
  5. Gangguan autoimun tubuh. Gangguan pada sistem autoimun anak dapat mengganggu tumbuh-kembang, termasuk pada perkembangan saraf-sarafnya.

Untuk menegakkan diagnosa autisme secara medis, harus memenuhi kriteria di bawah ini:
A. Harus ada 6 gejala atau lebih dari poin 1, 2, dan 3 di bawah ini:

  1. Gangguan kualitatif interaksi sosial yang meliputi: Gangguan pada beberapa kebiasaan nonverbal (ekspresi wajah, sikap tubuh), kegagalan membina hubungan sesuai perkembangannya, tidak ada usaha spontan membagi kesenangan atau ketertarikan terhadap sesuatu kepada orang lain, serta tidak ada timbal balik sosial maupun emosional.
  2. Gangguan kualitatif dari komunikasi: Keterlambatan atau tidak adanya perkembangan bahasa yang diucapkan, kegagalan mempertahankan percakapan dengan orang lain, menggunakan bahasa meniru atau repetitif, serta tidak ada variasi bahasa atau kosa kata sesuai usia perkembangannya.
  3. Adanya aktivitas repetitif: Kesibukan yang abnormal, baik dalam intensitas maupun fokus, tampak tertarik terhadap rutinitas spesifik dan pada umumnya tidak berguna, kebiasaan motorik yang stereotipik.

 

B. Keterlambatan atau fungsi yang abnormal terjadi sebelum umur 3 tahun, dengan adanya gangguan dalam 3 bidang: interaksi sosial, penggunaan bahasa untuk komunikasi, bermain simbol atau imajinasi. 


C. Menyingkirkan diagnosis pembanding.

 

Dalam proses penegakkan diagnosis, biasanya akan dibantu dengan berbagai alat evaluasi yang perlu dikerjakan, baik oleh orangtua atau para profesional medis. Diagnosis harus dilakukan oleh ahli yang berpengalaman terhadap kasus ini.

Penanganan pada autisme harus secara terpadu, meliputi semua disiplin ilmu terkait: tenaga medis (psikiater, dokter anak, neurolog, dokter rehabilitasi medik) dan nonmedis (tenaga pendidik, psikolog, ahli terapi bicara/okupasi/fisik, pekerja sosial). Terapi pada autisme dibagi menjadi tata laksana medikamentosa dan nonmedikamentosa, yang keduanya bekerja secara sinergis.

 

Terapi nonmedikamentosa meliputi: terapi edukasi, terapi perilaku, terapi okupasi/fisik, terapi wicara, terapi sensori integrasi, terapi integrasi auditori, dan terapi intervensi keluarga. Sedangkan terapi medikamentosa yaitu dengan memberikan obat-obatan yang dapat memodifikasi sistem saraf, sehingga memberikan efek baik sebagai antipsikotik, depresan, ataupun obat-obat suportif lainnya yang dapat mengoptimalkan terapi. Selain itu, beberapa suplemen DHA dosis tertentu diketahui membantu terapi pada autisme.

Rekomendasi Artikel

Miskonsepsi dan Mitos tentang Autisme

Miskonsepsi dan Mitos tentang Autisme

Banyak informasi negatif seputar autisme yang beredar di masyarakat. Hal tersebut memengaruhi kualitas kehidupan sosial mereka.

GueSehat

02 April 2018

Direktori

    Proses...