“Kalau anak saya sakit, pasti karena vaksin palsu!”
Sebagian orang tua termasuk Anda mungkin tengah memiliki anggapan seperti itu. Ya, sejak terkuaknya kasus vaksin palsu di sejumlah daerah, kecemasan orang tua yang memiliki anak berusia bayi atau balita menjadi meningkat. Tak hanya perasaan takut dan panik, banyak keluarga korban yang turut menunjukkan kekesalan dan amarahnya pada pihak rumah sakit serta pemerintah. Bahkan, terdapat perwakilan orang tua korban vaksin palsu dari RS Harapan Bunda yang memberanikan diri untuk melapor dan mengajukan tuntutan langsung ke DPR. Sebanyak 14 rumah sakit telah dikabarkan menerima stok vaksin palsu dan 20 pelaku telah berhasil diringkus polisi. Bukan perkara yang mudah untuk sampai di titik ini. Pemerintah dan seluruh jajarannya pun tengah bersiap-siap kembali untuk melakukan pencarian lebih lanjut terkait jaringan pelaku yang ada. Masyarakat termasuk Anda pun mungkin menyoroti beberapa nama rumah sakit di daerah Bekasi, Jakarta Timur yang menjadi mayoritas tempat ditemukannya peredaran vaksin palsu. Bahkan, tercatat sudah terdapat kurang lebih 165 bayi yang positif menerima vaksin palsu di wilayah tersebut. Jelas bukan angka yang sedikit!

Kepercayaan yang Disalahgunakan

Kasus vaksin palsu yang mencuat ke permukaan menghadirkan berbagai respon dan tanggapan dari masyarakat. Salah satunya adalah ibu dari dua anak ini. Saat ditanyai tentang pendapat terkait vaksin palsu yang tengah beredar, ia mengatakan turut menjadi takut. Pasalnya, waktu terakhir kali memberikan anaknya imunisasi, ketersediaan vaksin tengah langka di rumah sakit sehingga ia mendapatkan vaksin dari klinik lain. Ia juga sempat merasa kesal dan mempertanyakan pelaku yang tega membuat vaksin palsu. Walaupun sempat yakin dengan vaksin di rumah sakit yang terpercaya, tak dipungkiri dirinya juga ikut terbawa cemas setiap kali mendengar kabar terbaru terkait vaksin palsu. Begitupula yang dirasakan oleh wanita yang memiliki satu anak ini. Sebagai seorang ibu, dirinya juga sangat menyayangkan kejadian vaksin palsu tersebut. Apalagi karena terbukti peredaran serta penjualannya sudah dilakukan sejak bertahun-tahun. Dirinya juga merasa senasib dengan orang tua yang padahal sudah mempercayakan kesehatan anaknya pada beberapa pihak namun ternyata disalahgunakan. Saat mendengar kabar tersebut, ia langsung menghubungi rumah sakit yang menjadi langganan vaksin anaknya serta mengkonfirmasi ke dokter terkait keaslian cairan vaksin yang dipakai. Selain itu ia juga menjadi aktif mencari informasi terkait bahaya vaksin palsu. Saat pendapat terkait kasus ini ditanyakan, beberapa orang bahkan mengaku sudah pasrah dan tidak tahu harus memberi komentar apa lagi. Bukannya acuh, tetapi mereka sudah lelah dengan pemberitaan vaksin palsu dan tidak tahu harus berbuat apa lagi selain menunggu kepastian dari pemerintah dan aparat keamanan. Mereka pun hanya bisa berharap imunisasi yang telah dilakukan oleh anak mereka tidak menggunakan vaksin palsu.

Sekalipun Dokter, Bisa Membahayakan Pasien

“Saya juga dokter, tapi merasa malu dengan kelakuan dokter yang justru memberikan vaksin palsu”
Tanggapan selanjutnya datang dari seorang ibu sekaligus dokter. Wanita yang bekerja sebagai dokter estetika tau kecantikan ini sangat amat menyayangkan kejadian penyebaran vaksin palsu yang justru dilakukan oleh institusi atau ahli kesehatan. Sebagai seorang dokter, dirinya ikut marah dan berharap karyawan rumah sakit bahkan direktur sekalipun untuk tetap bijak dalam mengambil keputusan medis. Karena kalau salah langka, bisa-bisa justru membahayakan pasien. Ia juga menyarankan pihak rumah sakit dan klinik kesehatan untuk selalu waspada akan penyelundupan vaksin palsu hingga ke tangan pasien. Sebagai seorang ibu dari satu anak laki-laki, dirinya juga merasa kecewa karena vaksin palsu telah menghancurkan sebagian impian orang tua untuk memiliki jaminan kesehatan yang terbaik bagi sang buah hati. Setiap orang tua menjadi bertanya-tanya, apakah vaksin yang diberikan pada anak saya asli atau palsu. Harapannya agar pelaku serta dalang dibalik kasus ini dapat segera terungkap dan masalah yang merugikan korban vaksin palsu ini juga dapat segera terselesaikan. Demikianlah beberapa tanggapan orang tua terkait kemunculan fakta vaksin palsu yang beredar. Marah, kesal, sedih dan kecewa. Anda berhak untuk menunjukkan perasaan-perasaan tersebut. Tetapi, salurkanlah kemarahan dengan cara yang baik. Jangan sampai kasus orang tua yang menghajar dokter rumah sakit setempat akibat vaksin palsu terulang kembali. Tetap aktif mencari tahu pembaharuan informasi seputar kasus ini dan tetap waspada terhadap kesehatan anak-anak Anda!