Anda pasti pernah bersinggungan dengan suatu benda bernama obat. Entah itu obat untuk Anda sendiri, atau untuk orang-orang terkasih di sekitar Anda. Jika mendengar kata obat, mungkin pikiran Anda akan langsung membayangkan bentuk-bentuk kapsul, pil, sirup, atau malah Anda akan berpikir tentang sesuatu yang pahit dan tidak enak. Namun, pernahkah Anda terpikir tentang bagaimana cara membuat obat?

Diperlukan Tempat Produksi Obat

Tentunya, butuh suatu tempat khusus untuk memproduksi obat. Maklumlah, namanya juga sesuatu yang akan dikonsumsi, masuk ke dalam tubuh, dan terlebih lagi akan memberikan suatu efek fisiologis bagi tubuh, maka cara pembuatannya pun tidak boleh main-main. Sebagai seorang apoteker, tentunya saya pernah mengunjungi pabrik pembuatan obat. Bukan cuma mengunjungi sih, lebih tepatnya saya melakukan kerja praktek disana. Pabrik obat adalah suatu tempat yang menurut saya sangat sophisticated. Mesin-mesinnya, teknologi yang digunakan, peraturan-peraturannya yang ketat, semua dihadirkan hanya demi satu tujuan: menyediakan kebutuhan obat yang aman dan efektif bagi masyarakat. Mau tahu apa saja keseruan yang ada dalam sebuah pabrik obat? Yuk, simak cerita saya!

Tidak Sembarang Tempat Dapat Memproduksi Obat

Di Indonesia, suatu pabrik obat haruslah memiliki sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik atau CPOB untuk mendapatkan izin memproduksi obat. Sertifikat ini dikeluarkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dan menyatakan kelayakan suatu pabrik dalam melakukan produksi obat. Untuk mendapatkan sertifikasi ini juga bukan sesuatu yang mudah. Banyak sekali aspek mulai dari peralatan yang digunakan, prosedur produksi, personel yang terlibat, sanitasi dan higienitas, hingga kondisi bangunan dan fasilitas. Jadi, sebetulnya Anda tidak perlu khawatir soal kualitas obat yang Anda konsumsi jika obat tersebut berasal dari pabrik yang sudah CPOB.

Ada Spesifikasi Khusus untuk Semua Alat dan Fasilitas

Seperti yang saya ceritakan tadi, produksi obat memang enggak bisa main-main, agar obat yang dihasilkan aman dan berkhasiat. Oleh karena itu, peralatan dan fasilitas yang digunakan semuanya punya spesifikasi yang detail dan harus dipenuhi. Di pabrik tempat saya kerja praktek dulu, konstruksi bangunan pabrik menggunakan suatu bahan stainless steel dengan kadar kekerasan tertentu yang mencegah adanya cemaran partikulat masuk ke produksi obat. Selain itu, hal khas lain adalah bidang pertemuan antara dinding dengan lantai. Kalau di bangunan biasa kan Anda tahu bahwa bentuknya siku-siku. Di pabrik obat, bidang pertemuan ini bentuknya cekung. Alasannya, supaya pembersihan lebih mudah dilakukan. Lantai yang digunakan pun bukan lantai keramik yang biasa digunakan di rumah-rumah, melainkan lantai yang menggunakan lapisan khusus agar mudah dibersihkan.

Air yang digunakan untuk produksi juga bukan sekadar air keran yang direbus atau air mineral biasa.

Air yang digunakan akan melalui berbagai proses filtrasi agar diperoleh spesifikasi kebersihan dan kandungan partikel yang cocok. Terutama nih, untuk air yang digunakan dalam pembuatan obat injeksi atau infus. Air ini tidak boleh mengandung partikel yang berukuran lebih besar dari 5 mikron, karena kalau sampai ada partikulat besar yang menyumbat peredaran darah ketika obat dberikan, bisa berakibat fatal buat pasien. Selain air, udara yang berhembus di ruang produksi pun memiliki spesifikasi khusus, sehingga ada alat yang digunakan untuk menyaring udara yang masuk tersebut, agar tidak mengandung partikulat berukuran besar itu tadi. Wow, banyak sekali ya persyaratan yang harus diperhatikan!

Ada Baju Khusus yang Digunakan

Sejujurnya, ini adalah salah satu hal yang kurang saya senangi dari suatu pabrik obat. Saya enggak bisa menggunakan baju yang cantik-cantik, karena begitu kita masuk ke daerah produksi, harus berganti menggunakan baju khusus. Baju yang digunakan sendiri bentuknya bervariasi, sesuai dengan kelas ruangan, tapi default-nya adalah seperti baju montir, lengkap dengan topi. Begitu pula dengan alas kaki, ada sepatu khusus yang digunakan. Semakin steril ruangan yang akan dimasuki, maka baju dan alas kaki yang digunakan pun semakin ribet. Bahkan jika masuk ke area pembuatan sediaan steril seperti injeksi atau infus, bajunya sudah seperti astronot saja, berlapis-lapis dan menutupi seluruh bagian tubuh sehingga hanya terlihat mata saja. Kenapa harus memakai baju khusus? Alasannya adalah karena baju yang kita pakai dari rumah kemungkinan besar mengandung paparan-paparan partikulat misalnya debu atau kotoran yang hinggap selama perjalanan. Kan gawat jika semua kotoran tersebut nempel di tempat produksi dan mencemari obat. Oh iya, bahan yang digunakan untuk membuat baju pun juga khusus dipilih bahan yang tidak melepaskan partikulat ke ruangan. Satu hal lagi yang membuat saya kurang sreg berada di pabrik obat, penggunaan make-up sangat dibatasi untuk para pekerja pabrik obat. Memang sih, hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas produk yang dihasilkan. Kan enggak asyik ya, kalau ada serbuk-serbuk bedak atau malah bulu mata palsu copot dan nyasar di adonan obat, hihi.

Checking, checking, checking

Proses pembuatan obat di pabrik secara garis besar dimulai dari proses penimbangan bahan baku, produksi obat dari bahan baku yang sudah disiapkan tersebut, pemastian kualitas obat yang dihasilkan, barulah kemudian dilakukan pendistribusian obat yang sudah jadi tersebut. Satu hal paling mendasar adalah pengecekan selalu dilakukan di setiap titik proses. Pengecekan terutama dilakukan untuk memastikan bahwa bahan yang digunakan tersebut memang benar-benar berisi zat aktif yang diinginkan atau tidak, kemudian apakah kadarnya sesuai persyaratan atau tidak. Kebanyakan bahan baku obat itu bentuknya serbuk dan hampir semuanya warnanya putih, jadi harus dipastikan banget kandungannya secara kimia, supaya enggak ada cerita salah produksi obat. Kan serem tuh, kalau tadinya mau bikin obat penurun tekanan darah kemudian salah menjadi obat yang justru digunakan untuk meningkatkan tekanan darah. Kualitas sediaan obat juga harus banget dijaga. Supervisor saya dulu pernah pening banget karena kadar obat dalam produk yang dihasilkan berada 0,1% di bawah batas minimalnya. Mungkin kalau di pabrik lain hal ini akan bisa diabaikan, tapi di pabrik obat, haram sekali hukumnya untuk mengeluarkan produk yang tidak sesuai spesifikasi. Pengecekan tidak hanya dilakukan untuk produk jadi saja, lho! Bahkan produk antara, alias setengah jadi, juga wajib diperiksa. Misalnya nih, ‘adonan’ yang akan digunakan untuk membuat tablet, harus dicek dahulu kadar dan identitasnya. Kalau oke, barulah adonan tersebut diperbolehkan dicetak menjadi tablet, dan lalu tablet yang dihasilkan diperiksa kembali mutunya. Wuih, detail sekali, ya! Nah, apakah Anda sudah mendapat gambaran mengenai apa yang terjadi di pabrik obat? Apakah menurut Anda semua hal dan cara membuat obat tersebut rumit? Menurut saya semua yang terjadi di pabrik obat memang cukup kompleks dan rumit, namun hal itu memang mutlak diperlukan agar produk obat yang dihasilkan aman dan berkhasiat bagi penggunanya. Pokoknya, patient safety is number one priority!