[caption id="attachment_726" align="aligncenter" width="690"]hand-drawn-medical [/caption] Dokter di Indonesia kerap kali di cap sebagai sosok yang ‘kurang’ dalam banyak hal, padahal dari sisi ilmu, saya yakin kami tidak kalah! Mungkin penyebabnya adalah komunikasi dengan pasien yang kurang jelas baik dari segi prosedur, terapi, alternatif, efek samping, dan terkesan terburu-buru dengan pasiennya, di saat dokter lain di negeri sebelah yang memberikan waktu lebih untuk memberikan penjelasan kepada pasien. Selain itu, dokter seringkali terkesan superior, sehingga terkadang pasien menjadi malu bertanya.

Apakah itu dipengaruhi dari pendidikan yang kami lewati? Ya, bisa saja.

Perjalanan menjadi seorang dokter di Indonesia sangatlah panjang. Lima tahun yang lalu saya memulai perjalanan saya di Fakultas Kedokteran Atma Jaya. Saya ingat betapa semangat dan takut yang saya rasakan disaat yang sama. Saya bersemangat untuk terjun ke dunia baru, namun takut untuk beradaptasi. Saya semangat dan tidak sabar untuk membuka buku-buku kedokteran, namun takut dengan segala kewajiban berupa ujian dan konon katanya kami akan tidur dengan mayat. Tapi semua hal akan terdengar menyeramkan apabila tidak melewatinya sendiri, dan terbukti saya sudah melewatinya! Pengalaman belajar ilmu kedokteran, melaksanakan fase praklinis dan klinis telah membuka mata saya mengenai seni kedokteran. Ternyata menjadi dokter juga membutuhkan people skills dan keinginan untuk mengerti satu sama lain, terutama pasien.

Praklinis

Pendidikan kedokteran di Indonesia di mulai dengan tingkat praklinis sebanyak 6-7 semester, dengan dihadiahi gelar S,Ked, kami akan melanjutkan ke tingkat klinik, dimana kami disebut dokter muda atau koas. Selama preklinik kami akan dipersiapkan dengan berbagai teori, dimulai dari cara belajar dengan baik yang benar, menemukan jurnal yang sesuai untuk sumber pembelajaran kami, serta topik kedokteran itu sendiri. Sebagian besar fakultas kedokteran menggunakan sistem blok sebagai acuan kurikulum, dan di Atma Jaya sendiri, kami menjalani ujian setiap 2 -3 minggu sekali selama 3,5 tahun. Setiap akhir semester kami menjalankan ujian praktek, seperti memasang infus, kateter, intubasi, dan lain-lain. Terdengar berat? Mungkin, tapi kami sudah terbiasa dengan ujian.

Apakah kami pernah membedah mayat?

Tidak, mahasiswa kedokteran tidak membedah mayat, tapi sudah dipersiapkan dalam bentuk yang dibutuhkan sebagai sarana pembelajaran kami. Jadi mahasiswa kedokteran memang belajar anatomi atau organ tubuh manusia dari sumbernya, yaitu mayat manusia sendiri. Apakah itu menyeramkan? Mayat yang digunakan sudah diawetkan, sudah bersih, sehingga mayat yang digunakan tidak menyeramkan.

Klinik

Fase klinik merupakan fase dimana saya menemukan kecintaan pada bidang kedokteran. Jaga malam dan dimarahi oleh konsulen (dokter spesialis pembimbing kami) merupakan makanan sehari-hari. Setiap hari  para dokter muda harus melakukan evaluasi terhadap gejala pasien, respon terhadap terapi yang diberikan, jumlah air yang diminum, jumlah pipis pasien dalam sehari, dan berbagai hal lainnya. Para konsulen mendidik para dokter muda untuk tahu tentang pasien dari A sampai Z, serta teori tentang penyakit itu sendiri. Saat ada hal yang kita lewatkan atau tidak dapat kami jawab, nasib kami berada di tangan konsulen. Jika mereka berbaik hati, kami diberikan kesempatan untuk membaca/membuat tugas. Jika kurang beruntung, hukuman berupa tambahan jaga malam menanti. Namun semua itu worth it saat pasien yang kami follow-up dapat tersenyum dan pulang dengan perbaikan. Setelah 2 tahun ditempa di dunia koas dan melewati Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI), kami akan berbangga dengan gelar dr. di depan nama kami. Apakah selesai sampai di sini? Tentu saja tidak, justru ini adalah pintu gerbang untuk terjun ke masyarakat. Kami akan mengurus berbagai berkas untuk keperluan internship, suatu program pemerintah untuk memantapkan pengalaman kami dengan menempatkan kami di kota-kota di penjuru Indonesia selama 1 tahun. Program internship merupakan syarat untuk mendapatkan Surat Ijin Praktek. Rentang antara sumpah dokter dan berangkat internship beragam, sekitar 3-4 bulan.

Terdengar lama dan merepotkan? Ya memang.

Belum lagi saat kita ingin melanjutkan ke sekolah spesialisasi. Saingan yang sangat banyak, hidup yang keras saat tahun pertama dan kedua spesialisasi, serta kebutuhan ekonomi si dokter itu sendiri merupakan tantangan yang berat untuk kami. Sebenarnya pilihan tidak hanya spesialisasi, masih ada S2 seperti manajemen rumah sakit dan bidang riset. Demikian mengenai pendidikan kedokteran di Indonesia secara singkat. Kecintaan terhadap ilmu kedokteran dan jiwa sosial yang cukup memang sangat dibutuhkan di bidang ini. Saya adalah salah satunya, sehingga dengan adanya saya di sini, saya berharap bisa menjadi ‘pembuluh darah’ yang menyalurkan informasi yang teman-teman butuhkan. Jika ada yang ingin ditanyakan, Anda bisa menuliskannya di kolom komentar di bawah artikel ini.  Salam sehat!