Penyakit

Batu empedu (Gallstone)

Gallstone atau cholelithiasis atau yang dikenal sebagai penyakit batu empedu adalah suatu kondisi terjadinya endapan cairan pencernaan yang mengeras seperti batu, yang terbentuk di dalam kantung empedu. Batu empedu terbentuk secara perlahan dalam waktu lama, dan kerap tidak menimbulkan gejala dalam jangka waktu tertentu. Kantung empedu adalah suatu organ pada tubuh yang terletak di bagian kanan rongga perut, di bawah hati.

Kantung empedu berfungsi sebagai tempat penyimpanan cairan pencernaan yang disebut cairan empedu, yang dihasilkan oleh hati dan akan diteruskan ke dalam usus kecil untuk membantu mencerna makanan. Batu empedu dapat berukuran kecil seperti butiran pasir hingga berukuran sebesar bola golf. Bagi penderita yang mengalami gejala dari penyakit batu empedu, biasanya memerlukan tindakan pengangkatan kantung empedu. Dan bagi yang tidak merasakan gejala, tidak memerlukan tindakan medis.

Penyakit batu empedu dapat timbul dengan berbagai macam faktor risiko. Tidak ada cara yang pasti untuk mencegah terbentuknya batu empedu, namun terdapat beberapa cara untuk mengurangi risiko seseorang mengalami kondisi ini, antara lain:

  • Menjaga berat badan ideal. Obesitas atau kelebihan berat badan dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit batu empedu. Lakukan pengaturan pola hidup dan pola makan yang sehat agar menjaga berat badan yang ideal.
  • Turunkan berat badan secara perlahan. Bagi seseorang yang sedang menurunkan berat badan, kehilangan berat badan secara drastis dapat meningkatkan risiko terbentuknya batu empedu. Lakukan pengaturan pola hidup dan pola makan sehat untuk menurunkan berat badan sekitar 0,5-1 kg per minggu.
  • Jangan lewatkan waktu makan, dan makanlah dengan teratur. Tidak makan atau berpuasa dapat meningkatkan risiko terbentuknya batu empedu.
  • Berolahraga secara teratur.
  • Kurangi konsumsi makanan yang banyak mengandung lemak
  • Konsumsi olive oil (minyak zaitun). Beberapa sumber mengatakan, terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa konsumsi minyak zaitun 2 sendok makan per hari dapat mengurangi risiko terbentuknya batu empedu.

Batu empedu biasanya tidak menimbulkan tanda ataupun gejala. Namun ketika batu empedu telah menyumbat salah satu dari saluran empedu, gejalanya dapat berupa:
• Nyeri tiba-tiba dan intensif pada daerah bagian atas dari abdomen (perut).
• Nyeri tiba-tiba dan intensif pada bagian tengah dari abdomen (perut), di bawah tulang dada.
• Nyeri punggung di antara tulang belikat.
• Nyeri pada bahu kanan.
• Mual dan muntah.
• Pada kondisi yang lebih serius, nyeri yang terjadi sangat hebat dan berlangsung lama, atau dikenal dengan kolik empedu. Selain itu, penderita mengalami demam tinggi dan menggigil, serta warna kulit dan bagian putih pada mata menjadi kuning.

Batu empedu diperkirakan terbentuk karena terdapat ketidakseimbangan kandungan cairan empedu di dalam kantung empedu. Tidak diketahui secara pasti penyebab dari ketidakseimbangan tersebut. Namun, batu empedu dapat terbentuk jika:

  • Cairan empedu terlalu banyak mengandung kolesterol, sehingga cairan empedu tidak dapat melarutkan kolesterol yang berlebih, dan kolesterol yang tidak terlarut dapat mengendap dan membentuk batu empedu.
  • Cairan empedu terlalu banyak mengandung bilirubin. Bilirubin merupakan senyawa kimia di dalam tubuh yang dihasilkan untuk memecah sel darah merah. Pada kondisi tertentu yang berhubungan dengan fungsi hati, serpeti pada sirosis hati, infeksi saluran empedu, dan beberapa gangguan darah, organ hati memproduksi terlalu banyak bilirubin. Bilirubin yang berlebih ini berkontribusi dalam pembentukan batu empedu.

Beberapa faktor risiko penyakit batu empedu, antara lain:
• Wanita.
• Berusia 40 tahun atau lebih.
• Obesitas atau kelebihan berat badan.
• Tidak melakukan aktivitas fisik dalam jangka waktu lama.
• Kehamilan.
• Pengonsumsi makanan tinggi lemak, tinggi kolesterol, dan rendah serat.
• Memiliki riwayat keluarga yang mengalami batu empedu.
• Penderita diabetes.
• Kehilangan berat badan secara drastis.
• Konsumsi obat-obatan, seperti yang mengandung estrogen.
• Penderita gangguan fungsi hati.

Diagnosis dilakukan dengan tujuan melihat gambaran dari kantung empedu dan batu empedu melalui USG abdomen dan CT scan. Juga dapat dilakukan beberapa tes untuk mengetahui apakah batu empedu telah menyumbat saluran empedu, melalui hepatobiliary iminodiacetic acid (HIDA) scan, magnetic resonance imaging (MRI), atau endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP). Serta dilakukan pengecekan terhadap sampel darah penderita untuk melihat kemungkinan komplikasi yang terjadi.

Kebanyakan penderita batu empedu tidak memerlukan tindakan atau pengobatan selama tidak menimbulkan gejala. Ketika gejala telah muncul, penanganan yang dilakukan, antara lain:

  • Tindakan pembedahan untuk mengangkat kantung empedu (cholecystectomy).
  • Terapi obat-obatan untuk melarutkan batu empedu. Terapi obat (ursodeoxycholic acid) dilakukan untuk membantu melarutkan batu yang sudah terbentuk, namun umumnya batu dapat terbentuk kembali ketika pengobatan dihentikan.

Direktori

    Proses...