Penyakit

Pusing Tujuh Keliling (Vertigo)

 

Vertigo merupakan sensasi kehilangan keseimbangan. Penderitanya akan merasa dirinya atau dunia di sekelilingnya berputar. Serangan pusing tujuh keliling ini dapat berlangsung secara tiba-tiba dan bertahan dalam beberapa saat, bahkan cukup lama.

Terkadang gejala vertigo jarang dirasakan, tetapi bisa pula berlangsung sangat parah, sampai-sampai mengakibatkan penderitanya kesulitan menjaga keseimbangan serta melakukan aktivitas sehari-hari. Kendati demikian, vertigo bukanlah penyakit, melainkan gejala dari masalah kesehatan tertentu yang sedang dialami oleh sang penderita.

 

 

Vertigo dapat dihindari dengan:

  • Tidak melakukan gerakan secara tiba-tiba untuk meminimalkan jatuh.

  • Langsung duduk ketika vertigo menyerang.

  • Tidur dengan posisi kepala lebih tinggi menggunakan beberapa bantal.

  • Berolahraga ringan.

  • Bangun dari tempat tidur secara perlahan, lalu duduk di tepi tempat tidur beberapa saat sebelum berdiri.

  • Menghindari mengambil sesuatu sambil menunduk.

  • Tidak memaksa menjulurkan leher, misalnya ketika sedang melihat benda yang posisinya lebih tinggi.

  • Menggerakkan kepala secara hati-hati dan perlahan.

 

 

Vertigo kerap dipicu oleh perubahan posisi kepala. Gejalanya dapat berlangsung beberapa menit hingga beberapa jam, lalu dapat hilang dan muncul kembali. Secara umum, gambaran vertigo meliputi perasaan berputar, dunia terasa miring, tubuh terasa berayun-ayun, tidak seimbang, dan tubuh seolah ditarik ke satu sisi.

Gejala-gejala umum lain yang muncul berbarengan dengan vertigo adalah:

  • Mual.

  • Muntah.

  • Gerakan mata yang tidak normal (nistagmus).

  • Pusing.

  • Berkeringat.

  • Telinga berdenging.

  • Kehilangan pendengaran.

  • Sulit berdiri atau berjalan.

 

 

Vertigo adalah gejala dari beberapa masalah kesehatan. Biasanya, masalah ini terjadi ketika seseorang mengalami gangguan pada telinga bagian dalam. Berikut masalah-masalah yang memicu timbulnya vertigo:

  1. Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BBPV). BBPV terjadi ketika sebagian kecil partikel kalsium (canaliths) membentuk gumpalan di bagian kanal telinga dalam. Telinga bagian dalam bekerja mengirimkan sinyal ke otak seputar gerakan badan dan kepala, yang terkait dengan gaya gravitasi. Inilah yang menjaga tubuh seseorang tetap seimbang.

  2. Penyakit Meniere. Ini adalah masalah bagian dalam telinga yang diduga diakibatkan oleh penumpukan cairan dan perubahan tekanan di dalam telinga. Penyakit Meniere menyebabkan munculnya vertigo bersamaan dengan suara berdenging (tinnitus) maupun kehilangan pendengaran.

  3. Vestibular neuronitis. Masalah telinga bagian dalam ini umumnya berhubungan dengan infeksi, yang cenderung diakibatkan oleh virus. Infeksi ini menimbulkan peradangan pada telinga bagian dalam, di sekitar saraf vestibular, yang berfungsi untuk tubuh merasakan keseimbangan.

  4. Migrain. Migrain adalah sakit kepala parah yang umumnya dirasakan di bagian depan atau salah satu sisi kepala. Masalah ini biasanya banyak dialami oleh anak-anak muda.

  5. Gangguan pada otak, misalnya tumor otak di dalam cerebellum yang berlokasi di bagian bawah otak, atau acoustic neuroma, yaitu tumor otak langka yang tumbuh di saraf acoustic (saraf yang membantu mengontrol pendengaran dan keseimbangan).

  6. Obat-obatan tertentu. Terkadang, vertigo merupakan efek samping setelah mengonsumsi tipe-tipe obat tertentu. Karenanya, Anda harus mengetahui secara pasti apa efek samping dari obat-obatan yang diberikan oleh dokter.

  7. Trauma atau luka di kepala dan leher. Cedera pada kepala dan leher, baik yang ringan maupun berat, sering kali menimbulkan gejala pusing atau vertigo.

 

 

Untuk mendiagnosis vertigo, dokter akan menanyakan gejala yang dirasakan selama serangan terjadi, kondisi yang sedang dilakukan ketika mengalaminya, berapa lama dan seberapa sering terjadi, apa pemicunya, apakah dibarengi dengan kehilangan pendengaran, tinnitus, atau muntah-muntah, serta apakah berpengaruh terhadap aktivitas sehari-hari.

Lalu, dokter akan menanyakan riwayat kesehatan dan keluarga, serta obat-obatan yang sedang dikonsumsi. Anda pun akan ditanyai apakah sedang atau pernah mengalami infeksi telinga maupun cedera kepala dan leher. Pemeriksaan selanjutnya berupa pemeriksaan bagian dalam telinga dan mata untuk melihat apakah terjadi nistagmus, pemeriksaan keseimbangan dengan Dix-Hallpike, serta pemeriksaan pendengaran menggunakan tes garpu tala dan tes audiometri.

Selain itu, terkadang perlu dilakukan pemeriksaan nistagmus secara detail melalui proses elektronistagmografi (ENG) dan proses perekaman gerakan mata dengan kacamata videonistagmografi (VNG), pengujian kalorik untuk organ keseimbangan, maupun uji posturography untuk memeriksa keseimbangan. Dan pada beberapa kasus, dokter akan menganjurkan pasien melakukan MRI-Scan atau CT Scan pada bagian kepala, untuk mencari tahu apakah terdapat tumor atau tidak.

 

 

Meski vertigo terkadang bisa sembuh dengan sendirinya, ada pula berbagai metode pengobatan yang dapat dicoba, di antaranya:

  • Manuver Epley untuk menangani BBPV, yaitu melakukan teknik reposisi kanalit yang meliputi 4 gerakan kepala yang berbeda dan menahan setiap posisi selama minimal 30 detik. Anda mungkin akan mengalami vertigo ketika melakukannya, namun kondisi ini lama-kelamaan akan membaik dalam waktu 2 minggu. Jika Anda tetap mengalami vertigo setelah 4 minggu, konsultasikanlah ke dokter.

  • Mengonsumsi obat-obatan, seperti prochlorperazine dan antihistamin.

  • Melakukan terapi rehabilitasi vestibular untuk membantu otak beradaptasi terhadap sinyal dari telinga yang dapat menimbulkan vertigo, sehingga frekuensinya berkurang.

  • Mengenali pemicu vertigo dan lakukan latihan supaya otak mampu beradaptasi dari serangan vertigo.

  • Bagi penderita penyakit Meniere, batasi konsumsi garam dalam menu sehari-hari.

 

Direktori

    Proses...