Ketika anak saya berusia 4 bulan, saya membaca berbagai artikel yang mengungkapkan bahwa bayi ASI eksklusif sangat rentan terkena anemia atau kekurangan zat besi. Kenapa hanya terjadi pada bayi ASI eksklusif? Karena ketika masuk usia 4 bulan, bayi membutuhkan zat besi yang banyak dan kandungan zat besi di dalam ASI tidak mencukupi kebutuhan tersebut. Berbeda dengan susu formula yang memang sudah diperkaya dengan zat besi sehingga bayi yang meminum susu formula tidak rentan terkena anemia. Tapi ini bukan berarti meminum susu formula lebih baik dibandingkan ASI ya! Karena secara keseluruhan kandungan nutrisi didalam ASI tentu lebih baik dibandingkan susu formula. Mengetahui adanya kemungkinan anemia pada bayi tentu mengagetkan karena selama ini saya pikir anemia itu adalah penyakit orang dewasa. Lalu kemudian saya mulai membaca dan mencari tahu bagaimana cara untuk menghindari anemia tersebut. Kemudian saya baru mengetahui bahwa cara mencegah kekurangan zat besi adalah dengan makan makanan yang tinggi zat besi dan juga mengonsumsi suplemen zat besi. Tapi sayangnya, di Indonesia konsumsi daging yang merupakan sumber zat besi yang tinggi dan mudah diserap oleh tubuh cenderung rendah dibandingkan negara maju seperti Amerika Serikat. Hal inilah yang menyebabkan mengapa bayi di Amerika Serikat jarang sekali yang mengalami anemia. Berbeda dengan Indonesia, yang menurut WHO tahun 2005, ada lebih dari 48% anak di Indonesia yang diperiksa ternyata mengalami kekurangan zat besi. WHO menganjurkan, untuk sebuah negara yang memiliki 50% kemungkinan bayi terkena anemia, bayi yang menyusui ASI yang ada dinegara tersebut untuk ditambahkan suplemen zat besi dalam konsumsinya sejak usia 4 bulan. Sayangnya, sebagian ibu-ibu belum tahu bahayanya anemia sehingga belum memberikan suplemen zat besi ini kepada anaknya. Padahal bahayanya bukan hanya sekedar terlihat pucat dan lesu seperti yang biasa ditemui pada orang dewasa, lho! Pada bayi, bahayanya lebih dari itu!

Berikut adalah sebagian efek buruk yang bisa didapatkan dari anemia :

  • Menghambat perkembangan motorik
  • Susah naik berat badan
  • Mudah terkena infeksi
  • Pucat dan lesu
  • Gangguan akademis di masa depan
Seram, ya! Ternyata memang banyak dampak negatif kekurangan zat besi. Melihat berbagai bahayanya ini, banyak orang tua yang sekarang memilih untuk memberikan suplemen zat besi pada bayi ASI. Tapi hal ini bukan berarti tidak ada yang menentangnya lho! Sebagian orang justru menentang pemberian suplemen zat besi karena hal-hal seperti berikut:
  • Dengan pemberian zat besi pada bayi dibawah usia 6 bulan, hal ini mengakibatkan bayi tidak bisa disebut bayi yang menyusui ASI eksklusif
  • Adanya kabar burung yang menyatakan bahwa pemberian zat besi justru bisa mengakibatkan autisme pada anak
Sementara bukti ilmiah lainnya sampai sekarang masih terus dicari dan diteliti. Berdasarkan artikel The Urban Mama yang saya baca ini, disebutkan bahwa studi yang dijadikan rujukan untuk suplementasdci universal mikronutrisi besi juga dianggap tidak cukup kuat untuk mengevaluasi efek potensial yang berbahaya dari pemberian tambahan zat tersebut pada bayi dengan level kandungan besi cukup, yang telah ditemukan di penelitian lain seperti kenaikan risiko infeksi dan perlambatan pertumbuhan (panjang dan lingkar kepala). Studi klinis yang dijadikan patokan kebijakan suplementasi universal inipun hanya didasarkan dari satu penelitian tunggal di tahun 2003 dengan sampel yang terlalu kecil (n=77), nilai drop out yang cukup tinggi (34%), low compliance terhadap konsumsi suplemen besi (56%), serta tingginya konsumsi susu formula pada responden. Pilihan untuk masing-masing ibu tentu berbeda dan pastinya semua ibu menginginkan yang terbaik untuk anaknya sehingga akan lebih baik jika kita menghormati setiap pilihan yang ada dan tidak menghakimi pilihan tersebut. Akan tetapi, melihat berbagai data di atas, saya lebih memilih untuk memberikan suplemen zat besi pada bayi saya yang memang hanya meminum ASI. Mudah-mudahan pilihan tersebut lah yang paling terbaik untuk anak saya! Happy parenting ya!