Penyakit

Difteri

Difteri adalah infeksi bakteri yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta dapat pula memengaruhi kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius, yang berpotensi mengancam jiwa jika tidak segera ditangani.

Langkah pencegahan paling efektif untuk difteri adalah dengan vaksin (tergabung dalam vaksin DPT - Difteri Pertusis Tetanus). Pemberian vaksin ini dilakukan 5 kali pada saat anak berusia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 1,5 tahun, dan 5 tahun.

Gejala yang muncul pada penderita difteri ialah:

- Terdapat lapisan tipis berwarna keabuan yang menutupi tenggorokan dan amandel.
- Demam dan menggigil.
- Sakit tenggorokan.
- Suara serak dan batuk.
- Gangguan pernapasan.
- Pembengkakan kelenjar limfa pada leher.

Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae dan umumnya memiliki masa inkubasi (rentang waktu sejak bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul) 2 hingga 5 hari. Difteri biasanya menular melalui udara (dari batuk maupun bersin penderita difteri), kontak dengan barang yang terkontaminasi bakteri, dan sentuhan langsung pada bisul penderita difteri.

 

Diagnosa difteri ditegakkan dengan dilakukannya pemeriksaan fisik, penelusuran gejala yang dialami pasien, dan dilakukan pengambilan sampel lendir di tenggorokan, hidung, atau bisul untuk diperiksa di laboratorium.

Dokter akan segera memberikan terapi terhadap pasien yang diduga kuat terinfeksi difteri, meskipun hasil laboratorium belum keluar. Perawatan akan dilakukan di ruang isolasi rumah sakit. Terapi utama difteri adalah antibiotik dan antitoksin. Antibiotik berfungsi untuk membunuh bakteri penyebab difteri, sedangkan antitoksin berfungsi untuk menetralisir racun yang dihasilkan oleh bakteri.

Rekomendasi Artikel

Saya Perlu Vaksin Difteri Tidak, Ya?

Saya Perlu Vaksin Difteri Tidak, Ya?

Sebenarnya difteri bisa dicegah. Anak di bawah 1 tahun memiliki jadwal suntik vaksin DPT sebanyak 3 kali untuk mencegah penyakit difteri.

Jessica Christy

12 December 2017

Direktori

    Proses...