Setiap orang memiliki kondisi tubuh yang berbeda. Begitu pula dengan respon abnormal dari sistem kekebalan tubuh atau alergi yang dimilikinya. Debu, wewangian, bulu, produk susu, hewan, atau udara dingin, bisa menjadi penyebab alergi tubuh. Namun biasanya seseorang baru menyadari memiliki alergi setelah mengalami kondisi tertentu. Tes alergi merupakan salah satu pemeriksaan dasar untuk mengetahui alergi dan respon yang tidak normal dari tubuh. Dengan adanya tes tersebut dapat membantu memastikan alergi yang Anda miliki benar merupakan alergi, sekaligus untuk mengetahui penyebab munculnya alergi yang dialami. Untuk mengetahui penyebab alergi (alergen) sebaiknya lakukanlah tes alergi terlebih dahulu. Hal pertama yang bisa Anda lakukan adalah dengan melihat riwayat alergi pada keluarga Anda. Bila kedua orangtua menderita alergi, maka kemungkinan Anda dapat menderita alergi yang sama sebesar 50%. Namun, meskipun tidak ada keturunan yang mengalami alergi, Anda tetap memiliki potensi alergi sekitar 15%. Oleh karena itu, tes alergi sangat penting untuk dilakukan sebagai upaya deteksi dini alergen yang bisa dialami.

Apa saja test alergi yang dapat dipilih untuk menentukan respon tubuh tidak normal?

  • Tes Tusuk Kulit :

    Tes alergi ini bermanfaat untuk mengetahui apakah seseorang memiliki alergi pada apa yang dihirup, seperti tungau, debu, serbuk sari bunga, serta alergi pada makanan seperti susu, udang, atau kepiting. Tes kulit ini dapat dilakukan untuk memeriksa hingga 33 jenis alergen. Tes dilakukan dengan menyuntikkan alergen ke lengan sisi bawah dengan jarum 2 mm. Hasilnya diketahui setelah 15-20 menit, jika positif memiliki alergi maka akan timbul bentol merah pada bekas tusukan jarum.
  • Tes Kulit Intrakutan :

    Tes ini bertujuan untuk mengetahui jenis alergi seseorang terhadap obat yang disuntikkan. Cara dan metode yang dilakukan hampir sama dengan tes tusuk kulit hanya suntikan berisi obat yang akan diteskan.
  • Tes Tempel :

    Tes ini untuk mengetahui alergi jika terjadi kontak terhadap bahan kimia, atau terjadinya dermatitis kontak. Tes dilakukan di punggung dan hasilnya bisa dilihat setelah 48 jam. Bila ada lentingan merah pada bagian yang disuntik maka hasilnya positif.
  • Tes RAST (Radio Allergo Sorbent Test) :

    Betujuan untuk mengetahui apakah seseorang memiliki alergi pada apa yang dihirup atau apa yang dimakan. Caranya dengan mengambil serum darah anak sebanyak 2 cc lalu diproses secara komputerisasi dan hasilnya bisa dilihat setelah 4 jam.
  • Tes Provokasi & Eliminasi Makanan :

    Tes ini berfungsi untuk mengetahui alergi terhadap makanan, obat, atau apa yang dihirup. Tes ini dilakukan dengan cara menerapkan diet untuk berpantang tehadap jenis makanan dan minuman tertentu selama 2-3 minggu. Bila tidak ada keluhan, maka akan diminta untuk mengonsumsi pencetus alergi. Tes provokasi dilakukan 1 minggu untuk makanan dan 1 minggu minuman bila ada gejala dicatat dan disebut alergi bila dalam 3 tes provokasi ditemui gejala.
  • Tes Provokasi Obat :

    Tes ini berfungsi untuk mengetahui alergi terhadap obat yang diminum sehingga bisa dengan cepat mengambil langkah atau cara mengatasi alergi obat. Metode yang digunakan dalam tes ini DPBC (Double Blind Placebo Control) atau uji samar ganda, dimana pasien diminta untuk minum obat dengan dosis yang dinaikkan secara bertahap lalu hasilnya bisa diketahui setelah 15-30 menit.
Itulah beberapa tes yang dapat Anda lakukan sebagai langkah untuk deteksi dini dalam melakukan tes alergi. Sebaiknya, tes alergi ini tidak dilakukan untuk mendeteksi seluruh kasus penyakit alergi. Tes alergi diperlukan untuk membantu mengetahui faktor pencetus gejala alergi dan bukan untuk menegakkan diagnosis penyakit alergi. Tes alergi juga tidak perlu dilakukan untuk kasus-kasus alergi yang faktor pencetusnya sudah dapat diketahui melalui proses tanya jawab dengan dokter Anda. Tes alergi ini dibutuhkan bagi pasien dengan gejala yang dicurigai sebagai penyakit alergi yang berat, persisten, atau berulang tanpa jelas diketahui pencetusnya.