Pertengahan tahun sudah tiba, dan jelaslah: saatnya berlibur! Libur Hari Raya Idul Fitri, libur kenaikan kelas buat yang memiliki buah hati, banyak sekali momen berlibur di pertengahan tahun ini. Supaya liburan Anda makin menyenangkan, tidak hanya urusan akomodasi, transportasi, dan destinasi saja lho yang harus diperhatikan. Yup, kesehatan juga harus ada dalam travelling checklist Anda. Tentunya tidak ada yang menginginkan sakit selama travelling, namun sebagaimana pepatah berkata untuk sedia payung sebelum hujan, maka ada baiknya juga Anda mempersiapkan obat-obatan di bawah ini di tas Anda. Ingat, tidak semua destinasi wisata memiliki toko obat yang mudah diakses lho! Saya pernah lupa membawa ‘kantong ajaib’ berisi persediaan obat saya saat sedang dinas kantor ke luar kota, dan di hari itu saya mengalami combo attack dalam bentuk menstrual pain atau sakit selama menstruasi dan flu berat plus konstipasi. Delay penerbangan membuat saya tiba di kota tersebut jam 11 malam dan saya tidak bisa menemukan apotek ataupun toko obat yang masih buka. Rasanya mau nangis banget! Supaya pengalaman saya yang memilukan tersebut nggak terjadi pada Anda, yuk simak obat-obat untuk travelling apa saja yang wajib Anda bawa berikut ini!

1. Obat penurun panas

Demam adalah kondisi dimana terjadi peningkatan suhu tubuh di atas suhu normalnya. Parasetamol (asetaminofen) adalah obat penurun panas (atau biasa disebut juga antipiretik) pilihan pertama yang dapat digunakan, biasanya dengan dosis 500 mg setiap 6 hingga 8 jam sekali. Parasetamol biasanya tersedia dalam bentuk tablet atau sirup. Selain parasetamol, ibuprofen juga dapat menjadi pilihan antipiretik terutama bagi anak-anak. Untuk anak, dosisnya bervariasi tergantung umur dan bobot badan, sehingga sangat disarankan untuk membaca leaflet yang terlampir di kemasan obat. Jika demam masih terus berlanjut setelah mengkonsumsi penurun panas, sebaiknya Anda memeriksakan diri ke dokter. Karena demam yang berkepanjangan terkadang menjadi tanda terjadinya infeksi. Selain untuk meredakan demam, parasetamol dan ibuprofen juga dapat digunakan untuk meredakan nyeri ringan, misalnya pada kondisi sakit kepala atau sakit gigi. Ingat, dua obat ini harus diminum sesudah makan ya, untuk mengurangi efek samping nyeri lambung.

2. Obat pereda flu dan batuk

Obat-obatan jenis ini biasanya dijual dalam bentuk kombinasi antara dekongestan, antihistamin, serta antitusif atau ekspektoran. Dekongestan digunakan untuk meredakan hidung tersumbat pada kondisi flu, contohnya adalah zat bernama pseudoefedrin. Antihistamin biasa ditambahkan dalam obat flu dan batuk karena sebagian besar kondisi flu dan batuk disebabkan karena adanya alergi, misalnya karena pollen (serbuk sari) atau pergantian cuaca. Contoh antihistamin adalah cetirizine, loratadin, atau klorpeniramin maleat (CTM). Antitusif adalah golongan obat yang digunakan untuk menekan refleks batuk, sehingga cocok digunakan jika batuk anda kering alias tidak berdahak, contohnya adalah dekstrometorfan. Sedangkan ekspektoran adalah zat yang digunakan untuk batuk berdahak karena berfungsi merangsang pengeluaran dahak tersebut, yang banyak digunakan misalnya gliseril guaiacolat. Karena bentuknya yang kombinasi, maka dosis penggunaan pun akan berbeda untuk tiap merk obat. Biasanya produsen obat mengatur komposisi obat tersebut agar dapat diminum 2 hingga 3 kali sehari. Pastikan Anda membaca keterangan obat dengan seksama sebelum mengkonsumsi, ya! Hal penting yang perlu diingat dalam konsumsi kebanyakan obat pereda flu dan batuk adalah efek samping mengantuk yang disebabkan oleh antihistamin, antitusif, dan dekongestan yang terkandung di dalamnya. Sehingga sebaiknya saat mengkonsumsi obat ini Anda berhati-hati dalam menjalankan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi, misalnya menyetir kendaraan bermotor.

3. Multivitamin

Itinerary yang padat terkadang membuat tubuh kekurangan asupan multivitamin dari luar, terlebih apabila selama liburan kandungan makanan yang kita konsumsi kurang seimbang gizinya. Multivitamin ini bervariasi komposisinya, namun yang paling umum digunakan untuk menjaga kondisi tubuh adalah vitamin C karena sifatnya sebagai antioksidan.

4. Obat gangguan pencernaan

Salah satu kegiatan paling menarik selama travelling tentunya adalah wisata kuliner, bukan? Mencicipi makanan asli suatu daerah itu rasanya pasti menyenangkan sekali. Tapi terkadang perut kita ‘berontak’ misalnya karena kebersihan makanan yang kurang terjaga, atau karena jadwal makan yang  tidak teratur saat liburan.

Obat Diare

Obat-obatan yang mengandung karbon aktif dapat menjadi pilihan Anda untuk mengantisipasi terjadinya diare selama berlibur. Karbon aktif atau attapulgite akan menyerap racun dari saluran cerna dan membantu meredakan diare. Lagi-lagi, dosisnya bergantung pada masing-masing merk, namun umumnya diminum dua tablet setelah buang air besar. Jangan lupa perhatikan dosis maksimal per hari yang ada di kemasan, ya.

Obat Konstipasi

Sebaliknya, obat anti konstipasi alias susah buang air besar pun sebaiknya Anda persiapkan. Terlebih jika Anda akan melakukan perjalanan panjang, dehidrasi adalah musuh utama yang bisa menyebabkan konstipasi karena kurangnya asupan cairan. Sirup berisi laktulosa dapat menjadi pilihan Anda, dengan kerjanya yang akan mengurangi konsistensi massa feses.

Obat Maag

Untuk Anda yang memiliki riwayat sakit maag, maka obat golongan antasida juga sebaiknya ada dalam daftar obat yang dibawa saat travelling. Antasida bekerja menetralisir produksi asam lambung yang berlebihan, dan biasanya di pasaran dijual dalam kombinasi magnesium trisilikat dan alumunium hidroksida. Biasanya disertai pula dengan zat untuk meredakan kembung semisal polisiloksan atau simetikon.

5. Losion atau spray penolak serangga

Jika Anda akan menghabiskan waktu liburan Anda di luar ruangan alias outdoor, ada baiknya sedia hal yang satu ini. Saya pribadi sih lebih menyarankan penolak serangga yang berasal dari bahan alami seperti citronella oil, lemongrass oil, atau lavender. Obat penolak serangga sebaiknya digunakan setelah Anda menggunakan body lotion dan sunblock. Pasalnya, zat penolak serangga kebanyakan bekerja dengan cara menghasilkan aroma yang tidak disukai oleh serangga, jadilah dia harus berada di ‘lapisan terluar’.

6. Obat-obatan rutin

Selain persediaan obat-obatan di atas, Anda juga wajib membawa persediaan untuk semua obat rutin yang Anda konsumsi. Misalnya jika Anda rutin mengonsumsi obat antihipertensi, anti diabetes, penurun kolesterol, obat-obatan untuk fungsi jantung, dan lain sebagainya. Untuk Anda yang memiliki riwayat asma dan menggunakan inhaler, sebaiknya Anda turut membawa serta inhaler Anda dan pastikan isinya masih cukup tersedia. Sangat disarankan untuk melakukan check up terlebih dahulu kepada dokter langganan Anda sebelum traveling agar Anda mengetahui kondisi Anda yang paling update dan dokter dapat membantu Anda untuk refill persediaan obat Anda untuk selama waktu liburan. Yang nggak kalah penting untuk diperhatikan adalah cara membawa obat-obat tersebut. Anda dapat menggunakan kantong atau dompet kecil untuk membawa persediaan obat-obatan ini dan taruhlah di tas tangan Anda. Sebaiknya jangan simpan persediaan obat Anda di tas bagasi agar Anda lebih mudah dijangkau saat dibutuhkan. Saya juga menyarankan agar Anda membawa serta salinan resep obat-obatan Anda untuk berjaga-jaga jika dibutuhkan dalam proses pemeriksaan, misalnya di airport. Satu hal lagi, sebaiknya semua obat-obatan tersebut Anda bawa dalam kemasan aslinya. Pertama, untuk mencegah kerusakan obat karena wadah penyimpanan yang kurang baik, dan kedua agar Anda selalu dapat mengakses informasi mengenai nama, dosis, dan cara penggunaan masing-masing obat yang biasanya tertera di kemasan obat. Melengkapi bawaan Anda dengan obat-obatan tentunya akan membuat pengalaman berlibur Anda lebih menyenangkan. Jika saja saya ingat untuk bawa obat mens, flu berat dan anti konspitasi saat dinas keluar kota! Selain membawa obat-obatan di atas, selalu ingat untuk membawanya dalam kemasan yang sesuai agar tetap ringkas tanpa mengurangi efektifitas obat tersebut.Tentu saja Anda boleh menambah daftar yang saya paparkan tadi sesuai dengan kebutuhan Anda. Because after all, you’re the one who know your body best. Selamat berlibur!

Daftar Obat-Obatan yang Perlu Anda Bawa Saat Travelling

1. Obat penurun panas
  • Parasetamol/asetaminofen, dosis lazim 500 miligram setiap 6 hingga 8 jam. Biasa tersedia dalam bentuk tablet atau kaplet dan sirup.
  • Untuk anak dapat juga digunakan ibuprofen dengan dosis bervariasi menurut bobot badan dan umur.
  • Jika demam masih terus berlanjut walaupun setelah minum parasetamol, hubungi dokter, karena kemungkinan ada infeksi penyerta.
2. Obat pereda flu dan batuk
  • Biasanya kombinasi antara dekongestan (pelega hidung tersumbat), antihistamin (anti alergi), antitusif (pereda batuk kering) atau ekspektoran (pengencer dahak).
  • Dosis bervariasi pada masing-masing merk obat, dapat dibaca di keterangan. Biasanya 2 hingga 3 tablet sehari.
  • Komponen di atas dapat menyebabkan kantuk, hati-hati saat menyetir.
3. Multivitamin
  • Komposisi dapat disesuaikan dengan kebutuhan
  • Vitamin C dapat menjadi pilihan karena fungsinya sebagai antioksidan.
4. Penolak serangga
  • Terutama jika selama liburan akan banyak kegiatan outdoor, misalnya di pantai.
  • Bisa berbentuk spray atau lotion
  • Digunakan setelah body lotion dan sunblock
5. Obat gangguan pencernaan
    • Obat anti diare, misalnya karbon aktif. Dosisnya tergantung merk. Diminum setelah episode buang air besar, perhatikan dosis maksimal di kemasan.
    • Obat anti konstipasi, contohnya sirup laktulosa. Diminum malam sebelum tidur untuk efek mempermudah buang air besar keesokan harinya.
    • Obat maag atau antasida untuk menetralkan asam lambung. Biasanya mengandung kombinasi magnesium trisilikat, alumunium hidroklorida, dalam kombinasi dengan pengurang kembung seperti simetikon atau dimetilpolisiloksan. Sebaiknya diminum sebelum makan
6. Obat yang rutin dikonsumsi
  • Obat yang selalu Anda konsumsi setiap hari untuk kondisi tertentu
  • Misalnya obat antihipertensi, anti diabetes, obat untuk fungsi jantung dan pembuluh darah
Penyimpanan:
  • Simpan di tas tangan (jangan di tas bagasi)
  • Bawalah dalam kemasan aslinya
  • Bawalah salinan resep jika dibutuhkan saat pemeriksaan imigrasi