Penyebab utama kebutaan adalah penyakit katarak. Data global menunjukkan katarak memengaruhi 100 juta lebih orang. Di Indonesia, katarak menyebabkan sekitar 81,2% kasus kebutaan pada usia 50 tahun ke atas.
Penglihatan yang jernih bukan sekadar soal melihat dengan baik, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menjalani hari dengan lebih mandiri, produktif, aman, dan percaya diri. Saat penglihatan mulai buram, warna tampak memudar, cahaya terasa menyilaukan, atau berkendara malam hari menjadi lebih sulit, kualitas hidup ikut terdampak. Salah satu penyebab paling umum dari kondisi tersebut adalah katarak, yaitu kekeruhan pada lensa alami mata yang umumnya terjadi seiring bertambahnya usia.
Dr. Nina Asrini Noor, SpM, Dokter Spesialis Mata sekaligus Kepala Divisi Riset dan Pendidikan JEC Group menjelaskan, katarak adalah gangguan pada lensa mata di mana lensa menjadi keruh (berawan), berubah warna dari kekuningan hingga kecoklatan, hingga akhirnya jika dibiarkan akan merenggut penglihatan sepenuhnya.
Data Katarak di Dunia
Secara global, katarak masih menjadi salah satu tantangan terbesar kesehatan mata. World Health Organization (WHO) mencatat katarak memengaruhi lebih dari 100 juta orang di dunia pada 2020, dengan sekitar 17 juta di antaranya mengalami kebutaan.
Di Indonesia, merujuk hasil survei Rapid Assessment of Avoidable Blindness atau RAAB 2014–2016 yang dilakukan oleh PERDAMI dan Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan di 15 provinsi menunjukkan angka kebutaan pada populasi usia 50 tahun ke atas mencapai 3 persen, dengan katarak sebagai penyebab tertinggi, yaitu sekitar 81,2 persen kasus kebutaan.
Dengan kata lain, katarak bukan hanya isu klinis, tetapi juga isu kualitas hidup, produktivitas, dan kemandirian masyarakat, khususnya pada kelompok usia dewasa dan lanjut usia.
Faktor risiko katarak meliputi:
1. Pertambahan Usia
Usia merupakan faktor risiko paling umum untuk katarak. Seiring bertambahnya usia, protein pada lensa mata dapat mengalami perubahan dan menyebabkan lensa menjadi keruh. Karena itu, katarak lebih sering ditemukan pada orang berusia di atas 50 tahun.
2. Paparan Sinar UV Berlebihan
Terlalu sering terpapar sinar matahari tanpa perlindungan dapat meningkatkan risiko kerusakan pada lensa mata. Paparan sinar ultraviolet (UV) dalam jangka panjang bisa mempercepat terbentuknya katarak, terutama pada orang yang sering beraktivitas di luar ruangan.
3. Diabetes
Menurut dr. Nina Asrini Noor, SpM, penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami katarak. Kadar gula darah yang tinggi dapat memengaruhi struktur lensa mata sehingga lensa lebih cepat menjadi keruh. Selain itu, diabetes juga meningkatkan risiko gangguan mata lainnya.
Teknologi Terbaru Operasi Katarak
Lebih lanjut dr. Nina Asrini Noor, SpM, menjelaskan bahwa katarak bisa ditangani dengan operasi. Operasi dilakukan dengan cara mengangkat lensa mata yang keruh dan menggantinya dengan lensa buatan (intraocular lens atau IOL).

Operasi katarak termasuk prosedur yang umum dilakukan dan memiliki tingkat keberhasilan tinggi. Jakarta Eye Center memperkenalkan teknologi Femtosecond Laser-Assisted Cataract Surgery (FLACS) di mana operasi katarak tidak lagi hanya dipahami sebagai tindakan untuk mengganti lensa mata yang keruh, tetapi sebagai bagian dari perencanaan penglihatan yang lebih menyeluruh, mulai dari pemeriksaan kondisi mata, pemilihan teknologi bedah, hingga penentuan lensa tanam atau intraocular lens (IOL) yang paling sesuai dengan kebutuhan pasien.
“Dalam satu dekade terakhir, kemajuan teknologi medis terus membuka jalan baru bagi kualitas hidup yang lebih baik, termasuk bagi mereka yang mengalami gangguan penglihatan akibat katarak. Dulu, operasi katarak sering dipahami sebatas mengangkat lensa yang keruh. Kini, dengan teknologi modern seperti FLACS dan pilihan lensa tanam yang semakin beragam, pasien tidak hanya dibantu untuk melihat kembali, tetapi juga untuk mendapatkan kualitas penglihatan yang lebih sesuai dengan aktivitas dan gaya hidupnya,” jelas dr. Nina.
Apa itu FLACS?
FLACS merupakan salah satu bentuk transformasi dalam bedah katarak. Secara umum, teknologi ini menggunakan laser femtosecond yang dipandu komputer dan sistem pencitraan optik untuk membantu beberapa tahapan penting dalam operasi katarak, termasuk pembuatan sayatan kornea, pembukaan kapsul lensa, dan pemecahan lensa yang keruh sebelum kemudian diganti dengan lensa tanam.
Presisi menjadi salah satu keunggulan FLACS, terutama ketika operasi katarak tidak hanya bertujuan menghilangkan kekeruhan lensa, tetapi juga mengoptimalkan penglihatan setelah tindakan. Dengan perencanaan yang lebih terukur, dokter dapat menyesuaikan tindakan dengan kondisi mata pasien, termasuk anatomi mata, tingkat katarak, kebutuhan penglihatan, serta pilihan lensa tanam yang akan digunakan.
Hal yang tidak kalah penting adalah pemilihan lensa tanam atau intraocular lens/IOL yang tepat. Lensa inilah yang akan menggantikan lensa alami mata yang keruh, sehingga sangat berperan dalam menentukan kualitas penglihatan pasien setelah operasi.
Dalam operasi katarak, lensa alami mata yang keruh akan diangkat dan digantikan dengan lensa buatan berukuran kecil yang disebut intraocular lens (IOL), yaitu lensa artifisial yang ditanamkan di dalam mata untuk menggantikan lensa alami yang telah diangkat saat operasi katarak. Seiring perkembangan teknologi, pilihan IOL kini semakin beragam, sehingga pasien memiliki opsi yang lebih personal sesuai kebutuhan aktivitas sehari-hari.
Menurut dr. Nina, di JEC Eye Hospitals and Clinics, tersedia beragam lensa tanam untuk memenuhi kebutuhan setiap pasien. Pilihan tersebut mencakup lensa tanam monofokal multifokal, lensa tanam EDOF atau Extended Depth of Focus dan Lensa Tanam Toric (khusus pasien dengan astigmatisme atau mata silinder).
“Pemilihan lensa tanam yang tepat menjadi semakin penting karena kebutuhan penglihatan setiap orang berbeda. Seseorang yang banyak membaca, bekerja di depan laptop, dan aktif menggunakan gawai tentu memiliki kebutuhan visual yang berbeda dengan mereka yang lebih sering berkendara, bekerja di luar ruangan, atau menjalani aktivitas sosial yang tinggi,” ungkap dr. Nina.
