Tahukah Geng Sehat, bahwa lebih dari 3,9 miliar orang berisiko terinfeksi dengue di seluruh dunia, dengan sekitar 390 juta kasus terjadi setiap tahun, menjadikan dengue sebagai salah satu tantangan kesehatan masyarakat paling serius secara global.

 

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama Koalisi Bersama (KOBAR) Lawan Dengue pada 9-10 Februari 2026, menyelenggarakan Forum Regional sebagai bentuk kolaborasi melawan dengur di kawasan Asia Tenggara.

 

Forum ini dihadiri oleh sekitar 150 peserta dan panelis yang terdiri dari pembuat kebijakan, otoritas kesehatan, organisasi regional dan global, komunitas ilmiah, serta mitra pembangunan dari negara-negara ASEAN, termasuk perwakilan 10 dari 11 negara anggota ASEAN.

 

Ancaman Dengue secara Global

Dengue masih menjadi salah satu tantangan kesehatan publik paling serius secara global maupun regional. Antara Januari hingga Maret 2025, lebih dari 1,4 juta kasus dengue dan lebih dari 400 kematian dilaporkan di 53 negara dan teritori dalam wilayah WHO.

 

WHO mencatat bahwa dengue kini menjadi salah satu penyakit tular vektor dengan pertumbuhan tercepat di dunia, dengan kawasan Asia Pasifik sebagai kontributor kasus terbesar.

 

Kawasan ASEAN telah lama diakui sebagai episentrum global penularan dengue, dengan banyak negara anggota menghadapi wabah siklikal dan kondisi endemis yang berkelanjutan.

 

Data European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) menunjukkan bahwa hampir 400.000 kasus dengue dilaporkan di Asia Tenggara sejak awal tahun 2025 hingga Oktober–November 2025, dengan Vietnam mencatat jumlah kasus tertinggi, diikuti oleh Indonesia, Thailand, Malaysia, Laos, dan Singapura.

 

Data Kementerian Kesehatan RI juga mencatat bahwa Indonesia menyumbang sekitar 66 persen dari total kematian akibat dengue di Asia dan menjadi salah satu negara dengan jumlah kasus tertinggi di kawasan.

 

Kesamaan Geografis

Penularan dengue di ASEAN bersifat inheren lintas negara, dipengaruhi oleh kesamaan kondisi ekologis, mobilitas lintas batas, konektivitas perkotaan, serta variabilitas iklim, sehingga menegaskan pentingnya respons regional yang terkoordinasi.

 

Selain berdampak pada kesehatan, dengue juga menimbulkan konsekuensi sosial-ekonomi yang signifikan. Di Indonesia saja, klaim layanan kesehatan terkait dengue mendekati Rp 3 triliun pada 2024, dengan estimasi total kerugian ekonomi mencapai hampir Rp15 triliun per tahun.

 

Pendekatan inovatif sukses turunkan angka dengue

 Kemenkes mencatat, di tahun 2024 terdapat 257.271 kasus dengue dengan lebih dari 1.400 kematian. Hingga Desember 2025, jumlah kasus masih tercatat 161.752 dengan 673 kematian, menegaskan bahwa dengue tetap merupakan ancaman kesehatan masyarakat yang terjadi sepanjang. Terdapat penurunan angka kasus dengue hingga ke angka 57 per 100.000 penduduk pada tahun 2025

 

Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Prof. Asnawi Abdullah, Ph.D, memaparkan bahwa 2024 kasus dengue sangat tinggi di Indonesia. Namun untungnya terjadi penurunan yang cukup signifikan di tahun 2025.

 

Menurut Prof. Asnawi, salah satu penyebabnya adalah pendekatan inovatif dalam pengendalian dengue, terutama teknologi nyamuk Wolbachia dan vaksin dengue.

 

 “Keberhasilan Indonesia menurunkan angka kejadian dengue secara signifikan pada tahun 2025 merupakan buah dari strategi kesehatan yang inovatif. Menurutnya, penggunaan teknologi Wolbachia dan vaksinasi menjadi kunci utama dalam melindungi masyarakat di tengah cuaca yang tidak menentu. Ini adalah hasil nyata dari pergeseran strategi kita yang lebih proaktif dan adaptif terhadap perubahan iklim, terutama melalui perluasan teknologi Wolbachia dan penguatan cakupan vaksinasi." tandasnya.

 

Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan, dr. Prima Yoshepine di sela-sela forum kepada media menyatakan, saat ini proyek teknologi Wolbachia baru diadakan di 5 wilayah di Indonesia, di mana hasilnya cukup menjanjikan. Salah satunya di Yogyakarta terjadi penurunan insiden dengue yang signifikan setelah penyebaran nyamuk Wolbachia.

 

Sementara program pelaksanaan imunisasi dengue sampai 2025 baru diadalah oleh 11 area. “Untuk program imunisasi kami meminta kemandirian dari masing-masing pemerintah daerah untuk menyelenggarakan imunisasi secara mandiri karena saat ini imunisasi dengue belum menjadi program nasional,” jelas dr. Prima.

 

 Melalui Kementerian Kesehatan, Pemerintah Indonesia saat ini juga tengah menyiapkan Rencana Aksi Nasional 2026–2029 Penanggulangan Dengue, menuju pencapaian Zero Dengue Deaths pada 2030.

 

Forum ini menegaskan kembali bahwa pencapaian Zero Dengue Deaths by 2030 hanya dapat diwujudkan melalui kepemimpinan kolaboratif, inovasi berbasis sains, serta keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan.

 

Pencegahan dengue tidak hanya bergantung pada satu intervensi, melainkan pada kombinasi penguatan surveilans, pengendalian vektor, edukasi masyarakat, kesiapsiagaan sistem kesehatan, serta pemanfaatan inovasi pencegahan –termasuk vaksinasi-- yang dinilai secara cermat, berbasis bukti, dan dilaksanakan secara bertanggung jawab sesuai kebutuhan kesehatan masyarakat.