Penyakit gigi tidak kenal usia. Masih banyak dijumpai anak-anak hingga dewasa yang mengalami masalah gigi, terutama gigi berlubang. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebanyak 90% masyarakat Indonesia yang mengalami masalah gigi belum mendapatkan perawatan dari tenaga medis profesional.

 

Sayangnya, 9 dari 10 orang cenderung membiarkan rasa sakit atau melakukan pengobatan mandiri tanpa diagnosis dokter. Situasi ini diperberat oleh rasio pelayanan medis yang masih berada di angka 1:8.000 serta keberadaan 2.375 puskesmas di Indonesia yang beroperasi tanpa dokter gigi.

 

Menjawab kesenjangan aksesibilitas dan kekhawatiran masyarakat terhadap biaya serta rasa sakit saat perawatan, dalam rangka Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN), SATU Dental Group mengundang media untuk mengenal lebih dekat pelayanan gigi yang terintegrasi dan juga edukasi seputar kesehatan gigi pada 15 September 2026.

 

Menurut Satria Situmorang, CEO SATU Dental Group, ada tiga alasan utama mengapa orang enggak memeriksakan gigi ke klinik gigi yaitu keterbatasan akses, persepsi biaya mahal yang tidak transparan, serta rasa takut akan tindakan medis. "Satu Dental hadir sebagai solusi holistik untuk meruntuhkan tiga hambatan utama masyarakat dalam merawat gigi," ujar Satria Situmorang

 

Saat ini belum semua kalangan bisa menjangkau akses pelayanan ke dokter gigi, terutama di daerah, terutama layanan yang advance. Poli Gigi di Puskesmas memang sudah menyediakan emeriksaan, pengobatan dasar, serta tindakan medis gigi dan mulut seperti penambalan, pencabutan, dan pembersihan karang gigi. Tapi untuk tindakan yang lebih kompleks, biasanya pasien akan dirujuk ke fasilitas kesehatan gigi yang lebih lengkap.

 

Jangan Tunggu Sakit Baru ke Dokter Gigi

Kebiasaan masyarakat Indonesia kebanyakan akan datang ke dokter gigi saat sakit gigi. Bisa jadi sudah terlambat. drg. Melissa Delania, Sp.Pros, yang juga VP Medical Affairs Satu Dental Group, menjelaskan, ketika datang ke dokter gigi karena gigi berlubang yang sudah infeksi, maka tindakannya tidak lagi mudah.

 

“Sakit gigi tidak datang tiba-tiba, tetapi sudah melalui proses yang panjang. Biasanya wal gigi berlubang tidak terasa sakit, sampai kemudian lubang semakin dalam dan mengenai saraf-saraf gigi dan menyebabkan nyeri. Tapi, jika dibiarkan lama-lama saraf gigi akan mati dan tidak lagi terasa nyeri. Ketika gigi berlubang sudah tidak terasa sakit lagi, artinya saraf sudah mati, dan ini justru menjadi sumber infeksi yang dapat meluas, dan menekan area di sekitar jaringan penyangga, bahkan infeksi bisa menyebar melalui darah sampai menyebabkan kematian,” jelas drg. Della.

 

Drg. Della melanjutkan, pennyebaran infeksi yang berawal di gigi kadang lebih cepat sehingga tindakan yang dilakukan sudah terlambat. Oleh karena itu, pergi ke dokter gigi rutin sebelum masalah datang sangat disarankan.

 

“Bagi yang belum pernah ke dokter gigi karena tidak pernah sakit gigi, pasti ada masalah yang ditemukan, minimal karang giginya perlu dibersihkan untuk mencegah radang gusi. Dalam satu kali kunjungan, paling banyak hanya bisa dilakukan 1-3 tindakan pada masalah gigi, sehingga kadang pasien perlu datang berkali-kali. Tapi kalau sudah tidak lagi ada masalah gigi, tinggal cek 6 bulan sekali,” ujar drg. Della.

 

Kebiasaan hidup sehat untuk mencegah gigi berlubang juga perlu dilakukan dengan perawatan dasar yaitu sikat gigi pagi setelah sarapan dan menjelang tidur, flossing, dan berkumur. “Jangan lupa mengurangi ngemil, karena ngemil adalah salah satu penyebab gigi mudah berlubang. Ngemil membuat pH di dalam ringga mulut rendah dan ini menjadi lingkungan yang baik buat bakteri berkembang menyebabkan gigi berlubang.”

 

“Kami ingin mengajak masyarakat untuk aktif membangun kebiasaan pemeriksaan gigi rutin demi senyum masa depan yang lebih sehat, dengan cara deteksi dini sejak awal dan melakukan pembersihan gigi berkala. Dengan begitu kita akan lebih tampil percaya diri, karena selain gigi sehat, napas juga senantiasa segar dan bebas khawatir saat berinteraksi dengan orang lain,” ujar drg. Della.

 

Mengedepankan Rasa Aman

Untuk membuat pasien semakin nyaman melakukan perawatan gigi, Satria Situmorang menambahkan bahwa Satu sental menghadirkan ekosistem kesehatan gigi terintegrasi. Ekosistem ini menggabungkan jaringan klinik gigi, distributor e-commerce peralatan gigi Klik Dental, serta laboratorium berbasis teknologi modern Dua Lab & Tech guna menekan biaya operasional tanpa mengorbankan kualitas layanan.

 

Dan untuk memastikan rasa aman pasien dan menjamin standarisasi kualitas di seluruh cabang, Satu Dental yang sudah memiliki 57 jaringan klinik, menerapkan kontrol ketat pada tenaga medis. Proses rekrutmen menyaring lulusan terbaik dari universitas terkemuka, dipadukan dengan bimbingan SOP medis yang rutin dan terstruktur.

 

"Kami ingin mengubah rasa takut pasien menjadi rasa aman. Setiap dokter gigi di jaringan kami dibekali pelatihan berkelanjutan melalui SATU Dental Academy. Program ini memberikan pembinaan keterampilan teknis dan soft skill terbaik yang dimentori langsung oleh dokter senior serta spesialis, sehingga seluruh tindakan medis terjamin presisi, higienis, dan minim rasa sakit," pungkas drg. Della.