Penyakit

Vaginitis

Vaginitis adalah inflamasi atau peradangan yang terjadi pada vagina dan dapat menyebabkan keputihan, rasa gatal, serta nyeri. Jenis vaginitis yang banyak terjadi antara lain:

  • Vaginitis bakteri, yang disebabkan adanya pertumbuhan berlebih bakteri di vagina.
  • Infeksi jamur, yang biasanya disebabkan oleh jamur alami yang terdapat pada vagina yaitu Candida albicans.
  • Trikomoniasis, yang disebabkan oleh parasit dan umumnya ditularkan melalui hubungan seksual.

Menjaga kebersihan dapat mencegah terjadinya beberapa jenis vaginitis, mulai dari menyembuhkan peradangan berulang hingga meredakan gejala yang dialami. Yang bisa dilakukan ialah:

  1. Jangan mandi, berendam, atau melakukan spa untuk sementara waktu.
  2. Hindari hal-hal yang dapat menambah parah iritasi, seperti menggunakan pembalut dengan tambahan bahan pewangi atau membersihkan area genital dengan sabun beraroma dan antibakteri. Basuh area genital menggunakan air hingga bersih setelah mandi, lalu keringkan untuk mencegah iritasi.
  3. Basuh area genital dengan air dari depan ke belakang setelah buang air.
  4. Jangan menyemprotkan air ke dalam vagina. Ini akan mengganggu organisme normal yang tinggal di area vagina dan berpotensi meningkatkan risiko terkena infeksi.
  5. Menggunakan kondom ketika berhubungan intim mampu menghindari Anda mengalami atau tertular infeksi.
  6. Mengenakan celana dalam berbahan katun.

Terdapat beberapa gejala yang patut Anda waspadai sebagai masalah vaginitis, di antaranya perubahan warna, bau, dan jumlah dari keputihan, gatal dan iritasi pada vagina, nyeri ketika melakukan hubungan intim, nyeri ketika buang air kecil, serta terjadi perdarahan vagina ataupun vlek.

Selain gejala-gejala di atas, Anda juga harus segera berkonsultasi ke dokter jika merasa tidak nyaman pada bagian vagina, terutama jika Anda belum pernah mengalami infeksi pada vagina, infeksi berulang, berganti-ganti pasangan, sudah melakukan pengobatan namun tidak kunjung sembuh, demam, meriang, atau merasa nyeri pada bagian panggul.

Vaginitis umumnya disebabkan oleh ketidakseimbangan organisme normal vagina. Penyebab lainnya dapat berupa:

  1. Infeksi jamur atau bakteri.
  2. Penyakit menular seksual, seperti trikomoniasis, chlamydia, dan herpes genital.
  3. Iritasi akibat bahan-bahan kimia, misalnya karena kandungan sabun, pewangi pakaian, atau kondom yang memicu reaksi alergi.
  4. Atrofi vagina, yaitu penipisan dinding vagina karena penurunan kadar estrogen setelah menopause.

Untuk mendiagnosis vaginitis, dokter akan menanyakan riwayat kesehatan Anda, termasuk kesehatan vagina atau apakah Anda pernah mengalami penyakit seksual menular. Lalu, dokter akan melakukan pemeriksaan pelvis menggunakan speculum untuk mengecek bagian dalam vagina. Kemudian, dokter akan mengevaluasi karakteristik sekret dan pemeriksaan mikrobiologi, serta memeriksa pH dinding vagina Anda.

Pengobatan yang dilakukan tergantung dari jenis vaginitis yang terjadi. Jika terjadi akibat infeksi bakteri, dokter akan memberikan antibiotik seperti metronidazole dan clindamycin. Sedangkan jika akibat infeksi jamur, penderita akan diberikan obat anti-jamur, seperti miconazole, clotrimazole, tioconazole, dan fluconazole. Untuk vaginitis akibat trikomoniasis, dokter akan meresepkan metronidazole dan tinidazole. Dan untuk yang disebabkan oleh atrofi vagina, pasien akan diberikan estrogen.

Direktori

    Proses...