Coba tanyakan pada orang-orang di sekitar Anda, siapa sosok terhebat dalam hidupnya? Tentu banyak yang akan menjawab dengan lantang, “Ibu saya!” Jawaban tersebut tidak mengherankan mengingat peran ibu yang begitu luar biasa dalam kehidupan anaknya. Mulai dari dalam kandungan hingga akhir hidupnya, ibu akan berusaha mengupayakan yang terbaik bagi anaknya. Anda juga pasti merasakan kasih sayang yang sama dari ibu Anda. Bertepatan dengan peringatan hari Ibu, 22 Desember ini, Anda bisa mengungkapkan terima kasih atas kasih sayang yang diberikan oleh ibu Anda. Seperti lirik lagu “Kasih Ibu kepada Beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali,” kasih sayang yang diberikan oleh seorang ibu sama sekali tidak mengharap balasan apa pun. Namun, ucapan terima kasih yang disampaikan di hari ibu ini setidaknya bisa mengungkapkan bagaimana Anda juga sangat menyayangi ibu Anda. Ucapan terima kasih apa yang ingin Anda ungkapkan di hari Ibu ini? Berikut surat cinta singkat yang telah dituliskan oleh beberapa orang, sebagai ucapan terima kasih atas kasih sayang ibu selama ini.

From: Wika

To: Ibu

Dear Ibu, Terima kasih atas segala pengorbanan yang telah Engkau berikan untukku. Menyayangiku sejak aku berada dalam kandunganmu hingga saat ini. Mengerti setiap kata yang aku ucap maupun tersimpan, pelipur lara di setiap sedihku, penyemangat di setiap letihku. Maaf kan aku karena sampai saat ini masih belum bisa membahagiakanmu. Dalam doaku selalu kupanjatkan agar Kau tetap sehat, agar bisa melihat kesuksesanku yang selalu menjadi kebahagian dan kebanggaanmu. Aku ingat bagaimana Ibu selalu mengatakan pada banyak orang ketika aku lulus sekolah, pertama kali bisa mendapatkan pekerjaan, hingga aku bisa membelikan barang-yang sebenarnya sederhana untukmu. Terima kasih ibu, aku yakin setiap kebahagian yang terjadi dalam hidupku merupakan doa darimu yg dikabulkan oleh Tuhan.

From: Ika

To: Mami

Dear Mami tercinta,

Selamat hari ibu, Mami! Ika mau mengucapkan terima kasih kepada Mami, untuk semua hal yang Mami berikan kepada keluarga ini, khususnya untuk Ika, selama 24 tahun sejak Ika lahir sampai sekarang. Buat Ika, Mami adalah wanita yang paling pemberani, paling kuat, dan tegar yang pernah Ika tahu. Mami enggak pernah punya rasa takut untuk melakukan apa pun demi membela keluarga Mami. Kalau diingat pada saat kondisi terburuk keluarga kita dulu, Mami yang berhasil mengangkat kita dari keterpurukan itu, menjadi keluarga kita yang sekarang. Mami yang berjuang mati-matian untuk membela keluarga kita. Terima kasih banyak, Mi.

Terima kasih juga untuk pembelajaran yang Mami berikan buat Ika dari dulu, sampai sekarang. Seperti yang pernah Ika bilang ke Mami, dulu Ika benci banget sama Mami karena Mami galak, Ika banyak dilarang ini itu. Tapi Ika merasa beruntung di-didik seperti itu. Ika jadi tahu bagaimana harus bertanggung jawab,enggak lari dari masalah. Mami juga selalu bilang sama Ika untuk jadi orang yang sukses, dan perkataan itu yang selalu memicu Ika untuk melakukan yang terbaik, untuk Mami. Kalau Ika enggak dididik dengan cara Mami, mungkin Ika yang sekarang hanyalah seorang Ika yang manja, yang enggak mau kuliah susah-susah di UGM dan hanya kerja seadanya. Ika mungkin belum sukses sekarang, tapi Ika masih berusaha. Ika benar – benar mau membuat Mami bangga.

Sebenarnya masih banyak lagi pengorbanan yang Mami lakukan, yang akan panjang sekali kalau Ika jabarkan. Mungkin memang benar, kasih Ibu kepada anaknya sangat besar, dan Ika tahu kok, rasa sayang Ika sama Mami enggak seberapa dibandingkan kasih Mami sama Ika. Apalagi, Ika masih suka jutek sama Mami. Tapi yang perlu Mami tahu, Ika sayang Mami. Dan semua yang Ika lakukan, mulai dari berusaha untuk juara kelas, cumlaude sampai apa yang Ika lakukan saat ini, itu semua untuk membahagiakan Mami. I love you, I always do.

Baca Juga : Jalan Panjang Seorang Ibu

From: Johan

To: Ibu

Ibu, apa kabar? Aku tak tahu di sana seperti apa hidupmu. Apakah makananmu enak, Bu? Apakah tempat tidurmu empuk, Bu? Apakah tempat pelindungmu aman disana, Bu? Ibu, aku rindu. Ketika makananku hari ini bergizi, aku selalu berpikir apakah makananmu sama dengan aku hari ini? Ketika aku tertawa lepas hari ini, aku mencoba mengalihkan pikiranku dari keresahan hati memikirkanmu Ibu. Ibu tolong berhenti. Berhenti jatuhkan air mata surgamu. Berhenti jatuhkan keringatmu di bawah sinar mentari yang terik itu. Aku paham keputusan yang Ibu ambil merupakan keputusan yang terbaik. Terkadang aku merasa berdosa membiarkan Ibu pergi. Tapi aku juga harus sadar untuk kesejahteraan Ibu dalam mendidik anak-anakmu ini. Masih ingat 18 tahun lalu, Bu? Aku belum bisa memperdayakan otakku dengan semestinya. Tapi Engkau dengan sabar mengasahnya, Bu. Secara perlahan kamu lukiskan makna hidup indah di perjalananku hari ini. Ibu aku rindu Bu, Aku ingin cerita Bu kalau aku punya kabar gembira untuk ibu. Aku ingin ibu tersenyum lepas mendengarnya. Aku ingin memeluk eratmu lagi Bu. Terakhir aku memelukmu di sudut bandara itu. Ketika kamu pergi untuk meninggalkanku sementara. Kamu tahu Bu, jemariku terus menari seiring dengan air hujan yang tak lagi jatuh dari awan. Tembok rindu itu kokohnya luar biasa, Bu. Susah untuk aku runtuhkan. Tapi sudahlah, jika ku teruskan jemariku ini menari mungkin air hujan akan semakin deras jatuhnya. Aku ingin berkata bahwa Engkau adalah sosok Tuhan yang nyata. Padamu terletak kasih yang besar. Padamu melekat sayang yang luas untukku. Bahkan surga yang indahpun berada di telapak kakimu Bu. Namun bagiku Engkau lebih indah dari pada surga sekalipun. Ibu, semoga sehatmu, semangatmu dan doamu selalu ada untuk anakmu yang merindukan sosokmu ini. Umur panjangmu semoga selalu diberkahi Tuhan. Hanya Tuhan yang mengerti di mana Engkau berada saat ini, tapi aku selalu menikmatimu walau hanya sebatas udara yang ku hirup, aku pun mengagumimu walau sebatas tatapan mata fotomu ini. Namun, kamu harus tau aku mencintaimu sedalam panjatan doa yang selalu terucap untukmu. Terima kasih Ibu, I love you Ibu. selamanya aku akan mencintai Ibu, Hingga nanti aku tertidur lelap di bawah timbunan tanah.