Dewasa ini ada dua metode persalinan yang dapat dilalui seorang wanita untuk dapat melahirkan janin dalam kandungannya. Bentuk persalinan yang paling umum adalah bentuk persalinan pervaginam atau biasa disebut persalinan normal. Namun, apabila persalinan pervaginam tidak memungkinkan dilakukan atau jika ada kondisi yang membahayakan ibu dan janin yang mengharuskan untuk melahirkan janin segera, sementara untuk dapat melakukan persalinan pervaginam dibutuhkan proses yang cukup lama, maka dapat dilakukan persalinan dengan melakukan sayatan pada dinding perut, yang dikenal dengan seksio sesaria atau persalinan sesar. Dewasa ini, semakin banyak wanita yang menjalani seksio sesaria, baik karena alasan kondisi ibu maupun janin yang mendesak atau karena permintaan pasien itu sendiri. Lalu apakah seorang wanita yang sebelumnya pernah menjalani persalinan sesar boleh melahirkan dengan cara normal pada kehamilan berikutnya?

Syarat Persalinan Normal

Persalinan pervaginam atau janin lahir melalui jalan lahir merupakan metode persalinan yang alami. Persalinan ini dapat berjalan dengan baik jika memenuhi 3 hal yang utama yaitu, 3P “power, passage, and passanger.” Untuk dapat menghasilkan pembukaan yang maksimal maka diperlukan kekuatan kontraksi rahim yang teratur yang disebut dengan His. Selain untuk menghasilkan pembukaan jalan lahir, His ini juga diperlukan untuk mendorong janin agar dapat melalui jalan lahir. Artinya, selain diperlukan His yang cukup, juga diperlukan kesesuaian antara ukuran jalan lahir dan janin yang akan melaluinya. Adapun janin yang akan melalui jalan lahir ini tentunya harus mempunyai sumbu yang sama dengan sumbu jalan lahir. Apabila janin melintang, tentunya tidak bisa melewati jalan lahir karena sumbu jalan lahir tidak sama dengan sumbu janin. Lalu letak janin yang seperti apa yang dapat melalui jalan lahir? Umumnya bagian janin yang pertama kali masuk jalan lahir adalah bagian belakang kepala janin, dimana untuk dapat melalui jalan lahir ini sang janin harus melalui beberapa manuver mengikuti bentuk jalan lahir. Apabila letak janin melintang maka janin tidak mungkin lahir pervaginam, oleh karna itu perlu dilakukan seksio sesaria.

Kapan Persalinan Sesar Harus Dilakukan?

Pada dasarnya tindakan persalinan sesar dilakukan dalam upaya mencegah kematian ibu dan janin karena adanya komplikasi kehamilan. Komplikasi kehamilan yang dimaksud misalkan, adanya keadaan yang mengancam nyawa ibu seperti edema paru (paru-paru ibu terendam air, akibat pre-eklampsia atau gangguan jantung) yang dapat mengakibatkan terjadinya gagal nafas karena gangguan ambilan oksigen di paru, serta kemungkinan adanya keadaan gagal jantung atau kondisi lain yang mengancam ibu. Komplikasi tidak hanya didapatkan pada ibu, jika dalam proses persalinan didapatkan adanya keadaan yang mengancam janin, seksio sesaria juga dapat dilakukan. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, persalinan sesar merupakan upaya melahirkan janin dengan cara menyayat dinding perut dan rahim agar janin dapat dilahirkan. Tindakan ini juga memiliki beberapa risiko seperti kemungkinan tersayatnya organ dalam perut lain seperti usus dan kandung kemih, luka pada janin, risiko perdarahan, risiko infeksi, terjadinya perlengketan yang kemudian dapat menimbulkan nyeri, dan lain sebagainya. Asupan nutrisi yang cukup pada wanita yang telah menjalani persalinan sesar sangatlah penting untuk proses penyembuhan jaringan tersebut.

Persalinan Normal Setelah Sesar

Lalu apakah seorang wanita yang sudah menjalani persalinan sesar tidak bisa melahirkan secara normal pada kehamilan berikutnya ? Seperti halnya jika Anda memiliki luka karena tersayat atau jatuh, seringkali luka tersebut meninggalkan bekas atau jaringan parut. Demikian pula yang terjadi pada dinding rahim wanita yang pernah menjalani seksio sesaria atau persalinan sesar. Bekas jahitan dari persalinan sesar ini berisiko untuk robek jika dibandingkan dengan rahim wanita yang belum pernah menjalani seksio sesaria. Adapun risiko ini juga meningkat hingga dua kali lipat pada wanita yang sudah dua kali disesar. Semakin tebal jaringan yang disayat, semakin besar risiko untuk terjadinya ruptur/ robek spontan. Oleh karena itu, lokasi sayatan menjadi hal penting yang harus diketahui jika seseorang ingin melakukan persalinan normal pada kehamilan berikutnya. Umumnya lokasi sayatan di bagian bawah rahim mempunyai risiko yang lebih rendah jika dibandingkan dengan sayatan yang dilakukan pada bagian tengah rahim. Dalam hal ini, lokasi sayatan kulit tidak selalu sama dengan sayatan yang dilakukan pada dinding rahim. Umumnya dokter yang melakukan operasi akan memberikan edukasi terkait hal ini ke pasiennya setelah tindakan.

Hal Penting Setelah Persalinan Sesar

Penyembuhan jaringan sangat penting untuk mengurangi risiko terjadinya robek setelah persalinan sesar. Lalu berapa lama waktu yang diperlukan agar dapat terjadi proses penyembuhan yang optimal? Semakin dekat jarak antara tindakan sesar dengan kehamilan berikutnya, semakin besar risiko untuk terjadinya robekan secara spontan. Beberapa penelitian menunjukan bahwa  jarak kehamilan kurang dari 18 bulan memiliki risiko 2.3% terjadinya robekan rahim, sementara jarak kehamilan lebih dari 18 bulan memiliki risiko sekitar 1%. Selain itu, jika Anda ingin melakukan persalinan normal setelah sebelumnya pernah melakukan persalinan sesar harus dilakukan di sarana kesehatan yang memiliki ruang operasi dan unit transfusi darah yang siap dipergunakan jika dalam proses persalinan didapatkan adanya tanda robek. Robeknya rahim dapat mengakibatkan perdarahan yang masif dalam rahim yang dapat mengancam nyawa ibu dan janin.   Tidak hanya itu, persalinan sesar juga berisiko terjadinya plasenta akreta (ari-ari berakar terlalu dalam) sehingga dapat mengakibatkan perdarahan saat proses persalinan. Seram bukan? Oleh karena itu, penting bagi wanita yang memiliki bekas sesar untuk melakukan pemeriksaan kehamilan di rumah sakit dan melakukan USG, terutama setelah 8 bulan kehamilan.