Muntah sering kali mengganggu Anda ketika sedang menjalani terapi pemberian cairan rehidrasi oral (oral rehydration therapy/ORT). Jika dilakukan penanganan yang tepat saat gejala muntah muncul, sebenarnya bisa memberikan dampak yang baik tidak hanya untuk kenyamanan pasien tetapi juga dapat membantu memudahkan pemberian makan secara oral, menurunkan pemberian terapi intravena, dan menurunkan lama rawat inap. Ada beberapa hal yang sebaiknya Anda ketahui soal penanganan gejala muntah ini. Pada artikel berikut akan dibahas dua obat anti emetic (anti muntah) yakni domperidone dan ondansetron. Kedua obat muntah ini merupakan obat keras sehingga membutuhkan resep dokter untuk mendapatkannya. Sebelum memilih diantara keduanya, ketahui informasi berikut supaya Anda bisa lebih memahami perbedaan antara domperidone dan ondansetron.

1. Apa sih manfaat dari Domperidone atau Ondansetron ?

Domperidone merupakan merupakan turunan benzimidazole dan merupakan antagonis dopamin yang bekerja pada chemoreceptor trigger zone. Domperidone lebih tepat digunakan untuk mengatasi dispepsia, nyeri ulu hati, nyeri epigastrium, mual, dan muntah. Sedangkan, ondansetron merupakan antagonis serotonin (subtipe 3) yang disetujui sebagai terapi mual dan muntah karena kemoterapi, radioterapi, ataupun pasca-operasi. Secara manfaat kedua obat ini memiliki kesamaan yakni dapat digunakan untuk mengurangi mual dan muntah namun jika dilihat dari cara kerja dari kedua obat ini jelas memiliki perbedaan.

2. Bagaimana cara kerja masing-masing obat ini?

Domperidone bekerja dengan cara memblokir aktivitas dari reseptor dopamine yang terdapat di daerah chemoreceptor trigger zone dan di tingkat lambung. Pada kedua daerah tersebut merupakan tempat berikatan yang paling kuat dari reseptor dopamine seperti yang dijumpai di chemoreceptor trigger zone yang berada di luar pembuluh darah otak, yang mengatur keinginan untuk mual dan muntah. Dopamine sendiri merupakan sejenis neurotransmitter (zat yang menyampaikan pesan dari satu syaraf ke syaraf yang lain. Ondansetron bekerja secara selektif pada reseptor antagonis serotonin 5-HT3. Obat ini dapat bertindak sebagai antiemetic (anti mual) dengan penghambatan reseptor 5-HT3 yang ada terpusat di medullary chemoreceptor zone dan perifer (di saluran cerna). Serotonin sendiri sama seperti dopamine yang merupakan neurotransmitter. Dopamine dan serotonin sama-sama berasal dari asam amino tetapi untuk dopamine dari tirosin dan serotonin dari triptofan.

3. Adakah efek samping yang mungkin ditimbulkan ?

Efek samping yagn dimaksud adalah dampak dari obat yang tidak diinginkan. Efek samping dari domperidone adalah mulut kering, pusing, sakit kepala, mengantuk, nyeri pada payudara, cemas, denyut jantung meningkat dan diare. Untuk ondansetron, efek samping yang bisa timbul adalah sakit kepala dan pusing, mudah mengantuk, kepanasan, pusing ketika berdiri, mudah lelah, konstipasi, dan sakit perut. Namun apabila Anda mengalami efek samping yang lain dan berkepanjangan segera konsultasikan dengan dokter atau apoteker Anda.

4. Hal apa saja yang harus diperhatikan ?

Dosis merupakan hal yang harus diperhatikan sebab hal ini akan memengaruhi kesuksesan terapi Anda. Untuk dosis umum dari domperidone bagi orang dewasa adalah diberikan sebanyak 10 mg maksimal tiga kali sehari. Sedangkan untuk ondansetron dosis yang dianjurkan 8-32 mg per hari. Hal lain yang harus Anda cermati adalah apabila memiliki riwayat gangguan ginjal atau hati, sedang hamil dan menyusui, gangguan pada jantung serta memiliki riwayat alergi obat (misalnya ondansetron), pastikan untuk konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter ataupun apoteker Anda. Dari pembahasan tersebut, diharapkan Anda lebih mengerti bahwa meskipun kedua obat ini memiliki manfaat yang sama namun cara kerjanya berbeda. Tidak hanya itu, kedua obat tersebut juga digunakan untuk kondisi yang berbeda pula. Semoga informasi di atas dapat menambah pengetahuan Anda yaa!