Kanker payudara tetap menjadi kasus kanker yang paling umum terjadi pada perempuan di Indonesia, dengan perkiraan lebih dari 66.000 kasus baru setiap tahunnya. Tingginya angka kematian sering kali dikaitkan dengan diagnosis stadium lanjut dan keterlambatan akses terhadap pengobatan yang tepat.

 

Menanggapi masalah kesehatan nasional tersebut, Siloam menggandeng Roche Indonesia melalui kolaborasi yang betujuan "penurunan stadium penyakit" (disease down-staging). Diperlukan upaya sistematis untuk menangani pasien pada tahap yang lebih awal, di mana peluang kesembuhan jauh lebih tinggi.

 

Penandatanganan perjanjian kerja sama dilakukan oleh David Utama, Presiden Direktur Siloam International Hospitals dan Sanaa Sayagh, Presiden Direktur PT Roche Indonesia, Jumat 13 Februari 2026.

 

Kesepakatan ini bertujuan membangun ekosistem layanan onkologi komprehensif yang menjembatani inovasi medis global dengan praktik klinis lokal, sehingga pasien di Indonesia dapat mengakses standar pengobatan berstandar international di tanah air.

 

Dr. Edy Gunawan, CEO MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, menegaskan bahwa kemitraan ini adalah tentang menempatkan pasien sebagai pusat dari setiap keputusan klinis. "Di Siloam, misi kami adalah memberikan kepastian dan harapan bagi setiap pasien. Kami menyadari bahwa teknologi medis tercanggih sekalipun tidak akan efektif tanpa sistem pendukung yang kuat. Oleh karena itu, kami memimpin inisiatif ini untuk membangun ekosistem onkologi yang utuh, mulai dari deteksi dini, navigasi pasien, hingga akses terhadap terapi inovatif,” ungkapnya pada acara penandatanganan nota kesepahaman pada Jumat (13/2).

 

“Dengan menggandeng Roche sebagai mitra strategis, kami mempercepat terwujudnya standar perawatan kelas dunia ini di seluruh jaringan rumah sakit kami, sehingga pasien tidak perlu lagi mencari pengobatan ke luar negeri," tambah dr, Edy.

 

Kebutuhan Perawat Onkologi

Bentuk kerjasama yang akan dilakukan dalam jangka panjang antara lain dengan mencetak perawat-perawat onkologi, atau perawat yang khusus menangani pasien kanker.

 

Menurut dr. Edy. Saat ini jumlah perawat onkologi di Siloam Hospital maupun di Indonesia masih sangat terbatas. “Untuk melatih perawat onkologi tidak bisa dilakukan oleh internal, karena untuk mendapatkan sertfikiasi resmi harus melalui training dan pelatihan khusus. Dan pelatihan ini sayangnya masih terbatas,” jelasnya.

 

Perawat onkologi harus menguasai dasar-dasar kanker secara umum sehingga bisa memberikan perawatan yang baik untuk pasien kanker. Secara kompetensi idealnya juga dibagi sesuai jenis kankernya. Misalnya perawat onkologi kanker payudara, kanker kolorektal, kanker paru, leher dan kepala, dan sebagainya.

 

“Perawatan pasien kanker di MRCCC Siloam Hospital dilakukan oleh tim multidisiplin dan perawat onkologi ini masuk ke tim ini,” tambah dr. Edy.

 

MRCCC Siloam Hospital sendiri memiliki target, 70% perawatnya adalah perawat onkologi dalam 10 tahun ke depan dan setiap tahun mengirim perawat untuk melakukan training. Saat ini kompetensi perawat ditetapkan kolegium keperawatan.

 

Peningkatan standar layanan klinis

Berpusat pada pasien, kemitraan ini tidak hanya berfokus pada penyediaan obat, tetapi pada solusi holistik. Sanaa Sayagh, Presiden Direktur PT Roche Indonesia, turut menegaskan bahwa inovasi medis menjadi tidak berarti jika tidak dapat menjangkau pasien yang membutuhkannya.

 

Oleh karena itu, Roche berkomitmen penuh untuk bekerja sama dengan Siloam dalam meruntuhkan hambatan akses, baik itu tantangan finansial, administratif, termasuk meningkatkan kompetensi tenaga medis, guna memastikan solusi terapi inovatif yang dapat menyelamatkan lebih banyak nyawa di Indonesia saat ini.

 

"Roche bangga dapat mendukung visi Siloam dalam mentransformasi lanskap perawatan kanker di Indonesia. Selaras dengan prinsip kami 'doing now what patients need next', kami hadir untuk menggabungkan kekuatan dan keahlian, sehingga lebih banyak pasien Indonesia mendapatkan manfaat dari pengobatan kelas dunia dan perawatan kanker payudara yang optimal."