Data global menunjukkan, 400.000 anak usia 0-19 tahun terdiagnosis kanker per tahun atau 1000 anak terdiagnosis kanker per hari. Sedangkan dari data registrasi kanker di Indonesia antara tahun 2020-2024 terdata 6.623 anak terdiagnosis kanker (data dari 12 rumah sakit).
Kanker pada anak bukanlah penyakit yang dapat dicegah sepenuhnya. Namun, satu hal yang sangat menentukan harapan kesembuhan adalah deteksi dini. Semakin cepat penyakit dikenali dan ditangani, semakin besar peluang anak untuk sembuh dan kembali menjalani kehidupan yang sehat.
Guna mengedukasi masyarakat, terutama para ibu sebagai sosok yang berperan penting di keluarga, Yayasan Ongkologi Anak Indonesia (YOAI) menggandeng IWABRI (Ikatan wanita BRI) Region 6 Jakarta 1, mengadakan edukasi tentang deteksi dini kanker pada anak.
Rahmi L. Adi Putra sebagai Ketua YOAI mengataan, “Melalui seminar ini, kami berharap para peserta tidak hanya memperoleh informasi dari para dokter spesialis, tetapi juga menjadi agen edukasi di lingkungan masing-masing. Pengetahuan yang diperoleh hari ini semoga dapat diteruskan kepada keluarga, tetangga, teman, maupun masyarakat luas sehingga semakin banyak anak yang mendapatkan kesempatan untuk didiagnosis lebih awal dan memperoleh pengobatan yang tepat.”
Kanker pada anak tidak dapat dicegah namun dapat diobati

Dalam seminar YOAI dan IWABRI, dokter spesialis anak konsulan hematologi onkologi, dr. Catur Sapariyanto, Sp.A, Subsp. H.Onk. (K) memaparkan, angka kesembuhan kanker pada anak sangat bervariasi tergantung berbagai jenis faktor, seperti biologis kanker, tingkat pendidikan, status sosioekonomi, kepercayaan adat istiadat dan sistem penunjang kesehatan.
“80% anak dengan kanker dapat sembuh sepenuhnya di negara maju, tapi di negara menengah dan miskin hanya 20% yang pasien kanker anak yang bisa sembuh, bisanya mereka yang terdeteksi di stadium awal,” jelas dr. Catur.
Menurut dr. Catur, faktor keterlambatan diagnosis memegang peran besar menyumbang angka kesintasan yang rendah di negara kita. Selain itu ada faktor lain seperti ketidakmampuan untuk mendapatkan diagnosis yang akurat, terapi yang tidak adekuat dan tidak dapat diakses, pengabaian pengobatan, atau faktor efek samping toksik obat kemoterapi.
“Kanker memang hampir tidak ada gejala pada stadium dini. Pada anak yang lebih kecil, mereka tidak dapat mengutarakan keluhan. Ditambah minimnya pengetahuan orangtua tentang gejala dan tanda kanker pada anak mengakibatkan kebayakan datang ke fasilitas kesehatan sudah di tahap lanjut,” tambah dr. Catur.
Dari jenis kanker pada anak yang paling sering ditemui, tiga teratas adalah leukemia, retinoblastoma, dan osteosarkoma. Selebihnya ada kanker ginjal, kanker kelenjar getah bening, hingga tumor dan keganasan pada otak.
Dokter spesialis bedah saraf, Dr.dr. Andri Anugerah K., Sp.BS(K), M.Kes., Brigadir Jenderal TNI (Purn) dalam acara yang sama memberikan paparan tentang Tanda dan Gejala Tumor Otak pada Anak. Tumor otak adalah pertumbuhan sel abnormal dalam otak, dapat jinak atau ganas, dan menekan bagian otak lain dan memicu gejala klinis. Prevalensi tumor otak secara global pada anak sekitar 3,6 kasus per 100.000 anak tiap tahun, dan166.925 kasus baru tahun 2020 di Asia. Menurut jurnal Nature (2024), angkanya diprediksi naik 39% pada tahun 2040.
Ada beberapa jenis tumor otak pada anak, di antaranya medulloblastoma, glioma (Astrositoma, dll), ependimoma, dan pineoblastoma.
Gejala Umum Tumor Otak pada Anak
“Orang tua harus waspada ketika menjumpai tanda dan gejala umum seperti sakit kepala pagi hari, mual dan muntah, pandangan kabur, kejang, ada perubahan perilaku dan gangguan keseimbangan, misalnya anak sering jatuh tanpa sebab. Namun gejala yang harus dicurigai adalah ketika gejala makin berat dalam beberapa minggu, tidak membaik dengan obat biasa, dan ada perubahan belajar dan aktivitas harian,” jelas dr. Andri.
Ketika mendapati gejala tersebut, orang tua wajib membawa anak ke fasilitas kesehatan untuk menjalani pemeriksaan lengkap, berupa pemindaian otak baik itu MRI/CT Scan untuk melihat lokasi tumor. Pemeriksaan penunjang berupa biopsi kadang diperlukan untuk pemeriksaan histologi/genetik.
Dengan terapi yang tepat, angka kesintasan tumor otak pada anak sangat tergantung pada jenis tumornya. “Tumor otak jenis glioma memiliki angka kesintasan dalam 5 tahun paling rendah, hanya 18% dibandingkan meduloblastoma atau ependyoma, masing-masing bisa mencapai 66% dan 57%,” tambah dr. Catur.
Dr. Catur berpesan agar orang tua tidak mengabaikan gejala sekecil apapun dan segera membawa anak untuk konsultasi ke dokter. Mengingat, kanker pada anak bukanlah penyakit yang dapat dicegah sepenuhnya. Namun, satu hal yang sangat menentukan harapan kesembuhan adalah deteksi dini. Semakin cepat penyakit dikenali dan ditangani, semakin besar peluang anak untuk sembuh dan kembali menjalani kehidupan yang sehat.
Linda Agum Gumelar sebagai Ketua Dewan Pembina YOAI menambahkan, “Anak-anak adalah harapan bangsa. Mereka berhak tumbuh sehat, belajar, bermain, dan meraih cita-citanya. Karena itu, menjaga kesehatan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab keluarga, tetapi juga menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai bagian dari masyarakat.”
