Penyakit

Demam Kuning (Yellow Fever)

Yellow fever atau demam kuning adalah infeksi virus yang disebarkan oleh jenis nyamuk tertentu, terutama nyamuk Aedes Aegypti, yang terinfeksi. Infeksi ini banyak menyerang orang-orang yang tinggal di area sub-sahara Afrika, Amerika Selatan, dan Karibia. Pada kasus ringan, demam kuning menyebabkan demam, mual, dan muntah. Namun masalah kesehatan ini dapat menjadi lebih serius, hingga menyebabkan permasalahan pada jantung, hati, dan ginjal yang disertai dengan perdarahan. Sebanyak 50% orang terpaksa tewas akibat mengalami demam kuning berat.

Melakukan vaksin yellow fever sebelum bepergian ke area endemik virus dapat mencegah tertular penyakit tersebut. Berkonsultasilah kepada dokter Anda setidaknya 10 hari sebelum waktu kepergian, meski akan lebih baik dilakukan 3-4 minggu sebelumnya. Satu kali dosis vaksin yellow fever bisa memberikan proteksi selama 10 tahun. Vaksin aman diberikan bagi usia 9 bulan sampai 60 tahun. Jika anggota keluarga Anda berusia di bawah 9 bulan, berusia di atas 60 tahun, atau memiliki sistem imun lemah, maka konsultasikanlah terlebih dahulu kepada dokter sebelum melakukan vaksinasi.

Langkah pencegahan berikutnya yaitu memproteksi diri Anda dari gigitan nyamuk. Beberapa hal yang bisa dilakukan adalah:

  1. Sebisa mungkin mengurangi aktivitas di luar ruangan.
  2. Kenakan baju lengan panjang dan celana panjang saat berada di area yang banyak nyamuk.
  3. Gunakan pendingin ruangan serta tambahkan kasa untuk menutupi jendela dan lubang ventilasi.
  4. Jika tidak ada kasa untuk menutupi jendela dan lubang ventilasi, maka gunakan kelambu.
  5. Mengusapkan losion anti-nyamuk sesuai kebutuhan. Jangan lupa perhatikan aturan pemakaiannya.

Pada periode inkubasi, atau selama 3-6 hari pertama sesudah terinfeksi demam kuning, Anda tidak akan merasakan gejala apapun. Setelah itu, infeksi akan masuk ke dalam fase akut. Lalu, penderita akan memasuki fase toksik, yang pada beberapa kasus bisa mengancam jiwa.

Pada fase akut penderita akan mengalami:
- Demam.
- Sakit kepala.
- Nyeri otot, terutama di bagian punggung dan lutut.
- Sensitif terhadap cahaya.
- Mual dan muntah.
- Kehilangan nafsu makan.
- Kelelahan.
- Mata, wajah, dan lidah memerah.

Sedangkan pada fase toksik, penderita akan mengalami:
- Kulit dan mata menjadi kekuningan (jaundice).
- Nyeri pada perut dan muntah, terkadang disertai darah.
- Frekuensi buang air kecil berkurang.
- Perdarahan dari hidung, mulut, dan mata.
- Bradikardi atau penurunan detak jantung secara drastis.
- Gagal ginjal dan gagal hati.
- Disfungsi otak, termasuk delirium, kejang, dan koma.

Virus demam kuning ditularkan kepada primata, baik manusia atau non-manusia, melalui gigitan nyamuk Aedes atau Haemagogus, yang terinfeksi. Nyamuk memperoleh virus dari primata yang terinfeksi, kemudian menyebarkan virus ke primata lainnya. Secara umum, jenis primata yang paling banyak terinfeksi adalah manusia dan monyet. Ketika nyamuk menggigit primata yang terinfeksi demam kuning, virus akan masuk ke dalam aliran darah lalu bersirkulasi, sebelum tersimpan di kelenjar liur. Dan saat nyamuk menggigit primata lainnya, virus akan masuk ke dalam aliran darah primata tersebut, sehingga menyebabkan demam kuning.

Mendiagnosis demam kuning cukup sulit dilakukan jika hanya mengacu kepada gejala-gejala yang dialami. Pasalnya, gejala infeksi ini hampir mirip dengan masalah malaria, demam tifoid, dan DBD. Agar lebih yakin, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik serta bertanya tentang riwayat perjalanan pasien ke negara yang memiliki kasus demam kuning. Lalu, akan dilakukan pemeriksaan laboratorium. Jika pasien mengalami demam kuning, maka virus akan terlihat pada hasil tes darah.

Tidak ada obat antivirus spesifik yang dapat menyembuhkan demam kuning. Tim medis hanya mampu memberikan terapi suportif, meliputi pemberian cairan dan oksigen, mengawasi tekanan darah, memberikan transfusi darah, melakukan cuci darah jika pasien mengalami gagal ginjal, maupun menangani infeksi yang berkembang. Sebagian orang juga akan menerima transfusi plasma darah.

Dokter akan memberikan obat penghilang rasa sakit dan penurun demam, serta melarang pengonsumsian obat-obatan tertentu, seperti aspirin, ibuprofen, dan naproxen, yang mampu meningkatkan risiko perdarahan. Selain itu, pasien akan diminta untuk beristirahat dan melindungi diri dari gigitan nyamuk untuk mencegah menularkan penyakit kepada primata lainnya.

Direktori

    Proses...