Penyakit

Peradangan pada Tendon Achilles (Achilles Tendinitis)

Achilles tendinitis (peradangan pada tendon Achilles) merupakan suatu bentuk respons tubuh karena adanya inflamasi pada bagian tendon Achilles, yang menyebabkan rasa nyeri dan kekakuan pada bagian tumit. Tendon Achilles merupakan bagian tendon terbesar, yang menghubungkan otot betis dan tulang tumit (calcaneus). Ini berguna untuk aktivitas berjalan, lari, dan melompat.

 

Walaupun tendon Achilles dapat menahan tekanan saat berjalan dan melompat dengan baik, namun tendon ini memiliki kecenderungan untuk mengalami tendinitis. Hal tersebut disebabkan karena adanya penggunaan tendon Achilles secara berlebih, seperti olahraga yang terlalu berat atau proses degeneratif.

 

Ada 2 jenis Achilles tendinitis, yaitu non-insertional Achilles tendinitis dan insertional tendinitis. Kedua hal tersebut dibedakan berdasarkan bagian tendon mana yang mengalami inflamasi. Pada kondisi non-insertional Achilles tendinitis, inflamasi terjadi pada bagian tendon di atas tulang tumit atau tendon bagian tengah. Kondisi ini biasanya terjadi pada usia muda dan orang aktif bergerak.

 

Pada kondisi insertional Achilles tendinitis, inflamasi terjadi pada tendon yang melekat di tulang tumit. Biasanya, disertai dengan tonjolan. Kondisi ini dapat terjadi kapanpun dan pada siapapun, walaupun tergolong orang yang tidak bergerak aktif. Pengerasan (kalsifikasi) serat tendon yang rusak dapat terjadi pada kedua jenis Achilles tendinitis.

Pencegahan yang dapat dilakukan untuk meminimalkan risiko terjadinya Achilles tendinitis, antara lain:

  1. Pakailah sepatu yang nyaman digunakan, terutama saat sedang berjalan lama dan berolahraga. Hindarilah menggunakan sepatu berhak tinggi dalam waktu yang lama.
  2. Lakukan pemanasan sebelum melakukan olahraga.
  3. Tingkatkan intensitas olahraga secara bertahap, agar tubuh dapat beradaptasi dahulu. Hindarilah peningkatan intensitas olahraga secara tiba-tiba atau dalam waktu yang singkat.
  4. Lakukan peregangan otot kaki setelah melakukan aktivitas yang melibatkan otot kaki, seperti berjalan, berlari, melompat, maupun penggunaan sepatu berhak tinggi dalam waktu yang lama.

Gejala umum yang sering terjadi pada kondisi Achilles tendinitis meliputi:

  • Nyeri dan kaku sepanjang tendon Achilles, terutama saat pagi hari.
  • Nyeri sepanjang tendon atau tumit bagian belakang, dan semakin parah saat beraktivitas.
  • Nyeri yang hebat 1 hari setelah berolahraga.
  • Terjadi penebalan pada tendon.
  • Terjadi pembengkakan pada tendon Achilles sepanjang waktu. Akan semakin parah jika sepanjang hari melakukan aktivitas.
  • Jika sering terjadi bunyi “pop” pada bagian belakang betis atau tumit, kemungkinan terjadi sobekan pada tendon Achilles. Dianjurkan untuk segera berkonsultasi kepada dokter.

Semua jenis Achilles tendinitis tidak secara langsung terkait dengan suatu cedera yang spesifik. Pada umumnya, kondisi ini terjadi karena adanya tekanan pada tendon yang terjadi berulang kali. Umumnya hal ini terjadi ketika memaksa tubuh beraktivitas terlalu berlebihan, terlalu sering, maupun terlalu cepat.

 

Namun, ada beberapa faktor kondisi yang memungkinkan menyebabkan perkembangan kondisi menjadi tendinitis, meliputi:

  • Pertambahan jumlah frekuensi dan intensitas aktivitas secara mendadak. Contohnya pertambahan jarak lari secara signifikan yang dilakukan setiap hari, tanpa melakukan adaptasi terlebih dahulu.
  • Otot betis yang menegang secara tiba-tiba saat melakukan program olahraga yang menyebabkan otot betis mengalami kontraksi.
  • Tulang yang mendesak, yaitu adanya pertumbuhan tulang ekstra pada bagian tumit yang merupakan tempat pelekatan tendon Achilles. Ini akan mendesak tendon Achilles, sehingga menimbulkan rasa nyeri.

Penegakan diagnosis Achilles tendinitis dilakukan berdasarkan penilaian dari dokter. Beberapa parameter penilaian yang dilakukan, meliputi:

  1. Adanya pembengkakan sepanjang tendon Achilles atau pada belakang tumit.
  2. Penebalan atau pembesaran tendon Achilles .
  3. Adanya tulang yang menonjol pada tendon bagian bawah belakang tumit (Achilles tendinitis insertional).
  4. Tingkat rasa nyeri pada area tendon saat disentuh.
  5. Nyeri pada bagian otot tendon tengah (untuk kondisi tendinitis non-insertional) dan pada bagian tendon bawah atau belakang tumit (untuk kondisi tendinitis insertional).
  6. Keterbatasan pergerakan pada bagian pergelangan kaki. Contohnya penurunan kemampuan fleksibilitas pada telapak kaki.

 

Selain penilaian klinis, penegakan diagnosis juga dilakukan dengan pertimbangan hasil tes X-ray dan MRI (Magnetic Resonance Imaging). Hasil tes X-ray dapat memberikan gambaran kondisi tulang secara lebih jelas. Gambaran ini dapat digunakan untuk mengetahui jenis Achilles tendinitis yang terjadi, non-insertional atau insertional, serta ada tidaknya pengerasan (kalsifikasi) pada serat tendon yang rusak.

 

Sedangkan MRI dilakukan bukan untuk menegakan diagnosis, namun untuk mengetahui tingkat keparahan pada tendon Achilles. Informasi MRI digunakan untuk menentukan tindakan operasi yang akan dilakukan oleh dokter berdasarkan tingkat keparahan luka pada tendon tersebut.

Pada dasarnya, penanganan Achilles tendinitis dapat dibedakan menjadi 2, yaitu terapi tanpa pembedahan dan terapi dengan pembedahan.

 

a. Terapi tanpa pembedahan

Pada banyak kasus, Achilles tendinitis dapat sembuh tanpa adanya tindakan pembedahan, walaupun membutuhkan waktu yang cukup lama. Terapi tanpa pembedahan dapat dikatakan berhasil jika gejala Achilles tendinitis tidak lagi muncul atau muncul setelah lebih dari 6 bulan.

 

Terapi tanpa pembedahan biasanya dilakukan dengan terapi farmakologi, yaitu memberikan obat-obatan dan terapi suportif. Jenis obat-obatan yang dapat diberikan ialah antiinflamasi nonsteroid (NSAIDs), untuk meredakan inflamasi dan mengurangi rasa nyeri.

 

Sedangkan terapi suportif dilakukan dengan mengistirahatkan otot kaki, membatasi aktivitas yang menitikberatkan pada otot kaki dalam waktu lama. Kompres dengan es untuk meminimalkan peradangan, lakukan perendaman dengan air panas (contrast baths) untuk merelaksasikan otot dan melancarkan aliran darah, serta lakukan peregangan otot betis hingga tumit (stretching). Jika tidak terjadi perbaikan gejala klinis setelah 3 bulan, konsultasikan kepada dokter untuk mendapatkan fisioterapi dengan terapis yang tersertifikasi.

 

b. Terapi dengan pembedahan

Jika tidak terjadi perbaikan gejala klinis setelah terapi lebih dari 6 bulan, maka terapi pembedahan dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan terapi. Terapi Achilles tendinitis dengan pembedahan dilakukan atas pertimbangan oleh dokter spesialis. Konsultasikan kepada dokter terkait.

Direktori

    Proses...