Penyakit

Irritable Bowel Syndrome

Pixabay.com

Irritable Bowel Syndrome (IBS) merupakan gangguan fungsional pada sistem pencernaan yang ditandai dengan nyeri atau sensasi tidak nyaman pada perut, disertai kembung, kram, dan adanya perubahan pola buang air besar setidaknya selama 3 bulan (diare dan konstipasi). Penyakit ini bersifat kronis, seringkali hilang-timbul, dan terkadang berlangsung dalam jangka waktu yang lama.

Pixabay.com

Irritable Bowel Syndrome (IBS) sangat sulit untuk dicegah. Bahkan, beberapa sumber menjelaskan bahwa IBS tidak bisa dicegah. Namun dengan menerapkan pola hidup sehat, setidaknya bisa berperan dalam meringankan gejala yang terjadi dan juga menunda kekambuhannya. Karena gejala IBS bisa berbeda-beda pada setiap orang, pencegahan yang dilakukan pun disesuaikan dengan gejala dan pemicunya. Ketika telah diketahui pemicunya, maka hindarilah.

 

Untuk pasien IBS dengan gejala konstipasi atau sembelit, beberapa makanan dan minuman bisa memicu dan memperparah gejala sembelit. Jadi, sebaiknya hindari mengonsumsi roti, sereal, makanan olahan seperti keripik dan kue kering, kopi, minuman bersoda, alkohol, makanan dengan kandungan protein tinggi, serta produk makanan dari olahan susu terutama keju.

 

Untuk pasien IBS dengan gejala diare, sebaiknya hindari mengonsumsi fiber (serat) terlalu banyak. Misalnya makanan dan minuman yang mengandung cokelat, alkohol, kafein, fruktosa atau sorbitol, serta minuman bersoda. Pasien IBS sebaiknya juga menghindari makan dalam jumlah besar, makanan yang digoreng dan berlemak, maupun makanan yang menghasilkan gas, seperti ubi, kentang, dan kacang-kacangan. Pasien IBS harus menghindari stres, rasa cemas yang berlebih, dan membatasi penggunaan obat-obatan tertentu, seperti antibiotik dan senyawa sorbitol.

Pixabay.com

Gejala-gejala IBS meliputi perubahan pola buang air besar, seperti diare, sembelit, kembung, peningkatan kadar gas dalam saluran pencernaan, rasa nyeri atau tidak nyaman di perut, dan terdapat mukus di feses. Buang air besar bisa lebih sering terjadi (diare) atau lebih jarang terjadi (sembelit) dari biasanya. Misalnya, pasien IBS bisa mengalami buang air besar lebih dari 3 kali sehari atau kurang dari 3 kali dalam seminggu.

 

Ukuran dan konsistensi feses pun bisa berbeda. Bisa lebih keras dengan ukuran kecil. Berbentuk panjang seperti pensil, atau encer dan berair. Gejala-gejala IBS akan terasa lebih berat sebelum buang air besar dan bisa membaik setelah buang air besar. Pasien IBS terkadang merasakan keinginan yang kuat dan tak tertahankan untuk segera buang air. Ciri khas lainnya adalah perasaan seperti tidak tuntas walaupun sudah melakukan buang air besar.

Pixabay.com

Penyebab dari IBS belum sepenuhnya diketahui. Berbagai sumber penelitian mengaitkan IBS dengan berbagai faktor penyebab seperti faktor diet atau makanan, mutasi gen, faktor psikososial (stres kronis), infeksi saluran cerna, dan sistem kekebalan tubuh. Hipersensitivitas visceral merupakan salah satu faktor utama yang berperan pada patofisiologi IBS dan mencetuskan gejala IBS.

 

Beberapa penelitian juga membahas mengenai ketidakseimbangan fungsi 5HT (hidroksi-triptamin) karena gangguan sekresi dan ambilan kembali sereotonin oleh SERT (serotonin reuptake transporter) pada gangguan fungsional terutama IBS. Serotonin sendiri berfungsi pada pengaturan gerakan peristaltik saluran cerna, serta sensasi dan sekresi gastrointestinal.

 

Pada sebagian pasien, gejala IBS muncul dalam waktu 6 sampai 12 bulan setelah infeksi saluran pencernaan. Peningkatan pelepasan mediator seperti nitric oxide, interleukin, histamin, dan protease bisa merangsang sistem saraf di sekitar usus, sehingga menyebabkan gangguan gerakan peristaltik saluran cerna. Infeksi pada saluran cerna bisa menyebabkan hilangnya keseimbangan bakteri flora normal. Perubahan jumlah dan kualitas bakteri dapat menyebabkan disfungsi motorik dan sensorik yang melandasi gejala IBS. Faktor genetik pada beberapa penelitian juga dikaitkan sebagai salah satu penyebab IBS.

Pixabay.com

Untuk menegakkan diagnosis IBS, bisa merujuk pada kriteria ROMA III, yaitu ketika seseorang mengalami nyeri abdomen atau sensasi tidak nyaman berulang paling tidak selama 3 hari dalam satu bulan pada 3 bulan terakhir, dengan 2 atau lebih gejala berikut:

  • Gejala terasa lebih ringan setelah buang air besar.
  • Terdapat perubahan pola dan frekuensi buang air besar.
  • Terdapat perubahan bentuk atau tampilan feses.

Kriteria diagnosis akan terpenuhi dalam 3 bulan terakhir, dengan  gejala muncul setidaknya 6 bulan sebelum diagnosis.

 

IBS bisa dibagi menjadi subkelas sebagai berikut:

  1. IBS dengan diare (IBS-D): Feses lembek atau cair ≥ 25% waktu dan feses padat atau bergumpal < 25>
  2. IBS dengan konstipasi (IBS-C): Feses padat atau bergumpal ≥ 25% waktu dan feses lembek atau cair
  3. IBS dengan campuran kebiasaan buang air besar atau pola siklik (IBS-M): Feses padat atau bergumpal dan lembek atau cair ≥ 25% waktu, ditemukan pada satu pertiga kasus

*Catatan: 25% waktu adalah 3 minggu dalam 3 bulan.

 

Untuk meningkatkan akurasi diagnosis IBS, bisa dilakukan pemeriksaan penunjang, seperti tes darah rutin, serologi penyakit celiac, radiologi abdomen, kolonoskopi, tes pernapasan untuk ekslusi intoleransi laktosa, dan lainnya. Karena IBS merupakan kelainan dengan patofisiologi yang heterogen, gejala individual saja terkadang tidak cukup untuk menegakkan diagnosisnya. Diagnosis pembanding bisa dilakukan untuk meyakinkan dalam penegakan diagnosis IBS, meliputi kelainan gastrointestinal (Celiac sprue, adenokarsinoma kolon, penyakit infeksi, intoleransi laktosa dll), kelainan nongastrointestinal (depresi, diabetes mellitus, penyakit ginekologi, disfungsi tiroid, efek samping obat dll), serta kelainan fungsional lain (sindrom disfungsi anorektal, kembung, konstipasi fungsional, diare fungsional, dispepsia fungsional, dll)

Pixabay.com

Tatalaksana farmakoterapi untuk IBS dengan gejala dominan nyeri memerlukan antispasmodik. Otilonium bromide adalah salah satu contoh antispasmodik yang memiliki sifat antimuskarinik dan penghambat kanal kalsium yang terbukti dapat mengurangi gejala spasme pada otot polos saluran cerna. Agen antikolinergik seperti hiosin juga sering digunakan sebagai profilaksis nyeri perut akibat spasme.

 

Selain antimuskarinik dan antikolinergik, obat dengan golongan muscle relaxant juga bisa menjadi pilihan, seperti mebeverine dan pinaverium. Antidepresan trisiklik dan penghambat ambilan serotonin juga dapat digunakan sebagai terapi IBS karena efek hiperalgesianya. Karena salah satu hipotesis penyebab IBS berhubungan dengan ketidakseimbangan bakteri flora normal, maka probiotik juga bisa menjadi pilihan untuk terapi IBS. Secara umum, terapi IBS selalu disesuaikan dengan gejala yang terjadi.

 

IBS dengan gejala konstipasi bisa diberikan diet tinggi serat dan sebaliknya. Sedangkan IBS dengan gejala diare akan efektif diberikan antidiare. Secara keseluruhan, tatalaksana IBS juga tidak cukup hanya dengan terapi farmakologi saja. Diperlukan pendekatan psikososial dan modifikasi gaya hidup untuk dapat meningkatkan keberhasilan terapi IBS.

Direktori

    Proses...