Penyakit

Inkontinensia Urine

Pexels.com

 

Pada dasarnya inkontinensia urine (IU) bukanlah sebuah penyakit yang mengancam jiwa, melainkan sebuah gejala. Inkontinensia Urine (IU) merupakan salah satu keluhan berkemih yaitu keluarnya urine yang tidak dapat dikendalikan atau tanpa disadari (involunter), akibat gangguan fungsi saluran kemih bagian bawah yang dipicu oleh sejumlah penyakit, sehingga menyebabkan pasien berkemih pada situasi yang berbeda.

Selain IU, dikenal juga istilah overactive bladder syndrome (OAB) yang merupakan desakan untuk segera berkemih (urgensi) dengan atau tanpa IU, serta biasanya disertai sering berkemih (frekuensi) dan nokturia (buang air kecil yang luar biasa sering pada malam hari). OAB yang disertai adanya IU disebut juga sebagai “OAB basah”, sedangkan OAB tanpa disertai IU sering disebut sebagai “OAB kering”.


Ada beberapa tipe IU yaitu:
(1) IU urgensi, yaitu keluhan keluarnya urine yang tidak terkendali (ngompol) didahului adanya desakan untuk segera berkemih. Kasus ini paling sering dijumpai pada pasien usia lanjut.
(2) IU stress, yaitu keluhan keluarnya urine secara tidak terkendali (ngompol) disebabkan peningkatan tekanan intra-abdominal dikarenakan aktivitas fisik, seperti batuk, bersin, tertawa, naik tangga, atau aktivitas fisik lainnya.
(3) Mixed Inkontinensia, yaitu keluhan keluarnya urine secara tidak terkendali akibat adanya desakan untuk segera berkemih, juga aktivitas fisik yang meningkatkan tekanan intra-abdominal. IU jenis ini merupakan kombinasi antara IU urgensi dan IU stress.
(4) IU Fungsional, yaitu keluhan keluarnya urine secara tidak terkendali (ngompol) yang tidak disebabkan oleh adanya disfungsi organ dan saraf saluran kemih, misalnya karena infeksi saluran urine atau penyakit-penyakit psikologis.
(5) IU Total, yaitu keluhan keluarnya urien yang tidak terkendali akibat kandung kemih yang tidak bisa menampung urine sama sekali, sehingga urine akan langsung dialirkan keluar.

Pexels.com

 

IU merupakan kondisi yang banyak dialami di masyarakat. Munculnya kondisi IU ini dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko. Terdapat 2 jenis faktor risiko, yaitu:
1. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi, seperti penggunaan obat-obatan, gaya hidup, dan penyakit penyerta, seperti infeksi dan inflamasi saluran kemih.
2. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi, seperti faktor genetik, penambahan usia, dan kehamilan.

Pencegahan IU dapat dilakukan dengan melakukan modifikasi gaya hidup, seperti mengendalikan indeks massa tubuh agar terhindar dari obesitas, menjaga kebersihan sanitasi untuk menghindari adanya risiko infeksi saluran kemih, mengonsumsi makanan berserat, serta mengurangi konsumsi minuman yang dapat mengiritasi kandung kemih (misalnya kopi).

Pexels.com

 

Gejala IU berbeda-beda untuk masing-masing jenis IU itu sendiri. Namun, secara garis besar manifestasi klinis terjadinya IU antara lain seperti:

  1. Peningkatan frekuensi berkemih.
  2. Keluarnya urine saat melakukan aktivitas yang meningkatkan tekanan
    intra-abdominal, seperti batuk tanpa disertai adanya rasa ingin berkemih.
  3. Munculnya keinginan untuk berkemih, namun tidak dapat ditahan (urine keluar
    sebelum sampai di WC).
  4. Keluarnya urine tanpa disertai adanya keinginan untuk berkemih maupun peningkatan tekanan intra-abdominal, seperti batuk.

Pexels.com

 

Pada dasarnya penyebab terjadinya inkontinensia urine sangat beragam berdasarkan jenis IU masing-masing. Secara garis besar penyebab IU mulai dari pola kebiasaan sehari-hari hingga adanya kondisi medis yang mendasarinya. Pemicu adanya IU sering dikenal dengan singkatan DIAPERS.

D: Delirium (kondisi akut penurunan perhatian, kognitif, dan berfluktuasi, yang disebabkan oleh kondisi medis seperti demensia dan diabetes, atau obat-obatan yang menyebabkan kegagalan kendali kandung kemih, biasanya terjadi pada usia di atas 65 tahun).

I: infeksi dan inflamasi.

A: Atrophy vaginal tissue (kondisi dinding vaginal yang menipis, kering, dan terjadi inflamasi yang disebabkan adanya penurunan level estrogen. Umumnya terjadi pada wanita menopause).

P: Psychological, yaitu aktivitas yang menyebabkan peningkatan tekanan intra-abdomina, seperti batuk, bersin, dan olahraga ekstrem, serta melingkupi kondisi-kondisi medis kejiwaan yang memicu terjadinya inkontinensia, seperti deperesi. Pharmacology, yaitu terapi obat-obatan yang berdampak pada proses produksi, penyimpanan dan penyaluran urine. Contohnya adalah diuretic (furosemid), ACE inhibitor, sedative, dan obat anti-depresi.

E: Excessive urine output (kondisi ketika seseorang memiliki produksi urine berlebih).

R: Restricted mobility (kondisi yang menyebabkan terjadinya penurunan mobilitas untuk mendapatkan akses toilet).

S: Stool impaction, sacral nerve root pathology (merupakan impaksi tinja yang dapat memicu urgensi atau overflow inkontinensia).

Pexels.com

 

Secara garis besar, diagnosis dari dokter didasarkan pada anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang seperti hasil laboratorium.

  • Anamnesis: Dilakukan dengan menggali informasi manifestasi klinis yang dirasakan pasien, seperti frekuensi dan durasi berkemih, adanya kebiasaan menahan berkemih, riwayat trauma, bedah dan radiasi, riwayat gangguan neurologi, usia, serta gaya hidup pasien.
  • Pemeriksaan fisik: Setelah penggalian informasi didapatkan, pemeriksaan fisik yang dilakukan antara lain pemeriksaan abdomen untuk memeriksa kandung kemih penuh atau kosong, pemeriksaan perineal termasuk sensasi, pemeriksaan rektum, pemeriksaan genitalia externa, pemeriksaan vagina, pemeriksaan stress test untuk inkontinensia, maupun pemeriksaan neurologi.
  • Laboratorium: Pada pemeriksaan laboratorium, beberapa parameter yang diuji umumnya meliputi tes dipstick urine, pemeriksaan kultur bakteri, sensitivitas antibiotic, sitology urine, dan urine midstream. Parameter tersebut dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya infeksi, inflamasi, dan kondisi neoplasia.

Pexels.com

 

Terapi penangan IU dapat dibedakan menjadi terapi non-medikamentosa, terapi medikamentosa, dan terapi pembedahan. Terapi non-medikamentosa meliputi edukasi intervensi gaya hidup, seperti menjaga berat badan supaya tidak berebihan, mengonsumsi makanan berserat, mengurangi konsumsi minuman yang dapat mengiritasi kandung kemih (misalnya kopi).

Selain itu, terapi non-medikamentosa dapat dilakukan dengan melakukan latihan otot dasar panggul, latihan kandung kemih, berkemih dini, atau stimulasi listrik untuk kasus IU urgensi. Terapi medikamentosa dilakukan dengan pemberian antimuskarinik dan antikolinergik. Untuk penatalaksanaan terapi pembedahan meliputi kolposuspensi retropubik atau prosedur ambin suburetra. Penentuan terapi penatalaksanaan ini, dilakukan dengan berkonsultasi dengan dokter.

Direktori

    Proses...